F1+Linkin Park = Capek dan Demam


Bingung juga mana Vettel, mana Button, mana Hamilton maka F1 Malam yang saya tonton, di Singapura September 2011 sambil berdiri dibalik pagar mendengar raungan mesin dari kejauhan. Lalu disebuah tikungan beberapa bayangan melesat, suara perseneling diganti sampai mobil tersentak lalu “reeeng” mobil berteriak lebih keras dari semula. Pembatas jalan terbuat dari plastik dihajar sampai mobil mumbul beberapa centimeter. Pak supir yang cuma nongol helmnya beberapa nano detik seperti melayang lalu mereka susul susulan menghilang dibalik tikungan. Eh kok mas dan mbak penyiar bilang Hammilton diseruduk oleh (entah siapa) di lap ke sekian. Padahal yang saya lihat dan nempel dikepala cuma iklan Miras yang juga bukan kebutuhan saya.

Kalau anda menutup telinga pakai “survival kit” dijual dua dollar berupa gabus sumbat telinga dan sepucuk Ponco (kalau hujan) yang banyak diperjual belikan, maka suara announcer bakalan tidak kelihatan. Penolong saya adalah Sony MW500 yang bisa disetel radionya ke 107 FM agar bisa cuma mendengarkan suara penyiar mewartakan kejadian, tapi kuping tidak pengeng.

Mendadak benda dingin menempal di telinga kanan saya, kalau senjata kelasnya Bazoka, rupanya pembediri (nonton sambil berdiri) belakang saya membidikkan kameranya yang moncongnya nyampe di kuping kanan saya. Lantas benda dingin menempel diubun-ubun. Seorang cewek berpakaian minim, penuh keringat juga membidikkan Bazoka yang macam ular naga dan ujungnya nyucup ubun-ubun saya. Lho kok seperti belum berakhir, Kanon lain mengepit rusuk kiri saya. ya sudah saya sepertinya berdiri, sejatinya menjadi pesakitan. Lha yang motret kan kadang pakai teknik panning untuk mengatasi kecepatan kendaraan. Kepala saya yang pening.

Eh saya dapat sasaran dan bahan gossip. Seorang India bercelana pendek, pakai kaos putih lengan pendek, kumis dan jenggotnya dicukur rapi. Sekalipun didepan sono belum ada kendaraan, tapi dia suibuk memanjangkan lehernya. Saya taksir dia sedang ngeker seekor semut hitam kurus dan bogel yang melintas di lap dari jarak 25m. Lalu dia membidikkan kameranya, dilihat hasilnya di layar, lalu geleng-geleng. Nah ini gerakan kepala puas atau tidak saya tidak tahu.

Berulangkali dia melakukan gerakan yang sama, membidik sesuatu yang tidak nampak, lalu matanya seperti dizoom mendekat obyek, balik ke zoom normal mengintip LCD lantas geleng-geleng.

Akhirnya karena kelamaan berdiri sambil dikepung Tele Lens dominan EOS, kaki saya kalah juga. Saya malahan ngegeloso dikaki panggung sambil kecapekan.

LINKIN PARK atau Bumblebee
Usai perlombaan, diujung barat (percaya aja itu barat), terdengar suara musik cadas.
Rupanya group band LinkinPark mulai beraksi dipanggung berjudul TAMAN PADANG. Merasa dulu penggemar Led Zeppelin, Black Sabath, The Who, maka sayapun berbaur dengan penonton tapi ndak berani ke tengah arena.Tapi satu lagu berakhir (mungkin) sebab asap ditiup awal, tengah, pertiga, akhir lagu.

Inilah faktor “U” – Linkin Park kok ditelinga saya macam ilustrasi filem Transformer.

Pulangnya, seharian saya diare…..Pakai demam lagi…Duh

Advertisements