Tukang Nada Dering yang kini melejit


Si tukang oprek yang berhasil

Minggu di bulan Januari 2011 – adik ipar yang baru berpisah satu tahun lantaran sekolah di Belanda  mengeluh kepada saya karena BB-nya begitu sampai di tanah air langsung “mejen” – terutama pada bagian roller ball. Saya bilang itu roller lag namanya.  Penyakit BB dengan roller touch memang disana.

Ini hari minggu, syusyah (y)  cari toko reparasi hp.  Saya tidak punya alternatif  lain kecuali mengunjungi kawasan Roxy Mas yang selalu macam orang rebutan sembako suasananya.

Penyakit kronis di RM adalah perokok bisa berbuat sesukanya kendati pengumuman “jangan merokok” dibacakan melalui TOA berulang-ulang.  Sungguh suatu kenikmatan duduk dibangku kayu, mengamati pesawat HP seperti penggemar burung mengkaji hewan peliharaan yang sedang ditaksir. Perlu otak tenang, perlu mengaktipkan jiwa seni. Dan rokoklah temannya (katanya).

Padahal tak jarang Satpam meronda dengan membawa bekas minuman kemasan untuk meminta perokok memasukkan puntung membara kedalamnya. Tetapi ini masalah hakiki. Darah A, B, AB dan O dalam tubuh kita sepertinya perlu ditemukan  golongan lain C yaitu “cuma taat kalau ada petugas.

Diantara gemuruh tawaran promosi HP Cina yang bisa nonton TV tanpa Antene luar (apa hiya?) mata saya jelalatan kesana kemari sambil menghindari “body contact” dari para penjual isi (ringtone) hape pak, mari sini“.

Ternyata INDRA NADA DERING (begitu nama di HP saya) tidak nampak. Lalu saya tilpun saja nomor fleksinya. Lama baru dia menyahut dan nampaknya sudah tidak mengenali saya ataupun suara nyempreng yang saya keluarkan. Saya sudah tidak di Roxy lagi pak. Sial bener. Sebelum saya kuciwa (u), dia menyebut nama serta nomor HP seorang anak yang namanya mirip nama pelawak yang mengambil jatah politisian. Yang mirip cuma rambutnya tajam keatas macam dijengguti (ditarik) seseorang. Kita sebut saja namanya EKO.

Begitu HP diserahkan dan ia minta waktu setengah jam. Kami cabut dari lantai dasar ke lantai teratas yaitu 4 sembari memesan teh botol – (apapun Hapenya – teh botol minumnya) . Belum setengah jam dia menilpun “KOKO Mimbar..” – Kapan lagi ada orang panggil saya sebagai manusia ulet, tahan uji, cerdik dan memiliki feeling bisnis yang kuat.

Koh ada dimana,”

Tak lama kemudian dia nampak menaiki eskalator sambil cengangas-cenges.

Azaib,  HP sudah dioprek dan bisaberfungsi dan tinggal kirim BB ON ke sebuah nomor. Cabut baterai dan BB anak kecil sudah aktip “Klak-Klik” bunyinya.

Lalu sambil menggamit teh botol yang kami suguhkan bercelotehlah  Eko mengenai kemana perginya si Indra Nada Dering dan mengalirlah kehebatan  tokoh yang dulu adalah muridnya. Si Indra sekarang sudah pegang  17 Kios Nada Dering disini. Malahan buka cabang di Batam, main Heli REMOT  (main = jual beli), punya rumah sampai lebih dari satu, sudah naik mobil sendiri. Lantaran anaknya si Indra masih kecil dan doyan odong-odong, kini dia beli dan menjalankan bisnis odong-odong.

Eko bilang bahwa waktu awal mula ke Jakarta, maka Indra adalah anak didiknya yang bekerja sebagai teknisi pada sebuah supermarket namun penghasilan super-mengkeret. Lalu Eko mengajak isi HP, ngoprek hp sampai laptop. Kadang dia sambi jual SIMCARD, isi pulsa, Memory Stick apa saja yang pernik penggemar Gadjet.

