Anti Petir buat CCTV


Peralatan anti petir yang dipasang pada kamera CCTV

CCTV Cam on Living Room

Capek juga saban ada Gelap Ngampar alias Geledeg, maka buru-buru kami mematikan peralatan listrik seperti Modem, Laptop dan CCTV.

Lalu kami coba memasang semacam arrester. Yang katanya mampu menahan arus sampai Sepuluh Ribu Ampere.

Kami ada di Yogya, sementara peralatan ada di Bekasi, semua kejadian diluar maupun dalam rumah bisa dipantau sehingga lampu masih hidup, TV lupa dimatikan, Kompor masih menyala segera bisa diketahui.

Saya mengakses melalui smartphone.

Jumat 17 Mei jam 17:30 terjadi petir menyambar di sekitar rumah di Bekasi, dari rekaman CCTV masih memperlihatkan loncatan cahaya. Satu menit kemudian Saya sudah mulai kehilangan contact dengan CCTV rumah. Tetapi apa mau dikata, rumah tidak ada yang mengerti elektronik.

Sekembali dari Yogya pertama yang saya lakukan adalah membuka CCTV. Nampak semua Surge Protector tetap tak berdaya melawan kekuasaan alam yang bernama Petir..Video detik-detik Gelap Gulita disambar petir saya sertakan juga – http://www.facebook.com/photo.php?v=10200499829991301

Sejatinya CCTV – okay-okay saja untuk diaplikasikan didaerah yang tidak panen gledek. Anak saya di Singapura, lantaran suami dan istri pada bekerja maka bayi mereka ditinggal dan dimonitoring dengan keberadaan CCTV.

Kalau daerah anda tidak bermasalah dengan Petir, maka menggunakan remote CCTV sangatlah bermanfaat misalnya mengetahu tamu yang datang kerumah saat anda tidak berada ditempat, memonitoring anak-anak yang ditinggal orang tuanya di kantor. Hanya dibutuhkan kamera CCTV, Internet dan DVR (DV Recorder).

Advertisements

Suwiran Telas (habis), Tahu Bacem Juga Habis


Beberapa ratus meter sebelum bandara Maguwo, setelah hotel Shearaton, mobil yang dikendarai mas Roto segera menepi. Apalagi kalau bukan keperluan membeli jajanan khas Yogya yaitu Gudeg “YD”.

Pukul 12 tengah hari ditingkahi hujan mengguyur kota ini sehingga saya hanya memotret didalam gedung. Rupanya alam tidak mampu menaklukkan para kuliner pecinta Gudeg terkenal yogya yang sudah kondang sampai dibelain  ditenteng “cabin baggage” ke luar negeri.

Kami cuma bisa nelangsa membaca deret aksara “SUWIRAN HABIS” – yang artinya jangan harap menikmati daging ayam yang sudah dicabik-cabik. Buru-buru kami pesan Tahu Bacem campuran Gudeg yang ternyata seperti diperuntukkan untuk kami sebab setelah itu, Tahu Gudegpun bablas. Yang kecewa adalah pelanggan dibelakang saya.

Satu kotak besar umumnya berisikan racikan Gudeg yang berupa nangka kecoklatan dan manis, beberapa potong ayam yang sudah lunak dagingnya sehingga bisa dilepas dengan kekuatan seperti menulis halus kasar, telur ayam, sambal goreng krecek dan tahu bacem ala Gudeg…

Gudeg ini tergolong “Kering” sehingga tidak akan dijumpai misalnya daun singkong, atau kuwah gudeg. Tentu tujuannya agar dapat tahan lama dibawa ke luar daerah/negeri. Kalau saja saya Chef, maka komentar negatif cuma satu – presentasi Gudek teramat monoton. Coklat dan coklat domination. Kalau ada yang hitam paling telur ayam yang gosong.

Dan sebagai menghemat waktu dan alternatif, apalagi gudeg utama sudah habis kami malahan menikmati Gudeg+Bakso  yang lain di arena ruang kedatangan Maguwo yang merangkap ruang para ahli hizab tembakau. Gudeg yang saya tenteng, buat oleh-oleh saja.

mBeringHarjo


Pasar  mBeringharjo (MBH) bagi orang yang pernah tinggal di Yogya mungkin sama hapalnya dengan letak urat leher mereka.

Dulu saat masih kecil, Simbah mengatakannya sebagai  pasar Gede sementara pasar biasa adalah Kranggan.

Pasar Pingit adalah pasar hari-hari sebab lokasinya sekedar lencang kanandengan tempat penampungan kami (Asrama Polisi Pingit).

Mei 2013, dari markas Komando di Gancahan,  bude Nunuk mengajak blonjo-blonji ke mBeringHarjo. Beliau yang kesehariannya Bangun jam 03:30 menyiapkan masakan untuk warung nasinya, lalu menerima pesanan catering.

