Ibu Kos Salah Sangka


Di Cepu ada dua pilihan untuk menginap. Hotel atau Kost.

Image

Kalau menggunakan Hotel atau Losmen, memang nyaman tetapi kita bakalan kehilangan kontak dengan teman termasuk isu, rumour seputar Pusdiklat Migas.

Apalagi Hotel umumnya letaknya cukup jauh dari Pusdiklat.

Maka yang saya lakukan adalah mencari kos-kosan yang lokasinya cuma 5-10 menit berjalan kaki dari pusat Pendiikan. Bonusnya saat makan siang atau sarapan terbuka kesempatan temu muka  dengan peserta dari kota lain. Syukur kalau ada “clue”  soal yang biasanya datang dari peserta pernah “ngeban” – alias tidak lulus.

Namanya menjadi anak kos, maka selama  di Cepu segala kebiasaan  di Jakarta yang main perentah sudah harus ditinggalkan.

Tidur didipan, dengan pintu kamar yang sekaligus pintu akses anak kos dari kamar lain, bisa menimbulkan masalah sebab ada saja yang kalau masuk kamar saya lupa nutup pintu. Akhirnya nyamuk cepu yang tidak kalah agresive ikutan masuk kamar.

Karena saya menempati satu kamar dengan 3 (tiga) penghuninya – maka kalau melihat sampah bertebaran, gelas minum disana-sini tak jarang saya menjadi “relawan” – upik-abu. Membawa gelas kotor ke belakang. Kadang Asbak penuh penuh puntung rokok segera saya benahi agar debunya tidak berterbangan didalam rumah. Padahal saya tidak merokok.

Kalau melihat Botol air kemasan sudah habis, tanpa segan saya mengganti botol kosong tersebut dengan kemasan yang masih penuh air galonan tapi isinya 18 liter (padahal secara harfiah 1 galon=3,4 liter).

Bahkan kalau bangun pagi, air bak segera saya isi mengingat ada 9 mahluk menggunakan pada pagi hari. Maklum ada yang menggunakan Bak tetapi “enggan” membuka kran agar pengguna lain tidak kekeringan. Atau ada yang buka keran dan air dibiarkan ngocor sampai meluber kemana-mana.

Supaya air ledeng tidak bertumpahan, sewaktu mengisinya saya sengaja menungguinya didepan Kamar mandi.

Dalam aktivitas “membantu meringankan pemilik Kos yang cuma sepasang suami istri sepuh” tidak jarang saya ketemu “jegluk” dengan istrinya. Dan herannya ada kesan beliau selalu menghindarkan diri dari saya.

Sekali tempo saya bawakan sekeranjang “parcel” buah-buahan, perempuan asal Solo usia lima puluh tahunan usia ini hanya menerima, senyum sambil menganggukkan kepala dan buru-buru menghilang ke kamar belakang.

Sebagai orang yang terlatih “probing kemauan calon konsumen” – maka perilakunya malahan bikin penasaran.

Hari ke 3, Misteri “kucing-kucingan” ini terkuak ketika bapak Kos, dalam acara jeda belajar – meringis mengatakan  “istri saya mengira anda Bule…

Jadi takut diajak bahasa Inggris..to?- Haduh gimana nih, saya jadi kepingin bangga dan kepingin GR.

Baru setelah saya jelaskan bahwa saya ini aselinya Jowo – Acak-Adul, besar di Sumatera, tidak PD berbual dalam bahasa Jawa sebab selalu diejek prounonciationnya. Maka seketika gunung es kebekuan mencair.

Sekarang kalau sore, bapak dan ibu kos duduk diruang depan, saya bercerita tentang keluarga. bapak dan ibu kospun tak segan bercerita mengenai anak-anaknya. Pak Kos tidak segan cerita putranya yang dikuliahkan dengan judul fakultas  moncer, habis lulus malahan jadi direktur PT Sedikit Maju Banyak Mundur.

Apalagi saat beliau tahu, saya dan anak bungsu rela ngekos sama-sama – yang sebetulnya tindakan mendukung keinginan sang Putra…

“Tau begitu – aku kirim saja ke Yogya” – lalu dia menyebut sebuah Universitas Swasta tempat saya bernyanyi “Mahasiswa (……) bersatu padu bernanung dibawah panji… dst

Tapi kemudian seperti menjawab sendiri pertanyaan sendiri  “mungkin sudah digariskan dari (atas) sana ya…”

Setelah mengantarkan anak sampai perguruan tinggipun banyak orang tua masih harus mengantarkan “bantuan” moneter kepada putra putrinya yang notabene telah lulus kuliah dan bekerja.

