Cepu, sertifikasi Juru Bor (2)


DIAJAK PINDAH KOS DENGAN IMING_IMING ADUHAI

Ha, ternyata sudah Jumat di Cepu..Hari pertama di Cepu…

Saat mencari mesjid terdekat – dari tukang becak, sampai beberapa orang yang duduk mencangkung dipinggir jalan nampak mengawasi gerak-gerik dan ramah menyapa kalau berpapasan.

Rapih (rampung-citayam) Jumat-an yang sejak awal duduk di masjid sudah terganggu suara berisik (salahnya duduk dibelakang, tempat para bocah dan anak muda dengarkan kutbah sambil ngobrol antar mereka, lalu terdengar Polyphone suara BBM dan SMS). Niatnya masih pingin coba Pecel di Siang Hari.

Saya melewati sebuah warung kecil.

Dinding warung ada pajangan Jual Kaos dengan judul agak kurang nyambung “Petroleum Block Cepu” – gambarnya mesin Theklak-Thekhluk alias pompa angguk-“sucker rod”. Tapi apa mau mungkin dalam benak bang Sablon asal  kaos pakai bahasa Inggris ya sutralah yang penting Wow Crane (Wow Keren)

Pemilik warung sudah rupanya bersiap untuk untuk Dhuhur, saya menangkap sosok wanita dibelakang lemari.  Tadinya sudah mau ahtreit tetapi raut manis keburu nampak dari balik mukena. . Saya dipersilahkan masuk dan semua barang dagangan dipamerkan.

Ada pakaian muslimah, batik, kopiah, topi, dan T-shirt. Tapi kaos ukuran saya ternyata tidak ada.

Pecel, Pincuk dan Daun Jati ala Cepu

Sebagai pengganti kecewa saya mengambil serenceng kopi saset “three in one.” – lalu kangen rumah (baru semalam?) terutama ingat pak Lanjar – Kakek Sitter saya bahwa 3in1 “bukan kopi Kapal Api” – kendati  ada logo kapal berlayar.

Ibu muda ini biar gampangnya saya tulis Bu Warung – bertanya ramah dimana saya tinggal dan sudah berapa lama mengingat pendaftaran Sertifikasi baru hari Senin.  Nomor HP ku dicatatnya. Alasannya kalau ukuran kaos XXL yang saya cari sudah tersedia maka sms akan diluncurkan.

Beliau lantas merogoh sesuatu dari lacinya. Ada 6 lembar kartu nama diberikan kepada saya membuat saya berkomentar: “kok banyak bener bu…”

“Kartu nama saya tolong dibagikan teman-teman bapak,” pintanya.

Saya balik kanan setelah pamitan…

Dan jreng……… baru beberapa menit SMS saya sudah berkelojotan..

SMS sudah tidak menyebutkan soal kaos, melainkan rayuan bernada ajakan pindah kos ke tempatnya.

“Waduh terlanjur basah, Ya sudah mandi sekali -lagu Meggy Z. Kan nggak enak saya mau pindah kos.., lain kali saja ya Bu, kloter kedua deh.”

Dia masih keukeuh.

“Bapak bayar saja yang ongkos untuk kos hari ini, terus pindah ketempat saya..Dijamin lulus (sertifikat)” – serunya lagi

“soalnya klu ga2l uang dijmn kembali…” – quote ditulis sesuai aselinya..

Lha ini dia yang bikin saya tersengat, dari kaos, lari ke kos, kok ada jaminan lulus. Jangan-jangan  alih-alih jadi kasus.

Persaingan usaha  (kos-kosan) berjalan sengit dan panas juga dikota yang sepintas aman, tentram dan ramah ini sampai harus pakai iming-iming pasti lulus (ujian sertifikasi) segala. Tentu semua itu bualan.

Saya pikir persoalan selesai…

Seminggu kemudian, saat dijemput oleh Arif si Tukang Ojek desersian dari Cikupa, dalam perjalanan dari tempat kos ke Stasiun Cepu ia mengadu didamprat oleh seorang  Ibu pemilik Kos, kenapa bisa-bisanya ada tamu nyelonong dekat bukan ke rumahnya.

“Kasus pak!” -lha saya ndak tahu maksud kata kasus bang Ojek, bisa jadi maksudnya “Cape Deh”

Tapi gamblang siapa  “ibu”  yang dimaksud.

Serenceng 3in1 -yang sedianya bisa habis 5 hari ternyata bablas dalam 2 hari saja…

Jumat 1 Juni 2012

Mimbar Bambang Saputro

Advertisements