Human Error


Penerbangan Pagi – Wayangan..

Sepantesnya kalau punya pesawat bilang boarding jam 06 bakda subuh plus menitnya keriting, maka “Resolusi” hari tersebut adalah setidaknya jam Opat-Saperapat (4.25 pagi), kita musti dah dimari di Cengkareng. Maka bisa dibayangkan kalau tinggal di Bekasi saya kudu lek-lekan, wayangan dengan sedikit “power nap” tidur-tidur ayam dengan HP, semua dipasang alarm yang jedanya cuma beberapa detik…

Bingung van Keder..

Sampai di terminal, mulai saya mengecek loket pelaporan (check in).. Tentunya yang dicari adalah papan Informasi Penerbangan.

Tilang..tileng… Dagu mendangak sampai kulit tengkuknya bisa dibikin dompet koin, lalu menunduk sampai dagu menyentuh leher, ternyata loket pelaporan untuk nomor penerbangan pesawat saya masih seperti Jendral Caleg kita yang main petak umpet dengan Kejaksaan.. Duh Gustiiii apa saya salah terminal?.

Akhirnya kami mendekat seorang Kartini sedang duduk dan ditangannya setumpuk alat yang biasa ditemui di Takashimaya Orchard Road lantai 1, alias benda kecantikan..

Mbak permisi, nomor penerbangan sekian… itu check in dima…..“, belum selesai hurup “NA” dituntaskan dia menjawab sambil biji matanya menatap lurus tak berkedip ke papan bedak.. Sampai berfikir jangan-jangan terminal udara kita sedang bekerja sama dengan perusahaan alat kecantikan, dan salah satu Konsultan kecantikan adalah  mbak yang berpakaian seragam Angkasa Pura..Yang sedang duduk berhias..

“Belum Buka!”– ia  menyalak..

Sekarang dia berubah bentuk seperti Kopasus Cebongan..

Saya bisa terima dengan legowo jawaban ini. Namun nanti dulu, Toko sebelah saya (istri) lain perangai, ia jadi beringas…. “Saya bukan mau check in tapi mau tanya loket berapa nomor pesawat saya ini, di papan sana kok tertulis terminal C.”

Aku bisikin ya.. masalahnya dipapan yang saya lihat tertulis semua pesawat masuk Gate “D” – lha kok pesawatku kok nyentrik masuk di Gate “C”

Petugas yang menjawab sambil asik mengoles lipstick “Barangkali ya di terminal C…” dan itu biasa diartikan harus siap menyeret barang bagasi pindah dari terminal 2 ke terminal 1.. Tapi apa iyu saya sebloon itu ya..

Setelah jadi kitiran sesaat (kitiran kan dipontang panting kiri kanan puter puter), akhirnya ada petugas berkenan memberikan keterangan… Memang tulisan terminal “C” itu menurut mereka “hanya komputer error“… Yang bener sebener-benernya ya Pintu D.. Leganya aku ndak perlu pindah terminal..

Kita musti maklum, kalau Radarpun yang menentukan Nyawa ratusan manusiapun error apalagi cuma papan Pengumuman yang kadang sifatnya lebih kosmetik ketimbang fungsional…

Sayapun terima boarding pass. Kelar melewati pemeriksaan imigrasi, sampek boyok linu (pinggang sakit) cari terminal “F” ternyata ..ndak ada itu terminal yang saya cari… Saya tanya ke petugas imigrasi, passport kami ditahan lalu saya diminta lapor balik ke counter petugas ngantuk…

Tapi eiiit nanti dulu… passport diserahkan seseorang tak dikenal? emang mau cari perkara.. Passport adalah Layang Kalimushada masa kini..

Toko sebelah saya perintahkan menunggui sang petugas imigrasi sementara saya berlari kecil macam orang lari kecil dari Safa ke Marwa full sumpah serapah..tetapi sejujurnya saya senyam-senyum dalam bathin sambil mulai menulis diawang-awang.. Enaknya hobi menulis, semua problema bisa dikonvesi menjadi tulisan..

Petugas mungkin kali ini nyawanya sudah kumpul semua. Ditengoknya boarding pass lantas dicocokkan dengan kamputer didepannya. Cuma Merenges petugas lalu sret sret boarding pass pakai spidol diubah dari F menjadi D “Oh iya… harusnya D pak bukan F….

Hari itu dia cuma stok Merenges.. “Sorry atau Maaf lagi menghilang macam solar”
Hukumnya di rimba Penerbangan adalah Datang Ngepas Dijamin Laat binti terlambat, namun andai mengandai datang terlalu awal dijamin bingung binti sebingung-bingungnya.

Catatan: Pulangnya nanti..kalau ada lagu Badai Pasti Berlalu ternyata laguku Badai pasti Berlanjut… (pinjam status FB mas Ditto)

Advertisements