Belajar Naik Sepeda


SMP kelas satu, tahun 1964, SMP Negeri 1 – Jalan Talang Semut Lama.

Jaman dulu- saya masuk SMP ya masuk sendiri. Modalnya nekad kepingin sekolah, yang perlu diberi kredit adalah  teman di  Tangsi Brimob – BukitBesak-Palembang, mereka yang ajak saya cari sekolah. Fungsi orang tua ya cuma dimintai uang pangkal.

Kadang saya iri, anak-anak sekarang mengesankan yang mau sekolah adalah orang tuanya terutama ibunya.

Jarak antara Jalan Talang Semut Lama dengan Tangsi Bukit Besar untuk jalan kaki ya cukup jauh. Apalagi sesuai namanya perjalanan menanjak perbukitan ke salah satu pemakaman Raja Sriwijaya yaitu Bukit Seguntang. Boleh menghindari sedikit tanjakan yaitu melewati pemakaman umum Puncak Sekuning.

Tanpa banyak petingsing kami langsung diterima. Baru persoalan Logistik alias transportasi dibuat masalah. Lalu saya “grenengan” dengan Ibunda kepingin “memiliki” sepeda buat sekolah. Permintaan ini mungkin setara minta Jeep Hummer keluaran terbaru jaman sekarang.

Ibu melakukan lobi kepada Bapak. Seperti disambar gledek, bapak bilang “di gudang banyak , dulu dipakai untuk operasi Brimob, tapi sekarang numpuk berkarat.”

Beberapa hari kemudian pulang kantor bapak membawa Sepeda bekas Patroli. Kedua bannya kempes musti ganti ban dalamnya. Kok ya nggak sampai 15 menit, sebat sebet, pak tukang sudah siap dengan sepeda ban dalam baru.

Tugas selanjutnya ada mengatasi dua halangan. Pertama saya tidak bisa naik sepeda. Yang kedua sepeda ini dinamakan sepeda lelaki sebab ada plantangan alias besi batang yang menjulur dari bawah selangkangan sampai setang.  Menghadapi si Kuda Besi Hitam saya seperti kurcaci mau nyengklak di Gagak Rimang  (GR) ini Kuda kesayangan Pangearn Diponegoro ketika maju ke medan perang.

HARUS JATUH

Teman-teman pada bilang “Kalo Kauw Nak Pacak Naek Sepeda, Jato Dulu, Bedarah darah..” – Akhirnya belajarlah saya naik sepeda dipelataran kantor Brimob yang cuma batu-baru kecil dan tanah merah. Nggak kepingin jatuh juga dibikin jatuh, namanya mendengar “bisikan” – Sama dengan ajaran teman kalau mau bisa berenang harus menelan udang hidup-hidup yang guebleknya saya ikuti juga.

Sehari, dua hari, kaki sudah “rengkoh” alias babak bundas,  Berco bengkok (ini nama lampu depan), dinamo sudah ndak tau dimana letaknya.

Dasar saya orangnya penakut, kata orang sejem dua jem bisa – saya kok macam janji dengan tukang kacamata resep dokter (mata)- Judull iklan katanya ditunggui sehari selesai – buntutnya ya seminggu juga.

Mimbar yang belum berkacamata, lama-lama ketemu slag. Cari turunan, jadi naik sepeda tanpa menggowes. Pokoknya seimbang saja dulu.

Akhirnya – memang saya mulai “selancar” dan berani mengontel sedikit-sedikit.

REM DI PEDAL

Naik ke Sadel adalah bonus kalau dapat turunan.Dengan resiko kalau ada halangan didepan kudu bisa turun dari singgasana lalu mengerem.

Dan jangan lupa sepeda ini remnya di pedal alias kalau mau ngerem kita harus memutar pedal berlawanan. Kami menamakannya Rem Torpedo, padahal kalau dilancarkan bunyinya cuma Engket-Engket diikuti dengan ban belakang ngepot sedikit.

Entah ada beribu saraf dikepala dijalankan hanya untuk naik sepeda dengan gaya “side entry” karena badan terhalang palang besi. Lalu mengerem dengan memutar balik arah gowes.

Maka pergi sekolah menjadi sedikit cepat tidak harus tunggu opelet yang rodanya masih pakai Jari-Jari. Lama kelamaan saya merasa jemu kalau harus turun naik sepeda lantaran dihadang jalan menanjak. Maka jalan satu-satunya sedikit memutar melalui Puncak Sekuning tetapi kiri kanan kuburan melulu. Repotnya kalau sekolah ada kegiatan EXKUL – dan sudah melewati magrib, melewati kuburan yang bener-bener sepi orang, sambil takut saya menghayal gimana ya kalau botol bir yang ditancapkan terbalik dipekuburan – mendadak berisikan asap. Lalu ada sesosok pocong berasal. Tapi sampai naik-naikan ke kelas 3 SMP hayalan saya belum pernah kelakonan.

Sejak Pensiunan ini saya balik naik sepeda.  Meski katanya MTB tapi saya memperlakukannya sepeda santai. Paling rata kecepatan 6km. Sekali tempo kepingin dipercepat dada sesak dan rasanya mau muntah.

Waktu pertama nggowes, saya kesenengan dan nekad. Disatu tempat saya kudu stop untuk istirahat, ada kram dibagian depan yang bergesek dengan sadel. Begitu sepeda direm, kaki kanan diputar kebelakang ternyata mirip PKS yang menolak koalisai. Kaki kanan saya membantah terus. Dan gedubrak, aku terjatuh lagi dan terjatuh, seperti kata Charli ST12.

Pelajaran lainnya Sepeda sesantai apapun, harus tetap fokus. Meleng sedikit, misalnya melihat tali sepatu, alamat tanggul pembatas jalan bakal dihajar. Gedubrak lagi.

Advertisements