Manggarai


Diikuti penumpang pertama naik pesawat

Sabtu Lima February 2011- Waktu berkumpul dengan anak dan mantu di Bali (Santika Beach Resort) – sudah habis. Eric supir kendaraan sewa kami sudah sejak setengah jam menunggu kami di halaman hotel. Saat mobil ngegas kearah warung makan -BETUTU di kawasan Kuta -Tabanan yang harganya lumayan dingin, tetapi sambalnya bisa bikin kita njambaki rambut.

Usai makan, kami langung menuju Bandara. Eric mengucapkan kata perpisahan dengan bahasa yang lancar – mohon maaf selama 3 hari bersama saya, barangkali ada kata yang menyinggung dsb…dsb.. Selama 3 hari, mulai dari makan siang, makan malam. makan larut malam, Eric selalu menolak halus. Di Tondano, saya pernah makan tanpa ajak supir – mobil langsung ngebut dan mukanya masam. Begitu juga di Sumatera (malahan berani ambil rokok sebungkus).

Saat checkin inilah seorang bapak menghampiri kami.. Jelasnya mendekati Ibu Mimbar.

Ibu bolehkah saya ikut ke Jakarta. Saya dari Manggarai, naik kapal laut ke Bali sejak hari Kamis (3 Feb 11), dari pelabuhan  ke bandara (Ngurah Rai) saya naik sepeda motor, kehujanan sehingga baju dan kopor saya basah semua.

Saya baru pertama naik pesawat. Mau ke Palangka Raya lihat nona (anak) saya. Saya sudah bawa makanan sendiri sebab anak saya punya pesan jangan mau kalau ditawari makanan oleh siapa saja (bius).

Lelaki berkulit hitam dengan tatapan wajah keras, tinggi kurus berkemeja kotak-kotak  memang dari tadi mantheng terus di loket checkin – pesawat Lion Air Denpassar-Jakarta. Padahal dia sudah dapat boarding pass. Permasalahnya dia harus checkin lagi di Bandara Soeta. Pekerjaan sederhana bagi kita, namun mungkin membuat orang lain jambak rambut.

Ah tidak sedetik kami langsung Angguk Kepala. Saya sebagai kepala suku, kalau dalam dunia binatang harus memperlihatkan sifat Suudzon (curiga). Namun tidak lama saya sudah bisa menangkap ia memang butuh bantuan.

Maka dari cuma berlima, rombongan kami bertambah satu orang. Jangan ditanya dari sekian banyak manusia yang cekin, kok ya memilih kami untuk “diikuti“.

Lho kok di ruang tunggu, ketemu seorang ibu berjilbab yang juga kebingungan mencari Gate a-15 (Bandara Ngurah Rai), waktu menunjukkan jam 15:00 sementara pesawatnya jam 18:00. Akhir sementara ibu Mimbar menenangkan pak Ruteng, saya menggandeng ibu Padang (cuma karena logatnya) untuk duduk dekat pintu masuk. Jangan segan bertanya kepada petugas ya bu.. Itu pesan saya.

Sesampai Garuda JT23 pada 5 Feb 2011 ini mendarat di Bandara Soeta. Bapak Ruteng (sebut saja namanya demikian) buru-buru berdiri. Matanya celingukan kearah kami. Lalu matanya memperlihatkan rasa lega waktu kami masih ada dalam pesawat. Saya membawa bapak ini ke konter transit. Saya jelaskan runtut bahwa bapak ini akan ke Palangka Raya. Kok beruntung, bapak di belakang saya nyeletuk – “Saya Juga akan Ke Palangkaraya..

Lantas kami lakukan serah terima titipan seorang bapak yang datang ke Palangkaraya katanya untuk membantu anaknya cuci baju, bersihkan rumah selama 3 bulan kedepan. Waktu salaman berpisah  tangan kami diciumnya. Tangannya sedingin es. Saya tahu dia nervous, apalagi pesawat berulangkali menerobos awan tebal dan angin keras. Dan kebiasaan supir pesawat,  biar cuaca gerudukan, kecepatan pesawat tetap melaju.

Tapi semua rasa deg-degan sirna melihat senyum pak Ruteng mengembang lega. Ia sudah punya teman ke Palangka Raya.

Pa Tua- semoga bisa bertemu dengan Nona di Palangkaraya.

Advertisements