Kafilah berlalu ternyata bunyinya tak sedap.


Kebiasaan buruk saya manakala hendak bepergian selalu gelisah. Tidur selalu diselingi bangun berkali-kali, makan jadi tak nyaman. Perut terasa kembung.

Maunya naik kendaraan langsung menuju tujuan. Tidak terkecuali saat hendak bepergian berombongan. Taxi yang kami panggil sudah datang, ada saja anggota keluarga yang menghilang sepertinya tidak afdol satu hari kalau tidak mengerjakan sesuatu didetik terakhir. Boleh jadi cara pengungkapan sawan bepergian yang lain daripada saya.

Begitu sampai di Airport – mereka pada ribut lapar dan terpaksa mampir ke kedai Hamburger.  Heran – mulut kecil kalau diempani makanan impor nggak protes sama sekali.

Beda dengan perut saya.. Begitu mengudap roti berdaging dicolek sambal sasetan, perut langsung bereaksi.

Saya masuk toilet yang dijaga seorang lelaki tua berambut cepak dan beruban. Pandangan matanya menyiratkan gaya pemimpin besar mereka yang legendaris. Tapi perduli apa, saya sudah kebelet sehingga hanya bisa diimbangi oleh suara petasan cabe rencengan. Baru saja terlepas, encek penjaga toilet yang dari posisi semula berdiri dekat pintu toilet nyeletuk bahasa Malay “macam kafilah punya…”

Ternyata dia punya pengertian sendiri akan kafilah… Sementara saya berperasaan kafilah adalah rombongan onta di padang pasir yang bergerak tanpa suara, kecuali dengus sang unta, maka si Encek berpendapat : suara yang beruntun- bagai barisan unta.

Akkirnya saya keluar sambil bertukar senyum. maksud saya, saya senyum, sementara encek melihat seperti PM Lee memandang aduan ayam dimasa mudanya. Sejak itu peribahasa Kafilah berlalu sedikit mulai campur bawur dibenak saya.  Oh Changi…

Changi 30-Dec-2010

Advertisements