Anda tahu kan pasang nada dering sekitar 5ribu-an. Dan rejeki ini dikais Indra sampai bisa menyewakan kios kepada Eko yang notabene Mentornya. Cuma dasar si Indra, manakala aku SMS dia malahan jawab “jangan percaya pak – Eko suka besar-besarin cerita,” katanya merendah.

 

Advertisements

Terlanjur SOTOY


Jam 06:00 pagi, masih diruang belakang sambil mengantuk saat kami berada didepan pintu Tol Halim Jakarta. Harap maklum  jarum menujukkan jam 04:00 lebih sedikit saya harus sudah harus di kamar mandi. Coba saja menawar barang seperempat sampai setengah jam – resiko rapat pagi di Pertamina bakalan terlambat. Apalagi konon sedang menikmati hari-hari menjelang kelumpuhan total kendaraan.

Ini Jakarta menjelang Kiamat Kendaraan tahun 2012 seperti diramal beberapa ahli, maka uap  panas mulai terasa.  Betul saja jam segini, kendaraan sudah saling pagut, suara tat tet tot klakson tak sabaran dari pengemudi mulai meramaikan suasana.

Di depanku ada sebuah kendaraan terlanjur Avanza yang nampaknya mengalami masalah membuka gerbang tol. Sepertinya karcis E-Tol mengalami gangguan. Entah kopi kurang pahit tadi pagi, maka mendadak saya mengklik website dalam otak “SOTOY.COM” – masih ada juga badut masuk jalur yang salah-maksudku masuk jalur pakai E-Tol tetapi sonder kartu magnet.

Seorang bapak paruh baya nampak turun mendekati kendaraanku. Karena ini Jakarta – sikap ini boleh ditandai sebagai isyarat SIAGA-1.  Nampaknya pria berbatik ini memberi signal agar kaca mobil dibuka. “Boleh pinjam karcis E-tol- saya punya tetapi dananya kurang..” – katanya sopan.

Saya yang masih mengantuk mendadak jengkel dan bilang ketus tidak, sekalipun hati kecil sudah teriak pinjamin apa ruginya… Tetapi ada suara lain – Mustinya sudah pada mahlum setiap kali melakukan transaksi tol kita akan diberitahu secara otomatis saldo pada display gerbang. Jadi “unacceptable” alias gegabah kalau sampai didepan pintu tol baru gugup lantaran saldonya kurang.

Syukur pria tadi boleh membayar bea tol dengan uang cash. Langsung nggeblas -mak plencing pergi.

Tinggal saya yang getun… sesal. Mengapa jadi terlanjur sotoy- terlanjur pelit.

Suudzon


Saya mendengar kata-kata ini sudah lama. Namun baru belakangan ini populer. Dan siapa saja yang disentil oleh kata Suudzon biasanya bakalan menggigil dan dijamin tidak senang hatinya. Tetapi kalau kalimatnya diselewengkan sedikit menjadi “waspada” – pengertiannya membuat seseorang itu cerdas, penuh logika. Persis jaman dulu penyelewengan arti kata AMAN. Kalau ada seseorang di”amankan” KopKamTib realita yang terjadi biasanya bukan aman tentram gemah ripah salah-salah malahan mengambil gelar Anumerta zonder  penghargaan.

January 2011 di kota Cirebon, menjelang Jumatan saya dengan teman mendatangi sebuah mesjid  Jami‘ di tengah kota ini. Baru tangan hendak menyendok air wudhu, seorang bapak-bapak berbaju batik memenggamit lengan saya. Karena cukup kaget, dan memang reflek saya tidak terlatih, saya mandah saja digamit beliau alih-alih malahan menyalami beliau.

Rupanya pria didepan ini ingin saya menjadi pendengarnya. Sementara “masyaallah” – saya menunggu dengan teganya “SuudZon” kapan tiba beliau berakting : “kehabisan uang, dari Makassar atau sejenis lagu-lagu memelas..

