Disebuah ruang tunggu


Tekadnya sudah bulat. Kemarin ia layangkan surat pengunduran diri dari perusahaan yang membesarkannya, INTEL. Ia melihat cita-citanya sudah mentok sehingga melirik perusahaan “kecil” namun masih memperlakukan pegawainya secara manusiawi dan profesional. Masih dengan pakaian ala Executive yakni dasi, pantalon rapi, jas mahal – lelaki usia 40tahuan ini masuk kesebuah restauran terkenal, namun harus rela duduk diruang tunggu sampai pengunjung lainnya selesai bersantap. Sambil menunggu giliran dia membayangkan namanya akan masuk dalam daftar jajaran orang penting di komputer Eagle yang baru saja Go-Publik.

Namun saat membaca berita dikoran, dunia rasanya diputar 7 keliling. CEO perusahaan tersebut seorang anak muda yang mendadak jadi celebritas, milioner, merayakan peresmian perusahaannya sambil minum-minum, lalu membeli sebuah Ferari. Dari dealer, kendaraan dikebut, terjadi kecelakaan lalulintas, dan nyawanya ikut melayang. Perusahaan Eagle-pun ikut terkubur.

Sambil celingukan bingung matanya sempat menatap seorang anak muda duduk dibarisan “waiting list” di restoran itu. Nampaknya membaca topik kecelakaan yang sama. Seperti ada setrom – terjadilah pembicaraan ringan, dari soal kecelakaan yang baru terjadi, sampai ke background pekerjaan. Dilihatnya anak muda usia dua puluhan, kurus, pakai celana jean, sepatu karet, rambut adul-adulan. Macam siang dengan malam. Ia yang selalu menjaga tubuhnya agar tetap atletis, pakaian harus dari taylor terkenal memang dari awal perjumpaan sudah meremehkan si Hippie. Kecuali satu kedua-duanya memelihara janggut.

Hippie ini ternyata pandai mengesankan pihak lain. Blak-blakan, seringkali meremehkan pihak lain, gayanya meledak-ledak dengan penuh energy, selalu punya gagasan “brilliant”- yang belum pernah dipikirkan orang lain. Kalau saja ia masih di IBM, anak muda ini akan diajak bergabung. Sekalipun ragu sebab iapun surut dari IBM yang menurutnya sulit menerima ide-ide baru dari karyawannya dan para pemimpinnya memilih bermain di lahan aman.

Si hippies memperkenalkan diri sebagai Steve Jobs, Direktur perusahaan Apple. Nama perusahaan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya, apalagi mempercayai mimpi anak muda mengaku direktur perusahaan komputer. Kurang ajarnya Steve bahkan dia yang notabene Bekas CEO perusahaan raksasa, bergabung dan bekerja untuknya, perusahaan status “sayup-sayup tak sampai..”

“I dont think you can afford me..”, itu saja komentar bekas CEO..

Harinya, Jumat, dua minggu setelah pertemuan dengan “hippie sang pemimpi” – lelaki bernama Jay ini sudah bergabung dengan kelompok Apple. Surat penerimaannya bersamaan datang dengan surat peringatan dari ex Bosnya- “You are making a big mistake, Apple isnt going anywhere..”

Tapi Steve Jobs sudah memberinya salary menawan ketimbang perusahaan lamanya disertai tawaran ikut saham yang beragam.

Kini Apple menjadi perusahaan besar ditangan pemuda sepatu keds, doyan pakai jean, kaos lengan panjang turtle neck, dan menyetel lagu Police serta Beatles dengan volume hanya bisa disaingi penjual VCD bajakan di kaki lima.

Yang mengherankan Jay adalah Steve Jobs pernah berkoar “Jangan Pernah Percaya kepada pegawai usia 40-tahunan…..” Tapi kini ia yang usia diatas 40-tahunan malahan diperkerjakan untuknya.

Advertisements