Makan Bakmi Pendek


Sungguh saya merasa “mak-jegagik” – artinya terkejut sebab Laksa Singapore yang saya pesan selain mengandung Taoge yang besar-besar, juga seperti dicampur cendol, padahal sejatinya ini bakmi pendek.

Harap maklum, dikepala ini yang namanya bakmi harus panjang, dengan variasi paling keriting. Tetapi kalau macam pigmy – itu mahluk cebol – kurcaci, ya baru kali ini.

Padahal secara psikologis (ca ela), setiap ada acara panjang-umurnya, keluarga kami paling suka (dan terobsesi) menghadirkan bakmi. Katanya “wong Jawa” menyiratkan bakmi sebagai permohonan Panjang Umur – Awet repot (lha bakmi berbelit).

Sebetulnya mak Jegagik pertama adalah penampilan tokonya. Terletak di kawasan Somerset, jam 10pagi banyak toko yang belum buka.

Di depannya bertajuk Toast Box. Paling juga generasi lain dari Yakun Toast.Yang unik adalah cara mereka  merancang meja dan kursi di cat macam puskesmas baru diresmikan pak Kades bertepatan dengan 17-agustusan. Semuanya putih-tih. Makan roti bakar, dijamin setiap remah akan nampak dimeja. menantu saya bilang “membuat kita feel guilty..”

Pelayannyapun memakai pakaian putih-putih. Hasil evaluasi makan bakmi yang konon disebut Jarum Perak – ini menyimpulkan bahwa paling tidak dibutuhkan ruangan berdiameter 35cm agar cara makan saya tidak menyiprati tetangga. Ditambah lima lembar tisue agar tidak “gabres” belepotan makanan dibibir.

Advertisements