Drama Game Bajakan


Namanya anak-anak, sekalipun sudah mahasiswa tetap diperlakukan bak anak kecil (anggapan bapaknya). Maka ketika ia bilang kepingin beli permainan yang nirkabel dengan iklan – pemain terlibat bergerak tidak cuma jari Thok (doang). Tahu dong iklan wireless -“Buang semua kabel yang bisa bikin ribet.. Mari FUN sekeluarga” – saya cuma mbatin “apa perlu?“.

Rupanya melihat saya bergeming – dia membuka jurus pancingan “aku menyumbang sebagian tabunganku….”  –

Lha ini dia. Jreng pancingannya  mengena, kami berdua menuju mal terdekat di sebuah kawasan Ploeit. Disebuah tempat mojok  – ia menunjuk toko langganannya.

Saya bilang – Papa (begitu dia menyebut saya), tidak pernah perduli dengan diskonto. Beli mahal asal (barang) tidak bermasalah. Tapi anak dengan keyakinannya  “Beda (harga) kalau di Distributor – ngejeplak banget Beh(sekarang babeh).” Maksudnya di toko langgananya dijamin murah ketimbang toko yang lain. Toko ini dimiliki seorang berkulit terang, tipikal pedagang elektronik, ditemani (seperti) isterinya.

Mula-mula Engkoh sang penjual menawarkan satu set alat permainan.  Seperti pertandingan bola, dengan ciamik sang istrinya yang berkulit gelap (waduh ras issue nih) meng-intercept– umpan suami. Perempuan ini  cekatan menggocek pertanyaan seputar Tawar Menawar. Mulailah mengalir bujukan… “Peminatnya banyak… Ini barang belum di jeksi (suntik)… seken saja banyak yang cari…. Kalo bosen bawa mari (ke sini) kita berani bayar bagus punya(k).”

Tanpa menawar, perangkat nirkabel jadi dibayar-lunas, apalagi maharnya selusin “game” boleh pilih sak-kemeng-nya (sesukanya sampai tangan kita ngilu). Cuma saya lupa apa anak saya telah QOBUL – menyumbangkan sebagian tabungannya… Namanya anak-anak.

Ternyata setelah digeluti, baru nyadar bahwa permainan tanpa kabel bukan berarti tanpa batu batere

Perlahan tapi nekat, setiap akhir pekan kami belanja selusin batere ukuran pen yang sering disebut AA, biar awet dan JoZZ harus Alkalin lagi. Lama-lama perangkat ini mulai tidak menarik minat mereka.  Apalagi permainan ini membutuhkan interaksi peserta. Padahal kebanyakan pecandu game komputer lebih rela “Ngesot” di jok kursi berjam-jam. Kebosanan pun melanda…

Mumpung masih belum seumur jagung, barang dijual ke toko aselinya. Sang nyonya yang tiga bulan lalu cekatan menjual hari itu ganti peran mirip grup demo Bendera di depan KPK. Mulutnya macam dijahit benang hitam.

Sang engkoh cuma melirik alat itu lantas bergumam “segel sudah dibuka” – setelah didebat, bahwa kita beli di toko ini dengan segala macam bukti dan attachementnya,  buntutnya dia bilang “ndak ada peminat.. syusah jual…” – Lalu ia menawar dengan menyebut angka yang setara dengan sepasang JoyStick kelas Taiwan.

Hari itu juga Satrio (samaran), memutuskan tidak akan pernah beli game atau asesoris ke toko tersebut. Seperangkat Game inipun lalu masuk kantong kresek dan nasibnya cuma duduk mangkrak diatas lemari pakaian-yang di rumah saya berfungsi sebagai storage tambahan. Lantas, game ini dibawa ke negeri seberang oleh kakaknya Satrio juga penggila permainan interaktif. Cerita seharusnya happy ending. Nyatanya perangkat game, nongkrong di rumah saya.

Rupa-rupanya saat bermain game di Singapura, ada tawaran untuk mengupdate-memperbaharui perangkat lunak dengan versi yang lebih baru, lebih bagus, lebih cepat dan segala kelebihan lainnya…. Apalagi semua cuma satu klik internet lagian gratis-tis.

Sayangnya, perusahaan di negeri SONO mendeteksi bahwa perangkat kami yang kata penjualnya aseli adalah perangkat suntikan alias bajakan. Kontan, zonder ba..bi..bu semua akses diblokir. Game dibawa lagi ke Jakarta. Tukang “oprek” pada lempar handuk putih. Hancur Minah…

Sekali beli bajakan, menyesal di tepian….

Advertisements