Namun ia bercerita soal masa mudanya tahun 1959 pernah datang ke Mesjid yang belum semegah sekarang, kendati agak aneh sebab lantai mesjid tanpa karpet sehingga lumayan dingin dan sakit mengenai tulang yang renta ini.

Saya hanya menjawab 1959 – saya masih pakai celana kodok sambil ileran, tetapi rambut masih kethel dan bergelombang (mana ada bocah 6tahun botak sampai kuduk).

Lalu orang bersarung dan berpecis (Yogya=Peci=Pecis), ini berkata lirih “ah masak iya anda masih kecil tahun 1959..?“- Pandangannya menusuk mata saya seperti saya ini seorang Gayus mengaku mengangsur motor Bebek Belur selama 36bulan.  Rupanya usia 58tahun sukses membuat penampilan saya mirip 85..

Karena tangan saya dipegang terus, sekalipun tidak bawa uang cash, saya tetap waspada jangan-jangan orang didepan saya ini hendak melancarkan hipnotis atau tipuan lain. Ternyata saya kecele sebab bapak ini tidak berniat buruk kecuali mengenang masa kecilnya.

Usia salat segera saya beranjak mencarinya, ya tidak ketemu lha wong saya sudah 360derjat dilingkari pengemis “Shodakoh pak, shodakoh, mumpung kita masih bisa ketemu!” – ah lebai, pikir saya.  Kebanyakan nonton Islam KTP kali.

Begitu sadar, teman saya sudah mengambilkan sepatu saya (dan bayar sewa lokernya).

Naik RI 806


Yang jelas ini ndak ada hubungannya dengan mobil berawal RI (Kepresidenan, menteri dsb) melainkan Penerbangan Mandala tanggal 22-12-2010 jam 19:15 menuju Singapura.

Belum habis saya mengagumi keadaan pesawat yang CekLi, cantik dan baru sembari mengunyah sepotong roti dan segelas plastik air kemasan.

Siapa nyana, ini adalah penerbangan terakhir saya sebab tidak lama kemudian perusahaan ini menyetop operasinya sejak 12 Januari 2011. Padahal saya sedang jatuh cinta pada Mandala Air. Mudah-mudahan Mandala bisa bangkit kembali.

Pengalaman Enak Menukar barang di Ikea


Coba saja anda melihat pameran mebel, ranjang, barang rumah tangga lainnya. Dijamin selalu ada tulisan “ngenes” – Jangan Pegang, Jangan di duduki bertebaran di mana-mana. Tapi di Ikea malahan nyentrik sebab ranjang, mebel seperti kursi, meja malahan disuruh diduduki sepuasnya.Hopo tumon.

Selama ini kita sudah seperti tanpa reserve menerima bon pembelian barang dengan catatan kaki berhuruf sans serif 7 point “barang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan..” – dan tulisan ini bakalan sebesar Dinosaurus tatkala apesnya anda harus mengembalikan ke pedagang. Belum lagi kalau penjual setengah membentak “baca syarat tertera pada bon ini nggak?

Lho kok IKEA malahan melawan arus dengan menulis poster ramah “Its Okey You Change Your Mind” lantas ada simbol jantung dengan dua saluran. Lalu spesial counter Penukaran dan Pengembalian barang dipajang setelah lantai pembayaran. Niat apa bangget sih.

Masuk ruang pamer Ikea Singapore, kita disuguhi pemandangan yang sekaligus mendidik kita. Mereka menyediakan pensil pendek, meteran dan kertas. Anda tinggal menulis nama barangnya, lalu serahkan kepada penjaga untuk diambilkan dari gudang (bukan gudang milik tetangga).

Yang membuat saya ck..ck..ck adalah anak-anak, ibu, teteh, kakak, oom, tante mengambil pensil, meteran seperlunya saja tidak perlu memboyong benda tersebut mumpung gratis ke rumah. Selesai dipakai, dengan tertib peralatan tersebut dikembalikan. Apalagi ada poster menyebut, gunakan benda ini seperlunya, bantulah kami melestarikan lingkungan hidup.

