Upacara bakar uang kertas ala penganut Kong Hucu ternyata tidak boleh sembarangan..


Upacara bakar uang kertas ala penganut Kong Hucu ternyata tidak boleh sembarangan..

Saat sepedahan sendirian disuatu sore saya sampai dipojok Singapore saya melihat sekelompok keluarga terdiri 3 kendaraan mobil dan beberapa sepeda motor serta sepeda biasa mulai berkumpul di tanah lapang tak berumput.

Mereka menurunkan rumah-rumahan, mobil-mobilan, uang-angan yang terbuat dari kertas. Bisa ditebak benda terbuat dari kertas ini bakalan dilumat si Jago Api.  Apartemen di Singapura memang dilengkapi Drum-drum yang berlubang guna keperluan pembakaran kertas sembahyang “Burning Joss.” – Tak jarang melihat seekor ayam gemuk tak berbulu dan mulai mengeluarkan bau tak sedap sedang dipatuk oleh burung gagak disamping sesembahan seperti Kue Apam, Bolu, Buah-buahan. 

Si ALE- nama sepeda, saya tepuk punggungnya biar stop. Tapi yang jelas rem kudu dipencet. Gebleknya saya kok tidak bawa kamera.

Dipimpin oleh seseorang yang dituakan, rombongan mengitari api ungun yang sejatinya rumah-rumahan, mobil-mobilan, uang-uangan yang dibakar. Putaran ini makin lama makin cepat mengikuti pemimpin yang bawa tali.. Mendadak mereka berteriak bersama-sama diikuti oleh tepuk tangan.

Tunggu punya tunggu kenapa tidak ada yang “trans” – atau kesurupan. Dulu masih kecil di Bukit Besar-Palembang , saya sering menyelinap ke kelenteng menonton acara penyembuhan ala Kelenteng yang umumnya selalu ada yang trans lantas menulis pesan diatas kertas merang.

Peristiwa ini saya ceritakan kepada Lia putri saya.. Eh dia nambahin…bahwa teman kantornya – mempunyai seorang nenek yang baru saja meninggal dunia. Lantas setelah kremasi , biasanya arwah dilepas dengan upacara yang sama yaitu bakar Rumah, bakar Mobil dan Bakar Uang Kertas Ada dua maksud.  Pertama Arwah sadar bahwa dia sudah lepas ikatan dengan yang didunia. Kedua  agar di alam sana, ia punya rumah dan mobil sama seperti di alam nyata.

Kenyataannya, usai upacara ndilalah salah satu anggota bermimpi didatangi almarhumah.. Pingin tahu apa pesan sang arwah..

“Elo ya… kasih ruma ama guwa, tapi gua kagak bisa pakai (rumah), sertifikatnya masih elu simpen?”

Singkat kata singkat cerita, keluarga almarhum terpaksa memang membuatkan tiruan sertifikat rumah yang dimaksud.. Lalu mengadakan upacara bakar-bakaran lagi…

Beberapa malam, sang arwah datang lagi “makasih..”

Advertisements

Bahasa “Inggris” yang kerap didengar (1)


  1. Ada tilpun berdering diruang kerja Mud Logger – lantas isinya instruksi dari Dick si Company Man asal Texas – “Mudlogger Set Your Pump Stroke to Zero, we start Circulate Bottom Ups.” 

Ini bukan pengumuman biasa.

Pertama mudlogger akan mereset Pump Stroke Counter menjadi Nol. Dulu pump stroke counter memang dibuat dari Tachometer mobil yang dimodifikasi sehingga saat ada kegiatan pompa, mereka bergantian, saling berbunyi klik..klik.

Teman-teman teknisi malahan membuat pump stroke macam timer, artinya bilamana mencapai angka tertentu alarm berbunyi sehingga mudlogger akan memberi tahu kepada Juru Bor, kepada Tool Pusher, kepada Drilling Supervisor bahkan kepada rekan Mud Engineer dalam artian semua cutting dalam lubang sudah disirkulasikan keluar habis (bottoms up).

Tentu mudlogger harus dibekali pengetahuan Geometri atau Profile Lubang Bor, Panjang DrillPipe yang ada dalam lubang serta ukuran garis tengah luar dan dalam, Panjang DrillCollar dan ukurannya, panjang Heavy Weight Drillpipe mulai dari ukurannya,  jumlah section lubang bor mengingat lubang bor minimum ada dua section. Pertama Section lubang bercasing, kedua section lubang terbuka. di lepas pantai malahan ada section ukuran Pipa Riser.

Sudah barang tentu tugas mudlogger adalah mengumpulkan serta membungkus dan memberi label cutting yang naik ke permukaan. Aturan yang praktis, kumpulkan cutting sebanyaknya entah diminta atau tidak oleh para Wellsite Geologist. Sebab sekali cutting hilang karena terlanjur dibiarkan maka MudLogger akan bermasalah dengan data.

