Suudzon


Saya mendengar kata-kata ini sudah lama. Namun baru belakangan ini populer. Dan siapa saja yang disentil oleh kata Suudzon biasanya bakalan menggigil dan dijamin tidak senang hatinya. Tetapi kalau kalimatnya diselewengkan sedikit menjadi “waspada” – pengertiannya membuat seseorang itu cerdas, penuh logika. Persis jaman dulu penyelewengan arti kata AMAN. Kalau ada seseorang di”amankan” KopKamTib realita yang terjadi biasanya bukan aman tentram gemah ripah salah-salah malahan mengambil gelar Anumerta zonder  penghargaan.

January 2011 di kota Cirebon, menjelang Jumatan saya dengan teman mendatangi sebuah mesjid  Jami‘ di tengah kota ini. Baru tangan hendak menyendok air wudhu, seorang bapak-bapak berbaju batik memenggamit lengan saya. Karena cukup kaget, dan memang reflek saya tidak terlatih, saya mandah saja digamit beliau alih-alih malahan menyalami beliau.

Rupanya pria didepan ini ingin saya menjadi pendengarnya. Sementara “masyaallah” – saya menunggu dengan teganya “SuudZon” kapan tiba beliau berakting : “kehabisan uang, dari Makassar atau sejenis lagu-lagu memelas..

Namun ia bercerita soal masa mudanya tahun 1959 pernah datang ke Mesjid yang belum semegah sekarang, kendati agak aneh sebab lantai mesjid tanpa karpet sehingga lumayan dingin dan sakit mengenai tulang yang renta ini.

Saya hanya menjawab 1959 – saya masih pakai celana kodok sambil ileran, tetapi rambut masih kethel dan bergelombang (mana ada bocah 6tahun botak sampai kuduk).

Lalu orang bersarung dan berpecis (Yogya=Peci=Pecis), ini berkata lirih “ah masak iya anda masih kecil tahun 1959..?“- Pandangannya menusuk mata saya seperti saya ini seorang Gayus mengaku mengangsur motor Bebek Belur selama 36bulan.  Rupanya usia 58tahun sukses membuat penampilan saya mirip 85..

Karena tangan saya dipegang terus, sekalipun tidak bawa uang cash, saya tetap waspada jangan-jangan orang didepan saya ini hendak melancarkan hipnotis atau tipuan lain. Ternyata saya kecele sebab bapak ini tidak berniat buruk kecuali mengenang masa kecilnya.

Usia salat segera saya beranjak mencarinya, ya tidak ketemu lha wong saya sudah 360derjat dilingkari pengemis “Shodakoh pak, shodakoh, mumpung kita masih bisa ketemu!” – ah lebai, pikir saya.  Kebanyakan nonton Islam KTP kali.

Begitu sadar, teman saya sudah mengambilkan sepatu saya (dan bayar sewa lokernya).

Advertisements