Ini rupanya menjelaskan mengapa hanya di bandara Sukarno Hatta, yang namanya mencari sekeping kartu embarkasi sama sulitnya mencari emas. Sementara Publik Singapura sudah terdidik untuk tidak ber-aji mumpung. Mumpung gratis, mumpung tersedia.

Aha sebuah kran air imut-imut menarik perhatian saya. Apalagi ingat dirumah punya kran wastafel yang bocor. Kraan ini saya temukan pada sebuah design kamar mengandai anda punya ruang 10 meter persegi tapi kepingin ranjang, meja belajar, kulkas, Tv semua tumplek bleg disitu. Ikea mampu menawarkan solusi sehingga anda seperti hidup di Sputnik ruang angkasa.

Cuma repotnya barang yang dipajang Ikea banyak masih terbungkus dengan kata dari Swedia seperti Lagan – bahkan di tempat lain saya melihat nama peralatan dapur SILIT (maaf). Alasannya “No Body Like To Buy Open Box” – jadi kalau tidak jelas tanyakan kepada staf kami. Kata Ikea.

Merasa pakar soal keran ledeng, gengsi kami tidak mengijinkan untuk bertanya ini-ono-onu kepada pegawai. Apalagi tidak ada penjaga di sekitar rak. Zonder banyak cakap, kami tulis merek dagang kran tersebut “LAGAN” lalu diambil di counter lain dengan harga sekitar 25 dollar (norak nggak sih harga pakai disebut).

Jrenggggg! baru kaget seperti anak sekolah disuruh mengarang oleh bu Guru, sampai di rumah ternyata kran ini diperuntukkan untuk air panas dan air dingin. Ada dua pipa tembaga kecil sehingga mempersulit pemasangan. Bagaimana menyambung pipa setengah inci ke pipa yang jauh lebih kecil.

Apa boleh buat, keesokan harinya kami harus berSMRT (naik bis) ke kawasan IKEA Alexandra. Bis seperti latah ikutan berposter “mau hidup berwawasan hijau, naik bis saja..” – Di tengah perjalanan naik seorang Mr. Chang, ternyata seorang kontrolir karcis. Maka tanpa ampun seorang nenek yang menggunakan kartu pelajar langsung didenda di tempat.

Seharusnya sesampai di TKP saya cabut kupon antrean. Namun apa salahnya pura-pura “beydon” dan bertanya bagaimana cara mengembalikan barang. Petugas konter tanpa cingong langsung mengambil kraan dan bertanya ramah.

Padahal pengalaman melayani toko besi GajahSora, kalau ada orang mengembalikan barang, sebisanya kita usahakan agar barang yang sudah dibeli jangan dipulangkan pada orang tuaku.

Mau dikasih voucher belanja, atau cash?” – rasanya gengsi juga kalau terima cash sehingga saya menjawab ragu, “voucher will do..”

Akhir cerita, voucher malahan ditukar penggorengan Tepal. Saya tahu di rumah sudah menumpuk barang beginian. Tapi setidaknya pulang dari menukar barang di Ikea, senyum saya tersungging bak  anak sekolah mendadak ada pengumuman “hari ini tidak ada pelajaran, sekaligus Ulangan Mengarang, dibatalkan, kalian boleh pulang tertib kerumah masih-masing…”

Wajah Kosong


Sesosok wajah mirip bocah tetapi tua nampak muncul di samping kendaraan. Langsung saya rogoh tustel dipinggang. Cepret-cepret wajah kosong tanpa expresi ini hanya diam saja. Lha iyalah ini kan seekor monyet yang dipaksa harus mengikuti jalan tegak seperti manusia selama berjam-jam dengan kepala dikerudungi topeng yang berat dan panas.

This slideshow requires JavaScript.