Ketika Ibu harus di Evakuasi


 

Hampir setiap hari kami yang tinggal di kawasan Jakarta Barat melewati Rumah Sakit mentereng dengan embel-embel Rujukan bagi rumah sakit lainnya. Ada semacam rasa akrab dengan bangunan yang di Prakarsai oleh Tien Soeharto ini. Namun sekarang bangunan ini seperti meledek “Sapa Suru Datang ke RS kami…”

TIGA HARI TANPA VISIT DOKTER AHLI

Ibu Mertua (selanjutnya saya sebut Ibu) mulai dimasukkan ke RS Rujukan ini hari Senin…Walaupun aneh namun kami masih bisa maklum kalau tak seorang dokter Ahlipun yang melakukan Visit.

Lantas sehari kemudian hari Selasa selama itu tamu hilirmudik memasuki RS, dokter pun tetap belum berkenan hadir. Kami tanya perawat, jawabannya beragam. Ada yang bilang Dokter sedang di Poliklinik lain sehingga tidak bisa diganggu. Ada yang menjawab mengikuti rombongan menteri sehingga jelas sangat tidak boleh diganggu. Padahal ibu sedang berpacu melawan penyakit ganas hanya dalam 3 minggu terakhir sudah mampu melemahkan pertahanan tubuhnya.

Saya yang kebagian tugas malam hanya bisa mencatat dan mengabadikan setiap perawat yang datang, sehingga kalau ada urusan pengadilan atau tuntutan saya memiliki data-data autentik.

MAK LATAH

Pengunjung tetap setiap pagi adalah wanita selatah Mpok Atiek sehingga untuk mengucapkan salam kami tidak berani demi menghindarkan ia mengucapkan kata-kata seperti layaknya seorang latah.  Bayangkan baru masuk kamar, disebelah pasien yang sedang lelap ia sudah berteriak “EH KODOK, EH COPOT..”

KAMAR VVIP – NGGAK NGARUH- AC TETAP PANAS- RANJANG RUSAK-SAMPAH BERTUMPUK

Kamar yang kami pakai adalah kamar VVIP setingkat lebih mahal dibanding kamar VIP, maksudnya agar ibu kerasan. Namun AC kamar tetap manteng di 26.7 derajat alias tak berfungsi sempurna.

Berkali-kali saya komplin ke perawat yang cuma menanyakan kamar nomor berapa dan berharap setelah itu saya kena Amnesia, sebab tak seorang ahlipun datang untuk memeriksa. Ibu sampai keringatan – rambutnya basah.

Jawaban justru datang dari beberapa petugas kebersihan. Menurut mereka rata-rata AC di lantai sini memang pada rusak pak… Duh… hari gini AC bisa menjadi persoalan..

RANJANG RUSAK

Karena berbaring seharian, tak heran Ibu sering minta posisi tidurnya diubah-ubah. Celakanya manakala posisi tidur ditegakkan, ranjang ikutan menciut.

Ketika kami tanyakan kepada jururawat, ranjang tersebut memang sudah lama tidak berfungsi sempurna.

TIGA HARI TANPA DOKTER

Hari Rabu yang berarti sudah hari ke3, pasien berada di kamar di kamar VVIP (maaf diulang-ulang cuma untuk penekanan), ternyata ibu hanya dikunjungi yang mengaku Ahli Gizi, dua perawat yang hanya untuk menginfus Glukosa itupun sampai berulang kali menyakiti lengan ibu.

Padahal Ibu memiliki riwayat Diabetes Akut namun tak sekalipun ada tanda-tanda prosedur standar dilakukan.

Bocoran info justru datang bahwa alat yang akan digunakan ibu sebetulknya belum dimiliki RS rujukan ini dan akan dipinjamkan ke RS PERSAHABATAN.

HARI KETIKA – MUNTAB

Hari itu juga Infus yang belum selesai kami minta cabut. Seharusnya untuk pindah ke RS lain karena kondisi ibu sudah lemah kami merencanakan pakai AMBULAN, tetapi pengalaman tiga hari belakangan dengan RS ini jangan-jangan mau pesan Ambulanpun harus menunggu pinjaman dari RS lain, itupun kalau supirnya tersedia.

Akhirnya dengan terpaksa Ibu yang sudah mulai menderita pikun kami bawa pakai mobil pribadi.

Klasik rasanya kalau saya harus menulis, berobat di Luar Negeri masih lebih kompetitif.

Tahun 2002 sekalipun ada ganjalan dihati – kurang puas dengan pelayanannya, namun saya masih toleransi sebab istri saya yang di”sayat” salah satu bagian kewanitaannya ternyata sehat sampai sekarang. Pasalnya ada dua nama yang sama.

Erni istri saya masih memiliki Buah Dada Lengkap menurut pemeriksaan ada benjolan sebesar Bola Bekel belum kecemplung minyak tanah. Namun saya heran mengapa daging yang saya lihat sebesar biji semangka Taiwan.

Ternyata “preparat” tertukar sebab saya dengan ada seorang suami yang komplin, buah dada istrinya sudah dihabiskan beberapa tahun lalu kok sekarang dikasih daging segar.

Saya ingat dalam satu kesempatan cek dengan dokter bedahnya, saya menanyakan bagaimana sample bisa tertukar.

Maka dokter bedah yang semula akrab macam saudara karena pernah kerja di Rig Pengeboran, langsung jaga jarak dan mode berbicara kepada saya bak petugas Samsat menghadapi peserta ujian SIM yang datang sendiri.

CATATAN

Jaman sekarang RS bisa menyewa pengacara, jadi nama RS, nama Dokter seharusnya responsible cuma ada di kantong kami. kalaupun dicatat, ada seorang perawat lelaki yang sangat kooperatif. Saya lihat ada satu ruang di Lobbi sebelah ATM BRI yang menangani keluhan pelanggan. Tapi saya memilih menggunakan FB.

Advertisements