Dalam tataran keluarga, Bude Nunuk kami taHbiskan sebagaipengganti orang tua. Anak-anaknya yang perempuan semua sudah mentas sehingga untuk kesibukan ia ikut momong dua cucu lelaki kecil yang membuat hidupnya selalu harus sehat dan siaga.

Liburan kali ini saya memang menginap dikediamannya dikawasan Mbibis nGodean. Kok ya syukurnya istri saya yang keturunan BeruangKutub Utara lantaran doyan dingin, nyatanya bahagia bisa tidur buka jendela,buka pintu ditemani Sanken si Kipas Angin. Apalagi jam 02:00 pagi saya memiliki kebiasaan duduk main computer sampai siang.

Ditengah kepungan pohon papaya, durian, bamboo saya sempatkan sensasi mendengar dengusan halus, suara piring terbanting, pacul dan alat tani saling beradu. Yang pasti-pasti saja, ulah kucing mengejar tikus di gudang mereka.

****

Selesai dengan belanja bahan makanan untuk 200  box pesanan catering.

Sekali lagi ia tanya – “bener?” maksudnya bener nggak mau beli-beli gitu. Kami ya bilang tidak lha wong dia saja sudah suibuk dengan aktivitas sehari-hari.

Job selalu berdatangan seperti tak putus dirundung pesanan. Kendati skala kecil.

Sang suami, ketika pensiun menjadi guru mengisi formulir rencana kedepan dengan kalimat  – anter-anter istri kalau pergi.

Lantaran memang tidak kepingin blonja-blonji, maka istri “iseng” njaluk dinyangke (minta ditawarkan) jeruk Bali yang menginsirasi lagu  bocah untuk membuat  mobil-mobilan dari kulitnya.

Mbak Nunuk berjalan didepan penjual buah – menggunakan bahasa Jawa

Pira Jeruke Yu…” – berapa harga jeruknya

“Limo las Ewu..” – lima belas ribu.. Kalau saja istri saya tidak melegitimasikan wewenang tawar menawar maka boleh jadi tanpa pikir akan menyerbu buah kesukaannya  itu.

Pasalnya di Jakarta – nggak dapet tuh segitu.. Istri menggamit tangan Bude artinya “murah itu” dan reaksinya tangan istri malahan di tepis, “menengo ae..” (shut-up) dan beliau menawar dengan gagah berani..

Mangewu Entuk Mboten?” – Lima Rebu Boleh? Sambil berlalu memainkan peranan butuh-nggak-butuh.

Jreng Jreng Jreng…..

Dari kejauhan terdengar lengkingan…

Tandur dhewe ya Gak entuk – “Tanam jeruk sendiri juga nggak bakalan dijual segitu?” – kata mbok bakul mulai “sengak” ketus..

Istri sudah merasakan sensasi “abang ireng saking isine”merah padam saking nggak tega hati.

Tetapi beda dengan mbak Nunuk yang dasarnya memang seperti kata Margareth Thacher adalah “Wanita Bercelana Panjang” –maksudnya mengendalikan penuh urusan rumah tangga. Ia langsung balik kanan dan “marani” menghampiri – pedagang…

Saya kan menawar, saya belum jamah daganganmu apalagi icip-icip…aja muring-muring nesu”- kilah Bude Nunuk.

Melalui proses Jeruk-Re-Mediasi– akhirnya dagangan mbok yang “Tandur Dewe” yang kami bawa pulang karena memang jeruknya memang begitu sekel kemerahan dan yang penting memiliki aura powerfull macam bibir Vitalia..

Ketimbang yang ditawarkan pedagang lainnya. No hard feeling..

Sepulangnya dari MBH, kami memang melewati pedagang Jeruk pinggir jalan memasang harga Rp. 5000 – tapi bukan jeruk yang kami maksud.

Puluhan tahun lalu, saat jaman kegelapan (dan sekarang lebih Gelap lagi – mencegah rebutan tempat dengan semua yang mengaku mendapat pencerahan) saya mempunya teman mahasiswi asal Ngadirejo yang tinggal kost di Ngampilan Yogya (Lia my daugt don’t talk about this part to Mom). Perempuan ini yang mengajari saya teknik Jurnalisme sehingga saya tak bosan-bosannya menulis.  Ketika diajak “tour de mbringharjo” – ternyata beberapa pedagang di los ini mengulurkan sejumlah uang pinjaman.  Dan sifat aseli dibalik cadar muncul manakala ada penunggak yang ngeyel.

Butuh mental perkasa untuk memasuki kawasan MBH ini.. Saya yang lelaki saja bisa ciut nyali, mereka yang perempuan macam macan luwe kalau berjalan malahan mampu “Njathil” (kuda kepang, beringas, ngamuk) tetapi jaman dulu belum ada mahzab AhmadMuyiah yang bermarkas di Bogor lho.