Yang tidak boleh dilupakan adalah Waktu dan Tanggal kapan mulai sirkulasi. Dan jangan pernah lupa mencatat dalam buku Agenda Bersama (Mudlogger Wajib mengisi Agenda, sehingga terlatih menulis dan membuat laporan). Berani jamin – teman dari Directional Driller, MWD LWD, Bit Engineer akan girang sekali mendapat informasi seperti Awal Sirkulasi, lama sirkulasi dan Stop Sirkulasi. Jangan pernah menggantungkan ingatan, sebab boleh jadi beberapa minggu atau bulan kemudian ada pertanyaan sederhana seperti Kapan Sirkulasi berhenti.

Ketika Ibu harus di Evakuasi


 

Hampir setiap hari kami yang tinggal di kawasan Jakarta Barat melewati Rumah Sakit mentereng dengan embel-embel Rujukan bagi rumah sakit lainnya. Ada semacam rasa akrab dengan bangunan yang di Prakarsai oleh Tien Soeharto ini. Namun sekarang bangunan ini seperti meledek “Sapa Suru Datang ke RS kami…”

TIGA HARI TANPA VISIT DOKTER AHLI

Ibu Mertua (selanjutnya saya sebut Ibu) mulai dimasukkan ke RS Rujukan ini hari Senin…Walaupun aneh namun kami masih bisa maklum kalau tak seorang dokter Ahlipun yang melakukan Visit.

Lantas sehari kemudian hari Selasa selama itu tamu hilirmudik memasuki RS, dokter pun tetap belum berkenan hadir. Kami tanya perawat, jawabannya beragam. Ada yang bilang Dokter sedang di Poliklinik lain sehingga tidak bisa diganggu. Ada yang menjawab mengikuti rombongan menteri sehingga jelas sangat tidak boleh diganggu. Padahal ibu sedang berpacu melawan penyakit ganas hanya dalam 3 minggu terakhir sudah mampu melemahkan pertahanan tubuhnya.

Saya yang kebagian tugas malam hanya bisa mencatat dan mengabadikan setiap perawat yang datang, sehingga kalau ada urusan pengadilan atau tuntutan saya memiliki data-data autentik.

MAK LATAH

Pengunjung tetap setiap pagi adalah wanita selatah Mpok Atiek sehingga untuk mengucapkan salam kami tidak berani demi menghindarkan ia mengucapkan kata-kata seperti layaknya seorang latah.  Bayangkan baru masuk kamar, disebelah pasien yang sedang lelap ia sudah berteriak “EH KODOK, EH COPOT..”

KAMAR VVIP – NGGAK NGARUH- AC TETAP PANAS- RANJANG RUSAK-SAMPAH BERTUMPUK

Kamar yang kami pakai adalah kamar VVIP setingkat lebih mahal dibanding kamar VIP, maksudnya agar ibu kerasan. Namun AC kamar tetap manteng di 26.7 derajat alias tak berfungsi sempurna.

Berkali-kali saya komplin ke perawat yang cuma menanyakan kamar nomor berapa dan berharap setelah itu saya kena Amnesia, sebab tak seorang ahlipun datang untuk memeriksa. Ibu sampai keringatan – rambutnya basah.

Jawaban justru datang dari beberapa petugas kebersihan. Menurut mereka rata-rata AC di lantai sini memang pada rusak pak… Duh… hari gini AC bisa menjadi persoalan..

RANJANG RUSAK

Karena berbaring seharian, tak heran Ibu sering minta posisi tidurnya diubah-ubah. Celakanya manakala posisi tidur ditegakkan, ranjang ikutan menciut.

Ketika kami tanyakan kepada jururawat, ranjang tersebut memang sudah lama tidak berfungsi sempurna.

TIGA HARI TANPA DOKTER

Hari Rabu yang berarti sudah hari ke3, pasien berada di kamar di kamar VVIP (maaf diulang-ulang cuma untuk penekanan), ternyata ibu hanya dikunjungi yang mengaku Ahli Gizi, dua perawat yang hanya untuk menginfus Glukosa itupun sampai berulang kali menyakiti lengan ibu.

Padahal Ibu memiliki riwayat Diabetes Akut namun tak sekalipun ada tanda-tanda prosedur standar dilakukan.

Bocoran info justru datang bahwa alat yang akan digunakan ibu sebetulknya belum dimiliki RS rujukan ini dan akan dipinjamkan ke RS PERSAHABATAN.

HARI KETIKA – MUNTAB

Hari itu juga Infus yang belum selesai kami minta cabut. Seharusnya untuk pindah ke RS lain karena kondisi ibu sudah lemah kami merencanakan pakai AMBULAN, tetapi pengalaman tiga hari belakangan dengan RS ini jangan-jangan mau pesan Ambulanpun harus menunggu pinjaman dari RS lain, itupun kalau supirnya tersedia.

