Kursi Roda


Kursi Roda

Ting-Tong, suara bel pertanda ada tamu yang kami nantikan. Sosok perempuan Jawa bercelana putih gojak-gajek (sedikit dibawah lutut), rambut dipotong pendek, baju lengan pendek, dia memperkenalkan diri sebagai Tini (nama seperti ini biasanya milik sosok Manis). Aseli Jawa tetapi sudah mulai mengambil cengkok Malaysianan.  Rupanya dia mengantarkan Kursi Roda Pesanan kami.

Tapi barang ini juga sempat menimbulkan shok – siapa sih yang mau ditunjang oleh kursi roda. lalu kepada sang calon majikan saya bilang, waktu Papa tamat SMU, maunya jadi AKABRI – tetapi keburu ketahuan berkacamata.  Memakai kacamata saat itu seperti orang “handicapped”. tetapi dengan waktu rasa rendah diri tersebut bisa diatasi.

Setelah berkacamatapun dasar otak tak sehat, mendaftar di AKUBRI pun tidak diterima. AKUBRI – Akademi Uang dan Bank RI) di Yogya.

Lalu suasana setengah shok saya cairkan dengan ambil alih dengan langsung, “nyengklak” dikursi dan bergerak kesana kemari. Kursi roda adalah alat penolong, bahkan terkadang membantu.

Antrean di Takashimaya yang begitu padat mendadak sang portir berbicara sebentar kepada supir taxi, dan tak lama tangannya melambai bahwa pengguna kursi roda harus didahulukan. Tetapi ada satu Kulit Pucat yang protes, mengapa kami didahulukan tanpa antre.

Advertisements