Cepu, sertifikasi Juru Bor


Di “takdirkan” oleh gurunya cuma bisa “IPS”, dimasukkan kedalam kotak oleh team pendidiknya  bahwa “kemampuannya sebatas tenaga madya” alias Tukang, Satrio-si bungsu menggugah perasaan saya ketika dia bilang ke ayahnya kepingin masuk Teknik Geologi.

Saya pernah ceritakan bagaimana ia memasuki Geologi, lalu minder kenapa temannya cuma 16 orang, lalu melorot menjadi hitungan dibawah dua jari tangan. Lalu bapaknya menguatkan makin sedikit siswa, makin kecil persaingan mendapatkan pekerjaan.

Singkat kata ia lulus, sudah pernah jadi MudLogger seperti bapaknya, lalu menjadi wellsite geologist – seperti yang dilakukan oleh mas Sugeng Hartono. Bahkan sempat mengaku  ewuh pakewuh tatkala ia harus mensupervisi kabin mudlogging yang notabene bapaknya pernah menggantungkan hidup 1981-1997 disana.

Lebih pakewuh lagi kebanyakan pekerjanya -mudlogger nya ya seumuran bapaknya. “Sudah bisa diduduki cucu” – maksudnya ada tonjolan lemak di perut yang cukup empuk untuk diduduki balita.

SEHIDUP SEBANDENG

Menjadi wellsite geologist membuatnya ia mampu bergaul dengan setiap orang, termasuk mengajari cara menyeduh mie instant kepada Bule Schlumberger yang kelaparan dan tidak ada roti.

Lama sehidup -sebandeng – ini bahasa lantaran makan di Rig sekarang menurut Satrio, kalau siang Bandeng Goreng, kalau malam Bandeng Kecap dan belum pernah dibalik. Misalnya siang Bandeng Kecap, kalau malam Bandeng Goreng.

Terbersit ia akan “GUGAT” bapaknya yang sering bilang “makan di rig macam di restoran bintang lima” – kenapa kenyataannya bertemu dengan menu yang Kucingpun harus berburu untuk mendapatkan tambahan protein.

Pergaulannya dengan Drilling Supervisor di Rig membuat rasa ingin tahu ilmu Teknik Perminyakannya timbul. Umumnya kalau pekerjaan memasuki tahap Running Casing,  lantas Nipple Up BOP – teman seshiftnya tidur atau keluyuran, Bungsu  saya sarankan “ngangsu kawruh..kepada para Drilling Supervisor atau Company Man

“Pa, aku kok kepingin seperti pak Handi, pak Roni – ngomongin “Kick and Kill Method” – kadang bicara ada Gas-Kick sehingga perlu dilakukan Hard Shut In atau Soft Shut In Well. Rasanya aku gatel kepingin naik ke Lantai Bor, pegang “tuas driller break”, buka pompa lumpur, putar rotary table dan drill ahead.

Kalau boleh saya paralelkan, mungkin keadaan ini persis seperti saat mas Yusuf Iskandar yang Lanangnya mendadak minta naik gunung.  Dan seperti mas Yusuf, sayapun mengompori keinginan anak.

UJIAN SAMBIL BELAJAR

Dari data mbah Gugel saya baca di website – ada Uji Sertifikasi Juru Bor yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Migas Cepu. Say abaca – Ujian, dan bukan kursus macam yang diselenggarakan IADC, WELLCAP itu.

Mata ujian ada 6 session tertulis selama 2(dua) hari dan hari ketiga dilanjutkan dengan ALAT SIMULATOR – Well Control. Katanya peserta termasuk driller dan toolpusher kawakanpun banyak yang jebol saat uji pakai simulator.

Alasan yang mendasari dukungan penuh ini sebab – dari teman-teman seprofesi ia diingatkan untuk  “jangan menciderai profesi” – maksudnya kalau sudah mahzab A ya jadilah A seumur hidupmu dan jangan pernah berubah.

Saya pikir Satrio masih harus didukung moril agar ia tidak diombang ambingkan antara perasaan kepingin tahu dan tuntutan teman akan “setia profesi”

Dengan alasan mengikuti kemauan anak, sayapun pesan tiket Semberani – Gambir-Surabaya turun di Cepu.

Saya harus mengaku “telat piknik” ketika menemukan fakta bahwa AC kereta berfungsi baik, dua colokan dibawah meja minuman juga cukup untuk mensuplai power Tablet saya. Sesekali tertidur untuk diguncang saat kereta berhenti di Cirebon. Sekalipun pedagang tidak boleh masuk, tetapi ada penjual Dodol, Sale Pisang (laki) dan Nasi Bungkus (Wanita) yang mampu menembus dinding kereta, earphone “S” yang katanya “Noisy Reducer”.

Tapi saya dan Satrio datang seminggu lebih awal. Dan kami memilih tempat kost – yang pemiliknya umumnya pensiunan Pusdiklat Cepu.

Tujuan berkos-kosan dahulu adalah berinteraksi dengan para peserta dari luar kota, konon ada peserta yang pernah mengulang “tidak lulus” dan mereka sumber informasi yang paling berharga.

Beberapa teman wanti-wanti, manakala di Cepu harus dipastikan akan menginap dimana. Pak Ojek, pak Becak sudah dipesan ibu kos nakal agar membelokkan para penumpang kereta untuk kos ke rumahnya. Kadang kalau anda mencari nama Marsudi sebagai tujuan kos, maka tak segan pak YudiI-pun mengaku nama Marsudi. Segitunya persaingan kos-kosan di Cepu.

Menjelang jam 04:00 selimut saya sudah diloroti. “Cepu Siap-Siap”-kata petugas sambil mblesekkan selimut kedalam karung.

Bener saja, begitu jleg, para Kang Ojeg mulai nawari tempat kost. Bahkan ada yang bilang “Sertifikasi-ya”. Saya mengangkat tilpun, menjauhi para Ojeg ini, lalu mencoba mengeja nama Jalan… baru saya ulangi “Ya pak jalan Mutiara ya…” – eh seorang ojeg yang kupingnya tajam langsung menyebut nama pemilik kos-kosan, alamat dan nomor rumahnya.

Setelah harga disepakati, saya nyengklak dibelakang Ojek, tas pakaian diselipkan dimuka ojek. Satrio geli campur melas katanya melihat bapaknya “Kethingkrangan naik Ojek,”

“Mustinya difoto “Ma” – katanya melapor kepada mamanya. Saya cuma mesem-mesem berarti dia mengapresiasi yang saya lakukan untuknya.

Dalam perjalanan, tukang Ojek yang mengaku Arif ini ternyata punya keluarga di Cikupa. Kerja sebagai pabrikan di Cikupa tidak mencukupi sehingga ia menarik ojek di Cepu.

Ternyata memang baru kami yang memasuki kamar kos tersebut. Baguslah, sekalian orientasi medan dan belajar lagi sebab sayapun akan ikutan mengambil sertifikasi Juru Bor.

Anak dan Bapak sama-sama sekolah, sama-sama ujian. Unik juga. Kalau bapaknya ternyata tepar dalam test, harus siap “grade” nya diturunkan dimata anaknya.

Lha untung markuntung, bapak kos saya ini dulunya instruktur Pusdiklat, jadi banyak diktat dirumahnya. Untungnya lagi ada beberapa digaris tebal, katanya “pernah ditanyakan dalam test”,,, Uwekekeke

Cepu 1 Juni 2012

Advertisements