Manfaat Jalan Pagi (3)


http://www.youtube.com/watch?feature=endscreen&NR=1&v=KptotvX_1Kw

Pernah dengar lagu ciptaan Mang Koko yang dinyanyikan oleh Benyamin Sueb. Saya berikan link YouTubenya diatas, mudah-mudahan saja  pengupload file tersebut tidak memprotes saya. Atau masuk saja ke Metro Pondok Indah, pengelola disini gemar memutarkan serial lagu kocak Benyamin.

Lagu Badminton ini sampai sekarang masih saya nyanyikan dan setiap kali pula Erni, pasangan saya protes. Nyanyi kok seprono seprene “badminton” 35 tahun lalu..

Mudah-mudahan keluarga penulis lagu Mang Koko dan keluarga Benyamin Sueb tidak protes sebab judul lagu saya  plesetkan menjadi INDIA di mana-mana.

Asal jalan kaki sampai jelek, diujung tikungan, di setopan lampu merah saya selali saja bertemu mereka. Sepatu GumBoat kuning, rompy mengkilat, help plastik, tangan menyangking sekantong kopi  adalah pemandangan sama menariknya dengan melihat lautan biru.  Kadang kangen siapa tahu diantara mereka tersempil pekerja kulit Sawo Kecik yang bisa diajak “eh elu ngapain dsb..” – Etnis ini boleh dibilang memiliki kemampuan pisau MacGyver. Mau jadi kuli kasar, okay… Jadi ahli IT – bisa banget.


Kadang saya berfantasi, jangan-jangan dulu yang bikin Borobudur tenaga kasarnya juga mereka, selain Softwarenya.  Saya ngos-ngosan diterik matahari, sudah pakai topi pandan yang lebar, dan cuma aktivitas jalan kaki. Mereka manteng angkat kayu, nyabit rumput, pindahkan kerakal dengan laju kerja yang stabil.

Kalaupun mau di “cela” – bau badannya mengharuskan saya kalau bisa pinjam ilmu sakit sinuitis agar tidak keliyengan.

Penderitaan terbesar manakala di MRT yang berdesakan lantas saya dibelakang mereka yang sama-sama lempar lembing (bergelantungan). Thobaaat..thooobaat… Padahal kalau pagi-pagi bertemu mereka bau cendana semerbak. Tapi kalau sudah siang… Ambyar semua.

Di restoran-restoran, umumnya teman dari Pinoy yang menguasai area…

Punggol 10-Des-2011
mimbar <dot> saputro  <at> yahoo <dot> com <dot> au

Advertisements