Advertisements

Swike berkaki Dua


SWIKE PITIK JOWO

Di persimpangan Kapur Tulis – Cepu kami memasuki warung “Sambel Ijo” karena tertera pelbagai masakan. Sekitar jam 14:00 nampaknya orang rata-rata beristirahat karena kepanasan, termasuk pemilik warung.

Setelah mendengar kegaduhan dari suara kami memasuki warung seperti kata – spada yang disuarakan secara meninggi, muncul sosok perempuan muda dari balik sekat yang membatasi pembeli dengan ruang masak.

Sambil serabutan, perempuan muda berkaos lengan pendek ketat abu-abu ini  mengangkat kedua tangannya membenahi rambut hitam sebahu untuk segera dikuncir – mbak Neni segera srebat-srebet memanaskan penggorengkan untuk menyuguhkan hidangan yang kami pesan.

Mata saya terpaku pada selembar poster bertuliskan Swike Ayam Kampung, maksudnya dengan masakan ayam, ia akan merengkuh kelompok penikmat kuliner lebih banyak lagi. Nama swike tidak harus hewan berkaki empat dan hidup disawah, mungkin demikian jalan pemikiran mbak Neni.

Niat mencoba terpaksa saya mengkeretkan. Sudah namanya Swike membuat saya sedikit “gojak gajek” ragu. Eh masih ditambah dengan bagaimana Swike akan disantap, sekedar pedas (5 rawit), pedas medium (10 rawit), atau pedas bener (15 rawit).

Lagi-lagi perempuan mirip Artis Shanti edisi belum dandan ini menambnahkan kata humor “Level” yang mewakili jumlah cabenya. Sayangnya saya bukan pemain “pedas” sehingga level pemulapun saya ndak berani mencoba. Sayacuma berani order Bebek Goreng Kremes, ndak pakai cabe. Atau kalaupun berani, pakai cabe tapi cuma bekas ulekan orang lain.

Cepu 2 Juni 2012

Cepu, sertifikasi Juru Bor (2)


DIAJAK PINDAH KOS DENGAN IMING_IMING ADUHAI

Ha, ternyata sudah Jumat di Cepu..Hari pertama di Cepu…

Saat mencari mesjid terdekat – dari tukang becak, sampai beberapa orang yang duduk mencangkung dipinggir jalan nampak mengawasi gerak-gerik dan ramah menyapa kalau berpapasan.

Rapih (rampung-citayam) Jumat-an yang sejak awal duduk di masjid sudah terganggu suara berisik (salahnya duduk dibelakang, tempat para bocah dan anak muda dengarkan kutbah sambil ngobrol antar mereka, lalu terdengar Polyphone suara BBM dan SMS). Niatnya masih pingin coba Pecel di Siang Hari.

Saya melewati sebuah warung kecil.

Dinding warung ada pajangan Jual Kaos dengan judul agak kurang nyambung “Petroleum Block Cepu” – gambarnya mesin Theklak-Thekhluk alias pompa angguk-“sucker rod”. Tapi apa mau mungkin dalam benak bang Sablon asal  kaos pakai bahasa Inggris ya sutralah yang penting Wow Crane (Wow Keren)

Pemilik warung sudah rupanya bersiap untuk untuk Dhuhur, saya menangkap sosok wanita dibelakang lemari.  Tadinya sudah mau ahtreit tetapi raut manis keburu nampak dari balik mukena. . Saya dipersilahkan masuk dan semua barang dagangan dipamerkan.

Ada pakaian muslimah, batik, kopiah, topi, dan T-shirt. Tapi kaos ukuran saya ternyata tidak ada.

Pecel, Pincuk dan Daun Jati ala Cepu

Sebagai pengganti kecewa saya mengambil serenceng kopi saset “three in one.” – lalu kangen rumah (baru semalam?) terutama ingat pak Lanjar – Kakek Sitter saya bahwa 3in1 “bukan kopi Kapal Api” – kendati  ada logo kapal berlayar.

Ibu muda ini biar gampangnya saya tulis Bu Warung – bertanya ramah dimana saya tinggal dan sudah berapa lama mengingat pendaftaran Sertifikasi baru hari Senin.  Nomor HP ku dicatatnya. Alasannya kalau ukuran kaos XXL yang saya cari sudah tersedia maka sms akan diluncurkan.

Beliau lantas merogoh sesuatu dari lacinya. Ada 6 lembar kartu nama diberikan kepada saya membuat saya berkomentar: “kok banyak bener bu…”

“Kartu nama saya tolong dibagikan teman-teman bapak,” pintanya.

Saya balik kanan setelah pamitan…

Dan jreng……… baru beberapa menit SMS saya sudah berkelojotan..

