Garuda di Baliku


Garuda di Baliku

Relief-relief disekitar komplek GWK (Garuda Wisnu Kencana) banyak menceritakan petilan Ramayana. Salah satunya adalah mengapa Garuda dipilih sebagai burung perkasa, lambang pembebasan akan ketertindasan. Mudahan keponakan saya membacanya. Sayang saya datang menit-menit terakhir kawasan akan ditutup. Disarankan datang kalau malam hari bawa senter kecil.

ALKISAH…

Dalam cerita Ramayana, poligami dianggap hal lumrah kadang bertuah sekalipun ujungnya berbuah musibah. Termasuk oleh seorang Bagawan Kacyapa yang kalau hidup masa kini bakalan ditambah nama menjadi Aa Bagawan. Secara kita gitu pelaku Poly kerap diberi imbuhan nama Aa.

Entah mengapa Kadru dan Winata kedua istri Bagawan ini menyukai permainancangkriman alias tebak-tebakan. Mungkin dulu belum ada kegiatan lain seperti  senam sama-sama, kuliner diluar sama-sama lalu tek-tekan (saweran) makan, lalu arisan, lalu adu mahal tas dan mobil, lalu saling plengas-plengos (buang muka) kalau bertemu dijalan. Wuits..

Mulanya tebakan dilakukan ketimbang iseng, lantas seperti penggemar piala Dunia – biar hangat tebakan wajib kudu disertai taruhan.

Padahal cuma ingin tahu apakah punggung kuda berbulu putih atau bahkan hitam bak kereta api.

Kita percaya dan yakin saja- kuda yang diperdebatkan kedua istri ini cuma satu-satunya kuda ajaib yang hidup di hutan. Ny Kadru bilang bahwa ia pernah melihat bahwa kuda ajaib ini dari ujung rambut sampai ujung kaki warnanya hitam. Sambil menunggu hasil akhir tebakan, ia melakukan “serangan fajar” mencari bocoran soal.

Sebaliknya Ny Winata mau tidak mau memilih bahwa Punggung kuda warnanya putih. Sepertinya pembuat relief Ramayana juga sudah meramal kesukaan kita akan judi alias “potong kompas dan mempertengkarkan masalah sumir diangkat menjadi hidup dan mati.”

Sejatinya kuda tersebut berwarna Putih. Sehingga akal “naga” Ny Kadru pun timbul. Diperintahkannya anak-anaknya yang digambarkan sebagai naga-naga untuk menyemburkan bisa mereka ke punggung kuda sehingga Kuda menjadi putih. Jadi tak heran kalau keturunan kita sampai sekarang dengan mudah mengakali setiap aturan.

Ny. Winata – dalam kisah ini digambarkan seperti lakon “kerah putih” atas sinetron kita. Orang baik harus bodoh, dan tanpa emosi. Sekalipun sesuai perjanjian yang dibeberkan belakangan – yang kalah dalam judi, akan menjadi budak selama-lamanya. Garuda yang saat itu masih menetek menjalani nasib seperti ibunya, menjadi budak sang naga.

Lama kelamaan – rahasia kekuatan kutukan bisa dilunturkan asalkan Garuda (disini lelaki) – mampu mendapatkan Tirta Amerta dan mengalahkan 1000 naga yang menjaga istana Ratu Kadru. Ternyata sekalipun di angkasa, kesaktian Garuda belum bisa menyaingi dewa-dewa. Apalagi ia cuma seorang diri. Tetapi inilah ujian bagi Garuda atas kesetiaannya terhadap ibunya. Dengan merelakan dirinya menjadi Burung Tunggangan Dewa Wisnu, Garuda membebaskan sang Ibu dari penjajahan naga.

Garuda-anak Winata saat melawan perbudakan.
Advertisements