Eyang IPAD


Beberapa cucu tetangga kadang main kerumah kami yang hanya dihuni dua orang. Saya yang seharian hanya berkutat dengan laptop. Yang lain main DS dan nonton sinetron Korea. Kalau ada balita datang rasanya seperti dapat mainan. Ada anak dengan segala yang explorer, tapi ada pula yang seperti pengamat politik. Salah satunya adalah Yangka, bocah lelaki 4 tahunan. Dia juga punya hak prerogative masuk ke kamar kerja, minta AC dihidupkan, lantas mulai naik kasur, bermain TABLET. Jadi jangan bicara apakah kakinya bersih atau tidak. Paling malamnya saya cari “seblak” – seikat lidi aren untuk menyapu pasir yang terbawa di kaki mungil mereka. Rupanya dia kerasan, seperti juga keponakan dan cucu lain. Cuma kalau dulu dia hanya merengek ke neneknya untuk main ke rumah EYANG,sekarang cara memintanya lebih komprehensip. Minta main ke Eyang IPED… Menjadi eyang- sering memperoleh keuntungan. Di Marina Square – Singapore, dalam sebua makan malam di buffet yang menghidangkan aneka masakan Durian, mereka memberikan discount separuh harga untuk biaya makan saya sebagai SENIOR. Kadang di MRT saya dipersilahkan duduk oleh anak-anak muda (ya tidak selalu). Kadang aku sering bertingkah pecicilan sih. Ketika Steve Jobs meninggal dunia, keponakan, ipar, teman pada ingat manusia yang selalu menceritakan Steve Jobs macam lebih dekat dengan “slilit-gigi” adalah saya. Lantas mereka pada kirim pesan singkat. “Steve Job dari Apple, meninggal dunia…Pakde ”
Mereka masih ingat saya pernah bilang …”orang ini tahu dalam hitungan minggu dia akan mati. Tapi profesionalismenya tidak luntur..
Dengan terengah engah, dia tetap presentasi didepan publik. Yang kelihatan “isyarat” bahwa ia menahan kesakitan Kanker Pancreas adalah ia hanya bicara sesekali, lalu digantikan oleh temannya…
Sementara saya masuk angin sedikit sudah berbaring dirumah..

Advertisements