SMS sudah tidak menyebutkan soal kaos, melainkan rayuan bernada ajakan pindah kos ke tempatnya.

“Waduh terlanjur basah, Ya sudah mandi sekali -lagu Meggy Z. Kan nggak enak saya mau pindah kos.., lain kali saja ya Bu, kloter kedua deh.”

Dia masih keukeuh.

“Bapak bayar saja yang ongkos untuk kos hari ini, terus pindah ketempat saya..Dijamin lulus (sertifikat)” – serunya lagi

“soalnya klu ga2l uang dijmn kembali…” – quote ditulis sesuai aselinya..

Lha ini dia yang bikin saya tersengat, dari kaos, lari ke kos, kok ada jaminan lulus. Jangan-jangan  alih-alih jadi kasus.

Persaingan usaha  (kos-kosan) berjalan sengit dan panas juga dikota yang sepintas aman, tentram dan ramah ini sampai harus pakai iming-iming pasti lulus (ujian sertifikasi) segala. Tentu semua itu bualan.

Saya pikir persoalan selesai…

Seminggu kemudian, saat dijemput oleh Arif si Tukang Ojek desersian dari Cikupa, dalam perjalanan dari tempat kos ke Stasiun Cepu ia mengadu didamprat oleh seorang  Ibu pemilik Kos, kenapa bisa-bisanya ada tamu nyelonong dekat bukan ke rumahnya.

“Kasus pak!” -lha saya ndak tahu maksud kata kasus bang Ojek, bisa jadi maksudnya “Cape Deh”

Tapi gamblang siapa  “ibu”  yang dimaksud.

Serenceng 3in1 -yang sedianya bisa habis 5 hari ternyata bablas dalam 2 hari saja…

Jumat 1 Juni 2012

Mimbar Bambang Saputro

Cepu, sertifikasi Juru Bor


Di “takdirkan” oleh gurunya cuma bisa “IPS”, dimasukkan kedalam kotak oleh team pendidiknya  bahwa “kemampuannya sebatas tenaga madya” alias Tukang, Satrio-si bungsu menggugah perasaan saya ketika dia bilang ke ayahnya kepingin masuk Teknik Geologi.

Saya pernah ceritakan bagaimana ia memasuki Geologi, lalu minder kenapa temannya cuma 16 orang, lalu melorot menjadi hitungan dibawah dua jari tangan. Lalu bapaknya menguatkan makin sedikit siswa, makin kecil persaingan mendapatkan pekerjaan.

Singkat kata ia lulus, sudah pernah jadi MudLogger seperti bapaknya, lalu menjadi wellsite geologist – seperti yang dilakukan oleh mas Sugeng Hartono. Bahkan sempat mengaku  ewuh pakewuh tatkala ia harus mensupervisi kabin mudlogging yang notabene bapaknya pernah menggantungkan hidup 1981-1997 disana.

Lebih pakewuh lagi kebanyakan pekerjanya -mudlogger nya ya seumuran bapaknya. “Sudah bisa diduduki cucu” – maksudnya ada tonjolan lemak di perut yang cukup empuk untuk diduduki balita.

SEHIDUP SEBANDENG

Menjadi wellsite geologist membuatnya ia mampu bergaul dengan setiap orang, termasuk mengajari cara menyeduh mie instant kepada Bule Schlumberger yang kelaparan dan tidak ada roti.

Lama sehidup -sebandeng – ini bahasa lantaran makan di Rig sekarang menurut Satrio, kalau siang Bandeng Goreng, kalau malam Bandeng Kecap dan belum pernah dibalik. Misalnya siang Bandeng Kecap, kalau malam Bandeng Goreng.

Terbersit ia akan “GUGAT” bapaknya yang sering bilang “makan di rig macam di restoran bintang lima” – kenapa kenyataannya bertemu dengan menu yang Kucingpun harus berburu untuk mendapatkan tambahan protein.

Pergaulannya dengan Drilling Supervisor di Rig membuat rasa ingin tahu ilmu Teknik Perminyakannya timbul. Umumnya kalau pekerjaan memasuki tahap Running Casing,  lantas Nipple Up BOP – teman seshiftnya tidur atau keluyuran, Bungsu  saya sarankan “ngangsu kawruh..kepada para Drilling Supervisor atau Company Man

“Pa, aku kok kepingin seperti pak Handi, pak Roni – ngomongin “Kick and Kill Method” – kadang bicara ada Gas-Kick sehingga perlu dilakukan Hard Shut In atau Soft Shut In Well. Rasanya aku gatel kepingin naik ke Lantai Bor, pegang “tuas driller break”, buka pompa lumpur, putar rotary table dan drill ahead.

