Ogoh dan Olok


Antara Ogoh dan Olok

OGOH-OGOH

Pulang dari bermain dengan “air suci” di tirta empul – Tampaksiring saya ketemu dengan serombongan anak-anak sedang mengarak patung raksasa 2x manusia yang mengerikan – ogoh-ogoh- rupanya sebentar lagi saudara-saudara dari Bali akan merayakan hari raya mereka termasuk upacara Ogoh-ogoh. Tak heran disepanjang jalan kadang saya melihat anyaman bambu yang sepintas mirip patung kuda. Namun kalau sudah ditempeli kertas – menjadi ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh ini dipertandingkan. Ada beda antara Ogoh dewasa dan Ogoh anak-anak.

Asbak -OLOK-OLOK

Teman anak saya satrio memang iseng. Mereka memesan asbak dengan bentuk mirip penis. Ibunya dan saya terpaksa meletakkan benda yang kelak diberi nama di Bali sebagai Olok ini dengan sedikit tersipu. Sementara siembak penjualnya malahan menjamahnya dengan gaya “bejek” – ini bahasa pinggiran untuk meremas sesuatu mirip anda memilin lempung menjadi batu bata siap dibakar. Mungkin orang jawa menyebutnya “uleni..”

Ketika kami diam-diam hendak membayar si Olok, lho kok seorang ibunda (hijab), mendekati kami sambil bilang – “saya kira benda ini pajangan, eh dijual juga..” – Kalau ibu yang mengaku dari DIspenda Kalimantan ini berminat, saya harus kepingin malu terlebih dahulu

Advertisements