Akhirnya dengan terpaksa Ibu yang sudah mulai menderita pikun kami bawa pakai mobil pribadi.

Klasik rasanya kalau saya harus menulis, berobat di Luar Negeri masih lebih kompetitif.

Tahun 2002 sekalipun ada ganjalan dihati – kurang puas dengan pelayanannya, namun saya masih toleransi sebab istri saya yang di”sayat” salah satu bagian kewanitaannya ternyata sehat sampai sekarang. Pasalnya ada dua nama yang sama.

Erni istri saya masih memiliki Buah Dada Lengkap menurut pemeriksaan ada benjolan sebesar Bola Bekel belum kecemplung minyak tanah. Namun saya heran mengapa daging yang saya lihat sebesar biji semangka Taiwan.

Ternyata “preparat” tertukar sebab saya dengan ada seorang suami yang komplin, buah dada istrinya sudah dihabiskan beberapa tahun lalu kok sekarang dikasih daging segar.

Saya ingat dalam satu kesempatan cek dengan dokter bedahnya, saya menanyakan bagaimana sample bisa tertukar.

Maka dokter bedah yang semula akrab macam saudara karena pernah kerja di Rig Pengeboran, langsung jaga jarak dan mode berbicara kepada saya bak petugas Samsat menghadapi peserta ujian SIM yang datang sendiri.

CATATAN

Jaman sekarang RS bisa menyewa pengacara, jadi nama RS, nama Dokter seharusnya responsible cuma ada di kantong kami. kalaupun dicatat, ada seorang perawat lelaki yang sangat kooperatif. Saya lihat ada satu ruang di Lobbi sebelah ATM BRI yang menangani keluhan pelanggan. Tapi saya memilih menggunakan FB.

Kode – TiPi …Lay..


Pria dalam foto ini memarkirkan kendaraannya di tempat yang seharusnya tak boleh parkir. Memang tidak ada tanda Verboden namun secara Singapura, jalan raya bukanlah tempat Parkir.

Biasanya ia akan sekedar membeli keperluan di supermarket ANGMO, atau 7-Eleven atau hanya minum segelas kopi/teh atau bir di  Kopitiam.

Kadang polisi Lalu Lintas yang disini disingkat TP (Traffic Police) datang merazia pelanggar ini.

Yang saya saksikan adalah cari Polantas Singapore menilang mereka dengan cara yang elegan dan JAUUUUH dari kesan mencari kesalahan apalagi menjebak pelanggar lalu lintas padahal dendanya tidak main-main minimal mereka akan kena denda 150 dollar. Putri saya pernah dijemput oleh kendaraan kendaraan perusahaan yang parkir menunggunya didepan Fire Brigade (Bombat, Pemadam Kebakaran), langsung ditilang.

Mula-mula Aparat berseragam biru-biru akan datang dengan motor gede, seakan berparade ia akan mengitari “TKP” layaknya kampanye  kedatangannya. Kalau sudah begini tak jarang pelayan Kopitiam (Kedai Kopi) berteriak seperti menyanyi ” TiPi Lai…, TiPi Lai”  (kira-kira Razia Polantas) dan sebentar saja pengunjung restoran atau siapa saja bertemperasan untuk memindahkan kendaraan mereka, didepan pak Polantas Singapura.

Pak Polantaspun dengan sabar menunggu pelanggar hengkang dari jalan tersebut. Jadi tidak malahan dihalang-halangi seperti yang sering kita lihat dinegeri. Kepingin saya memotret pak polisi in action, tetapi Satrio putra saya pernah melakukan hal yang sama saat menonton F1, dan langsung disuruh menghapus foto dari kamera.

Tentunya tidak semua mampu bereaksi cepat, nah pelanggar yang keukeuh parkir maka perlahan…sekali lagi perlahan didatangi ditengok kiri kanan, dilihat apakah ada pengemudinya (kalau ada apakah hidup atau mati) sebelum ia mengeluarkan kamera dan jepret Plat kendaraan dijepret dari depan, dari belakang.  Secarik kertas dijepitkan diantara wiper dan kaca depan. Pertanda undangan membayar denda.

Biasanya kalau saya bercerita masalah Poltas dinegeri orang, komentar rekan secara defensif mengatakan “Singapore kan negara kecil…” – mungkin itulah sebabnya Poltas di Grogol menurunkan satu team Volly untuk menjebak pelaku “lewat jalur Busway” – Di jalan Latumeten Grogol marangkali satu Resort Polantas habis buat menjebak pelanggar  jalur Busway..

Kesannya kita memiliki DENSUS – Buru Sergap – Pelanggar Busway..

