Secangkir Kopi Hitam di pagi hari


Secangkir Kopi Hitam

Keponakan cilik saya sering komentar di FB – “Pakde kok jalan-jalan terus sih..” – Padahal maksud hati ingin memberikan contoh bahwa ketika orang sudah sibuk minta pensiun, menjelang pensiun, pakdenya seperti bergeming bekerja dan bekerja.

Untuk mengisi pekerjaan yang nyaris rutin 30tahun (kata orang Jepang – isoku iki) maka harus dicari celah agar bekerja dan sedikit ber-wisata. Foto ini diambil di kawasan Sudirman, Jakarta- jam 06:00 pagi setelah melakukan perjalanan sepanjang 20kilometer dari propinsi Jawa Barat. Jam segitu, para Satpam masih kucek-kucek mata, lampu penerangan sebagian dimatikan. Bahkan penjual koranpun masih menyisakan gulungan koran diikat rafia belum sempat dibuka.

Satu-satunya tempat duduk adalah warung dengan koordinat ala Garmin Etrex dan Nokia seperti di atas.

Di warung yang berjudul belanja sambil beramal saya ditemani tukang kopi hitam langganan saya. Kalau dilihat di latar belakang, maka beberapa lapak baru melakukan tahap “Rigging Up.”

Ada satu colokan listrik tersedia yang saya pakai untuk baca email. Inilah kantor berjalan pakdenya. Nanti saat meeting, laptop dimatikan. Selesai rapat, saat orang bercakap-cakap bebas, laptop dinyalakan kembali untuk membaca dan menulis email. Setengah jam kedepan, seorang ibu muda berjilbab (the only gender here), mulai meracik mie ayam.  Saya suka bakminya- menjauhi baksonya yang  kelewat asin.

Menjelang jam 07:00 pagi baru angkat kaki dari warung dan masuk ke kantor pelanggan. Biasanya saya disapa pak Satpam atau pelanggan kami “masih lama pak!,” – karena sudah kenal, para resepsionis membiarkan saya masuk ruang rapat untuk buka email dan mengerjakan pekerjaan kantor di kantor orang lain. Dan disela-sela sepi tadi, biasanya saya mengupdate face book.

Advertisements