Mesuji–ala Metro Lampung Tengah – 1980


Kasus Mesuji – ini mengingatkan saya pada tahun 1980-an di Metro-Lampung tengah.

Setelah bertahun-tahun para petani transmigran mengurus tanah sesuai dengan anjuran pemerintah yaitu transmigrasi spontan maupun ngeden, apalagi transmigran terkenal dengan ketekunannya maka lahan tertidur mulai bangkit menjadi hijau royo-royo, dan sebutan Ujung Dunia telah berubah menjadi tanah yang bakalan menjadi (lebih) Kaya. Tidak ketinggalan para aparat di kawasan tersebut mulai mengusir petani-petani tersebut dengan alasan merebut lahan mereka.

Bapak biasanya tidak banyak bercerita kalau soal pekerjaan yang sikapnya rahasia.  Ia bekas perwira Intel. Setiap gerakan, keresahan dalam masyarakat selalu dipantau. Baginya seorang pembelot NKRI – akan tetap membelot selamanya. Tak heran manakala melihat suatu masalah beliau selalu melihat silsilah seseorang.

Tetapi buku hariannya menuliskan bahwa seorang Aparat yang dekat dengan pihak keamanan ditengarai memiliki senjata FN, mulai melakukan ancaman-ancaman.

Penduduk yang biasa terkesan lemah, bicara sambil membentuk jempol diantara pahanya – ternyata tidak semuanya manut dan mudah digertak. Apalagi itulah satu-satunya kekayaan mereka seperti yang dijanjikan negara. Mau pulang ke Jawa- tidak punya harta lantaran semua habis dijual sehingga disebut bedol desa.

Sekalipun diancam namun ada yang membandel. Beberapa pemimpin petani mengadukan hal ini kepada DPR, bahkan ada yang ke Jakarta. Namun ancaman menjadi kenyataan. Seseorang yang paling Vokal beberapa hari tidak nampak batang hidungnya. Kecurigaan penduduk muncul ketika mendadak ada gundukan tanah baru, terlalu besar untuk ukuran manusia. Namun ketika gundukan ini dibongkar, sang Vokal sudah menjadi mayat dan dikubur beserta sepeda motornya.

Beberapa penduduk diam-diam melaporkan bahwa ada Mr. Orang Kuat yang memang sudah mengancam menghabisi para pembangkang. Apalagi sebelum menghilang mereka melihat keduanya terlibat pembicaraan keras.

Orang Kuat-pun ditahan. Namun turun sebuah perintah dari Kejaksaan, agar tahan dibebaskan.  Polisi  biasanya memiliki Jurnal serah terima tahanan. Dan alasan mengapa tahanan dibebaskan. Saya masih ingat bukunya macam yang biasa dipegang tukang kredit rantang, buku ekspedisi yang langsing dan panjang.

Begitu bebas, orang kuat yang kondang memiliki ilmu kebal akan Tapak Palune Pande – mulai mengeluarkan pistolnya dan lagi-lagi mengancam penduduk, bahkan dengan arogan ia meminta ganti rugi pencemaran nama baik sebesar 150 ribu rupiah per kepala keluarga. Kecuali “mau dikubur bersama sepeda motor“.

Sedih karena kehilangan pimpinannya, secara spontan penduduk mengambil Batang Ubi Singkong lantas beramai-ramai menyerang Kepala Desa mereka sampai akhirnya tewas.

Bapak masih ingat saat itu seluruh penghuni  desa dikumpulkan dan dipanggil siapa yang bertanggung jawab mencelakai Kepala Desa, mereka sambil berjongkok mengangkat tangan “Kulo Pak, Kulo Pak..“- Penuh deh sel polres Metro. Satu “DATSUN” penuh batang singkong terpaksa dijadikan bahan bukti.

Ada beberapa hari bapak harus menghindar dari wartawan.  Tetapi suatu saat kepergok juga. Sekalipun keterangan tertulis sudah diberikan, saat muncul naik  cetak nyatanya cerita berbeda dengan yang telah diberikan.

Kasus tanah, saya dengan sudah lama sekali saya dengar. Beberapa saya memilih menyimpan dalam-dalam ketimbang menuliskan dalam blog. Tetapi kalau ada nyawa melayang, ya memang demikian harga perebutan tanah yang bisanya korban adalah para transmigran.

Bahan *** dari catatan harian Bapak (penggalan).

Advertisements