TiPi = TP=Traffic Police

mimbar (dot) saputro (at) yahoo (dot) com (dot) au

Kursi Roda


Kursi Roda

Ting-Tong, suara bel pertanda ada tamu yang kami nantikan. Sosok perempuan Jawa bercelana putih gojak-gajek (sedikit dibawah lutut), rambut dipotong pendek, baju lengan pendek, dia memperkenalkan diri sebagai Tini (nama seperti ini biasanya milik sosok Manis). Aseli Jawa tetapi sudah mulai mengambil cengkok Malaysianan.  Rupanya dia mengantarkan Kursi Roda Pesanan kami.

Tapi barang ini juga sempat menimbulkan shok – siapa sih yang mau ditunjang oleh kursi roda. lalu kepada sang calon majikan saya bilang, waktu Papa tamat SMU, maunya jadi AKABRI – tetapi keburu ketahuan berkacamata.  Memakai kacamata saat itu seperti orang “handicapped”. tetapi dengan waktu rasa rendah diri tersebut bisa diatasi.

Setelah berkacamatapun dasar otak tak sehat, mendaftar di AKUBRI pun tidak diterima. AKUBRI – Akademi Uang dan Bank RI) di Yogya.

Lalu suasana setengah shok saya cairkan dengan ambil alih dengan langsung, “nyengklak” dikursi dan bergerak kesana kemari. Kursi roda adalah alat penolong, bahkan terkadang membantu.

Antrean di Takashimaya yang begitu padat mendadak sang portir berbicara sebentar kepada supir taxi, dan tak lama tangannya melambai bahwa pengguna kursi roda harus didahulukan. Tetapi ada satu Kulit Pucat yang protes, mengapa kami didahulukan tanpa antre.

PRT kita memang tidak dibayar 8 bulan pertama


Menyiapkan kedatangan cucu beberapa bulan mendatang sementara sang Ibu dan Ayah masih berkutat mencari nafkah, pertanyaannya bagaimana dengan kedatangan mahluk baru nantinya, lalu urusan rumah tangga harus mengalami perubahan radikal.

Maka keputusannya adalah mencari Mbak PRT yang bisa meringankan tugas menyapu, mengepel, setrika dan merawat bayi selama orang tuanya bekerja 8-5, dan baru tahu bahwa para PRT ini selama 8 bulan pertama bekerja mereka tidak mendapatkan bayaran.  Karena selama proses transfer ke Singapura, seluruh biaya telah diserap oleh agennya. Mau tahu ancer-ancer monthly ratenya? berkisar 500 dollar per bulan.

 

Tiga Bhiksu (Abal-abal) ditangkap di Jakarta Barat – kata Republika


Yang ini Monk Original

Kesan saya kalau melihat orang berjubah oranye kecoklatan, membawa mangkuk nasi, maka orang ini pertama adalah manusia biasa yang sedang menjalani “wajib Pendeta” – sedang menyandang paling tidak 227 larangan termasuk duduk bersama dengan perempuan.

Kendati di sebuah Gereja di depan Gambir saya melihat Pendeta yang usai menikahkan keponakan saya – kok langsung menuju barisan Jemaah dan memberikan Cipika Cipiki..(saya merasa aneh sebab karena ndak ngerti). Mungkin kalau cipika-cipiki sesama lelaki berjenggot kok seperti  sesuatu yang dibanggakan” itupun kadang saya masih mempertemukan alis.”

Manusia berjubah ini konon hanya makan sampai siang saja, rejekinya didapat dengan menengadahkan tangan tetapi tidak boleh meminta. Mereka hanya menerima sedekah karena seseorang memang ikhlas memberikan.

Cuma yang di Grogol – istri saya komentar “Tuh Pendeta menyebalkan, jangan jangan KW1” pasalnya kalau ngemis lantas ditolak persaben bang, maka keluarlah makiannya dalam bahasa Cina. Apa ini pendeta garis keras… Jangan jangan ini model yang lagi ngetrend dinegeri kita slogannya “Kami Cinta Damai – tapi lebih cinta Nggrudug mesjid dan merusak rumah ibadah lain, kadang Bar juga.

Menurut media Republika, ternyata ada 3 Pendeta Cina berjubah Oranye Bluwek ini cuma abal-abal dari Cina sebab pada dasarnya mereka pengemis. Wah baru 3 yang ketangkap, kalau kata Winetou – bilamana melihat ada satu Kulit Pucat berarti banyak Kulit Pucat lainnya.

Selain memporak-porandakan penghasilan pengemis aseli Negeri ini, Jangan-jangan yang lain sedang mencoba mengikuti jejak sukses kakek moyangnya ketika datang ke negeri ini sebagai orang melarat lalu menjadi konglomerat.