Swike berkaki Dua


SWIKE PITIK JOWO

Di persimpangan Kapur Tulis – Cepu kami memasuki warung “Sambel Ijo” karena tertera pelbagai masakan. Sekitar jam 14:00 nampaknya orang rata-rata beristirahat karena kepanasan, termasuk pemilik warung.

Setelah mendengar kegaduhan dari suara kami memasuki warung seperti kata – spada yang disuarakan secara meninggi, muncul sosok perempuan muda dari balik sekat yang membatasi pembeli dengan ruang masak.

Sambil serabutan, perempuan muda berkaos lengan pendek ketat abu-abu ini  mengangkat kedua tangannya membenahi rambut hitam sebahu untuk segera dikuncir – mbak Neni segera srebat-srebet memanaskan penggorengkan untuk menyuguhkan hidangan yang kami pesan.

Mata saya terpaku pada selembar poster bertuliskan Swike Ayam Kampung, maksudnya dengan masakan ayam, ia akan merengkuh kelompok penikmat kuliner lebih banyak lagi. Nama swike tidak harus hewan berkaki empat dan hidup disawah, mungkin demikian jalan pemikiran mbak Neni.

Niat mencoba terpaksa saya mengkeretkan. Sudah namanya Swike membuat saya sedikit “gojak gajek” ragu. Eh masih ditambah dengan bagaimana Swike akan disantap, sekedar pedas (5 rawit), pedas medium (10 rawit), atau pedas bener (15 rawit).

Lagi-lagi perempuan mirip Artis Shanti edisi belum dandan ini menambnahkan kata humor “Level” yang mewakili jumlah cabenya. Sayangnya saya bukan pemain “pedas” sehingga level pemulapun saya ndak berani mencoba. Sayacuma berani order Bebek Goreng Kremes, ndak pakai cabe. Atau kalaupun berani, pakai cabe tapi cuma bekas ulekan orang lain.

Cepu 2 Juni 2012

Advertisements