Kalau boleh saya paralelkan, mungkin keadaan ini persis seperti saat mas Yusuf Iskandar yang Lanangnya mendadak minta naik gunung.  Dan seperti mas Yusuf, sayapun mengompori keinginan anak.

UJIAN SAMBIL BELAJAR

Dari data mbah Gugel saya baca di website – ada Uji Sertifikasi Juru Bor yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Migas Cepu. Say abaca – Ujian, dan bukan kursus macam yang diselenggarakan IADC, WELLCAP itu.

Mata ujian ada 6 session tertulis selama 2(dua) hari dan hari ketiga dilanjutkan dengan ALAT SIMULATOR – Well Control. Katanya peserta termasuk driller dan toolpusher kawakanpun banyak yang jebol saat uji pakai simulator.

Alasan yang mendasari dukungan penuh ini sebab – dari teman-teman seprofesi ia diingatkan untuk  “jangan menciderai profesi” – maksudnya kalau sudah mahzab A ya jadilah A seumur hidupmu dan jangan pernah berubah.

Saya pikir Satrio masih harus didukung moril agar ia tidak diombang ambingkan antara perasaan kepingin tahu dan tuntutan teman akan “setia profesi”

Dengan alasan mengikuti kemauan anak, sayapun pesan tiket Semberani – Gambir-Surabaya turun di Cepu.

Saya harus mengaku “telat piknik” ketika menemukan fakta bahwa AC kereta berfungsi baik, dua colokan dibawah meja minuman juga cukup untuk mensuplai power Tablet saya. Sesekali tertidur untuk diguncang saat kereta berhenti di Cirebon. Sekalipun pedagang tidak boleh masuk, tetapi ada penjual Dodol, Sale Pisang (laki) dan Nasi Bungkus (Wanita) yang mampu menembus dinding kereta, earphone “S” yang katanya “Noisy Reducer”.

Tapi saya dan Satrio datang seminggu lebih awal. Dan kami memilih tempat kost – yang pemiliknya umumnya pensiunan Pusdiklat Cepu.

Tujuan berkos-kosan dahulu adalah berinteraksi dengan para peserta dari luar kota, konon ada peserta yang pernah mengulang “tidak lulus” dan mereka sumber informasi yang paling berharga.

Beberapa teman wanti-wanti, manakala di Cepu harus dipastikan akan menginap dimana. Pak Ojek, pak Becak sudah dipesan ibu kos nakal agar membelokkan para penumpang kereta untuk kos ke rumahnya. Kadang kalau anda mencari nama Marsudi sebagai tujuan kos, maka tak segan pak YudiI-pun mengaku nama Marsudi. Segitunya persaingan kos-kosan di Cepu.

Menjelang jam 04:00 selimut saya sudah diloroti. “Cepu Siap-Siap”-kata petugas sambil mblesekkan selimut kedalam karung.

Bener saja, begitu jleg, para Kang Ojeg mulai nawari tempat kost. Bahkan ada yang bilang “Sertifikasi-ya”. Saya mengangkat tilpun, menjauhi para Ojeg ini, lalu mencoba mengeja nama Jalan… baru saya ulangi “Ya pak jalan Mutiara ya…” – eh seorang ojeg yang kupingnya tajam langsung menyebut nama pemilik kos-kosan, alamat dan nomor rumahnya.

Setelah harga disepakati, saya nyengklak dibelakang Ojek, tas pakaian diselipkan dimuka ojek. Satrio geli campur melas katanya melihat bapaknya “Kethingkrangan naik Ojek,”

“Mustinya difoto “Ma” – katanya melapor kepada mamanya. Saya cuma mesem-mesem berarti dia mengapresiasi yang saya lakukan untuknya.

Dalam perjalanan, tukang Ojek yang mengaku Arif ini ternyata punya keluarga di Cikupa. Kerja sebagai pabrikan di Cikupa tidak mencukupi sehingga ia menarik ojek di Cepu.

Ternyata memang baru kami yang memasuki kamar kos tersebut. Baguslah, sekalian orientasi medan dan belajar lagi sebab sayapun akan ikutan mengambil sertifikasi Juru Bor.

Anak dan Bapak sama-sama sekolah, sama-sama ujian. Unik juga. Kalau bapaknya ternyata tepar dalam test, harus siap “grade” nya diturunkan dimata anaknya.

Lha untung markuntung, bapak kos saya ini dulunya instruktur Pusdiklat, jadi banyak diktat dirumahnya. Untungnya lagi ada beberapa digaris tebal, katanya “pernah ditanyakan dalam test”,,, Uwekekeke

Cepu 1 Juni 2012