Supir Tembak Kota Gudeg


Juli 2011, jleg pesawat Garuda Jakarta – Yogya mendarat sedikit keras sehingga sabuk pengaman terasa menekan perut ketika aku musti terbungkuk mengikuti irama pesawat yang memperlambat kecepatannya tapi reaksi penumpang malahan maju. (Sekaligus pesan ramah sepada diriku – bahwa memakai sabuk pengaman itu diudara, darat sangat perlu).
Kedatangan saya masih dalam rangka menjadi delegasi pertemuan di Gedung Melia Purosani.

Bergegas saya menuju antrean Taxi. Lalu saya katakan nama Hotel di jalan Sudirman. Petugas “bewajah Acetat” dibelakang loket bergumam angka tak jelas sehingga saya minta diulangi angka yang disebutnya. Pengalaman travelling, kita tidak boleh menebak angka yang ditawarkan sebab di Kintamani – Bali, para pedagang patung menyebut 20 ribu, ternyata ada nomor belakangnya duaratus-20ribu.

Saya dapat, nomor 13 – ah celaka nomor bencana kata yang percaya. Lalu aku coba mencairkan es diwajah masam petugas loket “Pak Kalau diganti Nomor 12A bagimana”. Laluingatan saya balik ke mantan perusahaan saya yang menggunakan nomor 12A dan 12B untuk menghindari alamat perusahaan No 13.

Garing… petugas melengos sambil asik mengamati deretan kupon taxi

Ini susahnya kalau perusahaan Taxi dikelola militer, sekalipun sudah pensiun menjadi “Anggota” dan sekarang petugas urusan Voucher “bawaannya macam Serigala melihat Kelinci…”

Tiket taxi saya simpan, pertama sebagai bukti kepada perusahaan bahwa saya bener-bener ke Yogya menjalankan tugas “masih enak” – kedua, sebagai cross check – ancar-ancar berapa sih klaim taxi seputar Yogya, pasalnya saya juga kebagian tugas memberikan dispensasi Taksi Klaim rekan-rekan saya. Sekaligus mencari “Sisa Sisa Orang Jujur..”

Taxi 13 Yogyakarta pun siap. Mobil berjalan ajrut-ajrutan, beberapa kali dia mengerem mendadak macam melihat lampu merah di jalan tol. Memang sih suasana kendaraan cukup menegangkan, apalagi pengemudi bermotor sepertinya saudara dekat Valentino Rosi, nyalip kiri, kanan, belakang, depan. Kadang dimata saya macam laron dihujan pertama.

Gagal memecah es petugas loket, saya memecah es pak Pir.. Biasanya resep gaul adalah memulai dengan urusan perut. Maklum ini sudah jam makan siang.

Ini juga ilmu gaul yang menyebutkan bahwa jangan pernah tidak berbicara dalam 30detik pertama dengan orang lain…”

“Pak makanan enak sepanjang perjalanan dari Maguwo-Adisucipto ke Hotel di jalan Malioboro, dimana ya.. ”

“Wah ndak tahu saya makanan enak disini….,” logatnya bukan orang Jawa. Lalu dari rusuk kanan saya menyerang pakai jurus lain, “anda dari daerah timur sana ya?” – Eh dia berkelit “Bukan, saya orang Yogya,” tapi jepitan pita suara macam bilang “Sekarang Ae So Deka(t)” –

Karena saya duduk didepan pak Supir yang sedang bekerja Ajrut-Ajrutan, foto yang terpampang di dashboard depan penumpang saya amati. Ada nama “samaran” Maryono sementara mahluk beku dingin disamping saya biasanya pakai nama sejenis Miguel, Michael. Atau jangan-jangan termasuk Shooting sinetron yang membuat cerita jadi mudah dengan model Manusia Kembar.

Namanya Jalan Solo, tempat tumpah darah Detergen saya, maksud saya pernah ngekos dan cuci baju sendiri di daerah Balapan sebelum bekas kandang kuda pacuan ini dilebur jadi hotel dan kampus. Iseng lagi beberapa rumah makan diseberang jalan saya tunjuk. “Bisa tidak mampir disitu, saya lapar…” dan mas Aer So Deka, menjawab “Tidak Bisa….” – karena harus berbalik arah, namun anehnya jawabnya juga sama sekalipun ada restoran searah..

Kalau saya Steve Jobs, bos Apple, mungkin saya akan langsung kasiy-prentah – balik arah dan parkir disana. Saya dengar Steve Jobs adalah orang Tuli Sebagian. Dia tuli akan kata tidak bisa dan tidak mungkin.

Mungkin pikir bung Taxi “Ah elu orang Jakarta Bego aja, gue bilang saja nggak tahu soal Yogya pasti dia percaya..” – kalau ibarat ulangan tertulis maka dia salah besar yang betul cuma tulis nama dan tanggal di kanan atas kertas sekrip.

Karena saya bukan Steve Jobs maka reaksi setelah berkali-kali ramah mulai dari Airport sampai hotel (dan gagal) adalah memasukkan kembali lembaran tips yang tadi disiapkan untuk pak Pir.
Sesampainya di Hotel, barang saya angkat sendiri, dan saya tidak mengucapkan terimakasih kendati sulit rasanya. Keramahan saya dapati dari Petugas Hotel.

“Kamu supir taxi apaan, rumah makan saja tidak tahu, ” kata saya

Wajah pak supir cuma makin mengkilat hitam, rambutnya makin ikal, seperti signal mengatakan “EGP – emang gue pikirin…”

Advertisements