Susahnya kalau Orangnya Satu HP-nya Banyak


Setengah harian saya berada di centra jual beli HP di Jakarta Barat - 
Roxy. Mereparasi perangkat BB saya. BB ini pernah kehujanan dalam 
backpack dan terendam air, tetapi masih digdaya. Tapi kok melihat Tato 
disana sini saya memutuskan ganti casing dengan yang "lisik" - mulus 
(citayam)

Pekerjaan yang dijanjikan 30 menit membuat saya memilih duduk sambil 
memperhatikan aktivitas "konter HP" sekeliling. Nampak sepi, nampak 
tidak mungkin meraup untung, nyatanya mereka tetap eksis dan "kaya". 
Tapi sebetulnya saya sedang memikirkan seorang konter HP mampu menulis 
Novel humor kehidupannya menjadi pelayan Konter.

Gedubrak...Seorang anak muda datang - langsung merangsek disebelah saya 
dengan meletakkan sebuah BB bergaransi dan sebuah Galaxy 1 yang masa 
garansinya selesai pada bulan Mei 2013. Ia bermaksud "barter" tetapi ia 
masih harus nombok 1 Satu Setengah Juta+ satu perangkat BB97. Eh rupanya 
dia tergolong pelanggan kecomelan - “*KoH Guwa denger elo ambil master 
di Mining Australia, ngapain cuma jualan HP?*” -

Si Counter kecut menjawab “*bosen: kerja di Pertambangan...*”

Saya seperti tersentil... Sial bener...

Lalu saya gantian menyahut - Maap kata nih (ikutan karakter haji 
mahyudin) ..Aku ngebleng (blank) soal Note1 apalagi Note2, bedanya apa 
sih sampai anda rela tukar BB dan cash 1,5 juta untuk barter ala tawuran 
(ada barter masih pakai duit).

Jawabannya- “Pekerjaan pak!” - kalau designer - butuh yang bisa 
“ngegambar..”

Lalu matanya dan telunjuknya mengarah ke layar HP. Terdengar suaranya 
kakak kekek.. Lho kok mirip Angry Bird. Anggap saja dia designer game 
Smartphone.

Perasaan badan saya sudah tipis digesek oleh pengunjung lain yang lalu 
lalang di kawasan mirip gang senggol. Tapi BB belum kelar-kelar juga. 
Seorang peempuan bawa baki menyeruduk di- Gang Senggol - sambil 
menawarkan "Makan Siang- Bisa di antar!"

Saya membolak balik address HP saya, hasil koleksi puluhan tahun, bisa 
menghasilkan sekitar 2 ribu alamat. Tidak yakin sebagian masih eksis. 
Sebagian hasil kopi dari Simcard yang dulu cuma bisa 100 alamat dan 
tulis nama musti singkat.

Untuk alamat Rumah Sakit saya sukses secara idiot mulai dengan awalan “R”

Rumah Sakit Hermina

Rumah Sakit Hernia

Rumah Sakit KO

Rumah Sakit BAB

.... dan seterusnya.. Akibatnya kalau saya tekan "R" musti berkutat 
lama. Klinik masuk rumah sakit, pangkalnya "R:"

Lalu karena pergaulan saya dikalangan ibu-ibu teman istri, maka saya 
tulis alamat mereka sebagai:

Bu Siti

Bu Romlah

Bu Bakir 1

Bu Bakir 2 - Kalau Bu Bakir punya Hp lebih dari satu.

...dan seterusnya akibatnya kalau mau cari nama seorang ibu saya harus 
padat merayap mencari satu persatu...

Giliran mengidentifikasi HP istri yang serenteng, terpaksa saya memberi 
kode providernya..

Istri XL

Istri S(untuk Simpati)

Istri M (untuk Mentari)

Tapi yen dipikir-pikir ini istri apa ukuran sandal jepit...

Saya ganti lagi dengan memberi nomor urut..

Istri 1

Istri 2

Istri 3

Istri 4

Giliran HP ke lima saya kebingungan (kan biar adil boleh cuma 4), 
apalagi kesannya saya seperti "tweeter" pengusaha Ayam Bakar dari 
Surakarta.

Jadi untuk HP yang terakhir milik istri saya tulis begini..

“Istri SIMPA”

Persoalannya - kalau tilpun berdering dari HP ke lima -munculnya

Istri SIMPA... Istri Simpa...dan sering otak ini meneruskan Istri 
Simpanan....

Padahal saya ya dari Genus Erectus Monogamikus.
Advertisements