Soto, Saoto, Stoto dan Sramphu


Kalau pulang mudik dari rumah Anak Sulung, maka pernik kamar mandi biasanya ditinggal disana. Biasanya saat “mudik” berikutnya saya sudah lupa barang sendiri di kamar mandi (KM). Ini crucial (ikutan politisi kalau bicara nasib bangsa), sebab yang terjadi adalah beli toileteries sampe dobel, tripel sehingga KM kecil makin umpek-umpekan.

Untuk gampangnya setiap kemasan saya beri tanda berupa coretan spidol. Ini juga warisan MudLogging demen memberi tanda pada pakaiannya berupa nomor kamar setiap pindah rig sehingga terkesan jadi bang Napi.

Biasanya kalau ada tamu Putri saya habis menggunakan kamar mandi maka pertanyaan pertama adalah : aku lihat wadahnya sabun cair, sampo cair tapi kok tulisannya aneh Shampo menjadi Sramphu Sabun menjadi Srabun. Lia, putri saya biasanya cuma mesem : “Bokap punya kerjaan..”

Dia nggak tahu bahwa evolusi penambahan “r” ini ADALAH SEJARAH PANJANG dimulai dari sebuah makanan bernama Soto, di eVOLUSI oleh Bu Endang Susilowati menjadi Saoto, dan almarhum mas Untung menyebut Sroto. Saya tetap dengan semangat Saoto, Soto, Sroto mengubah menjadi Srabun dan Sramphu.

Advertisements