Ayam Bakar Mak GOGOK – Blora


Warung Mak Gogok lima menit sebelum diserbu penggemar masakannya
Sederhana, jauh dari tempat strategis tetapi malahan laku. Hopo tumon

Tempat tersembunyi… Hanya penikmat Ayam Bakar – yang berkunjung ke Jalan Cepu Blora untuk menikmati masakan super ini

Habis meninjau lokasi Pengeboran di kawasan desa Semanggi – Kecamatan Jepon Kabupaten Blora, kami diberi tahu bahwa panitia rapat menyediakan makan siang di kedai Mak Gogok Blora yang konon sohor dengan Spesialis  masakan dengan Ayam Bakar.  Tapi maak, diantara kerimbunan pohon Jati, kami memasuki jalan aspal namun pas untuk satu kendaraan. Innova yang kami tumpangi berkelat kelit menghindari pemakai jalan lainnya.

Dan .. sepintas saya menyangkal ini kedai yang diagul-gulkan? – bangunan yang sangat bersahaja. Rasanya perut saya masih kenyang dengan penganan kecil dibagikan panitia tadi siang.

GORENG PISANG DAN TEMPE SEBAGAI APETIZER

Baru beberapa menit, keluarlah hidangan goreng pisang diiris secara besar-besaran. Nampaknya pisang tanduk. Melihat besarnya penganan saya makan perlahan-lahan sambil berjaga-jaga perut jangan kekenyangan.

Saya ternyata salah… begitu potongan pisang masuk tenggorokan, justru muncul rasa lapar. Rasa pisang yang wangi dan pulen membuat saya lupa menarik kamera.  Begitu Kamera dibidik, piring kosong sudah ditarik oleh pelayan.  Begitu cepat. Jangan-jangan Mak Gogok memiliki ilmu simpanan menggoreng pisang yang ciamik.

Tangan saya ditowel seseorang. Pelayan berbaju merah yang sama. Kali ini ia mengasongkan sepiring tempe goreng yang wangi dan empuk. Sepotong tempe goreng melewati tenggorokan.  Dan perut mulai melilit lapar. Tapi kuatir kehabisan sasaran bidikan, kamera segera menjepret makanan legendaris ini.

Goreng Tempe yang sempat dipotret.. Goreng pisang sudah ludes sebelum diabadikan.

Estafet masakan belum usai juga. Hidangan utama yang dinanti-nanti kali ini datang.. Kapten didepan adalah sepiring sate jerohan ayam seperti jantung dan hati yang dibakar. Penganan inipun secepat maling ketahuan – sudah ludes tanpa sempat saya foto. Luar biasa…

Namun gelombang kedua, makanan yang diagul-agulkan sebagai ayam bakar Mak Gogok datang juga.Ayam kampung ukuran besar dibakar dengan sambal kacang tanah.

Nama yang disandangnya tidak percuma. Kami cuma makan dengan sayur bobor (pepaya muda dimasak santan lalu diberi bayam dan jagung), ditemani rebusan bayam, dan lalap kubis serta daun kemangi tak lupa ketimun. Dua piring nasi seperti tak berbekas.

Mak Gogok seperti sudah tahu bahwa selezat daging “pitik Kampung” – harus dipoles agar rasanya mencorong dengan sambal cobek. Dan ini kombinasi sakti memanjakan lidah anda..

Saat perut kekenyangan, saya mencium asap kayu bakar. Lalu mengendap–endap (ah ini sih lebay), saya melongok ke dapur. Total masakan ini dihidangkan dengan Kayu Bakar…Sebuah anglo nampak sedang menjerang air. Pelayan merangkap juru masak nampak hilir mudik bak Putri Sarinande yang wa asap api masuk dimata.

Menyesal saya pesan es jeruk. Mestinya teh panas, diminum dengan aroma asap kayu jati Blora, wuih wuih…

Sejujurnya saya malahan kehilangan bau asap sama sekali.. Apakah ini kelihayan resep masak mak Gogok.?

Tetapi kalau anda bukan orang sana… Biar GPS Mio manteng diangka SOUTH   6derajat 59′ 46.1″ dan EAST 111 derajat 20′ 55.9″ – anda tetap harus rajin bertanya.

SEJARAH MAK GOGOK

Ilmu masak ayam mula-mula dimiliki oleh leluhurnya Mbah Kandar. Awalnya mereka berjualan ngemper di jalan. Rupa-rupanya ramuan bumbu kacangnya melekat dihati penggemarnya, akhirnya Mbah Kandar memindahkan lapak mereka ke rumahnya. Genjotan bisnis makin kencang ketika generasi selanjutnya Yahman Sasmito dan istrinya Sarti mulai menangani urusan warung mereka. Nama GOGOK semula ejekan terhadap anak sulung mereka. Siapa nyana ejekan ini berbuah hoki.  (Data dari tabloid Cempaka yang nempel didinding lalu hap saya baca).

Hoki ternyata terletak pada rumah yang tidak strategis. Nama ejekan kadang seperti “doa kurang baik” – tetapi mengolok cucunya dengan GOGOK- malahan membawa hoki juga.

Advertisements

GULTIK – Gule Kaliotik van Lamongan


Dalam perjalanan dari Surabaya menuju Cepu, udara mendung disertai sesekali hujan gerimis, jalanan yang sepi , perasaan lapar mulai mengganggu.

Saya tanya kepada Witono, pengendara mobil jemputan kami – tempat nongkrong crew pengeboran kalau makan siang (jam 15:30 makan siang?). “Ada pak, kata supir muda yang konon cukup berpengalaman melayani pekerjaan pemboran.

Lalu di Lamongan mobil dibelokkan ke warung Kaliotik. Lantaran hari minggu, dan sudah menjelang malam tak heran beberapa masakan sudah sebagian bablas. Tetapi saya menemukan potongan Lidah Goreng, Telur Matasapi dan Nasi yang diberi sayur untuk mewangikannya.

Gule Sapi, sepotong empal lidah sapi  dan Nasi berselaput Kembang Turi?. Tadinya cuma icip-icip, tetapi kenapa perut masih menagih janji.
Suasana Kedai. Witono dan Renol.

Drama Game Bajakan


Namanya anak-anak, sekalipun sudah mahasiswa tetap diperlakukan bak anak kecil (anggapan bapaknya). Maka ketika ia bilang kepingin beli permainan yang nirkabel dengan iklan – pemain terlibat bergerak tidak cuma jari Thok (doang). Tahu dong iklan wireless -“Buang semua kabel yang bisa bikin ribet.. Mari FUN sekeluarga” – saya cuma mbatin “apa perlu?“.

Rupanya melihat saya bergeming – dia membuka jurus pancingan “aku menyumbang sebagian tabunganku….”  –

Lha ini dia. Jreng pancingannya  mengena, kami berdua menuju mal terdekat di sebuah kawasan Ploeit. Disebuah tempat mojok  – ia menunjuk toko langganannya.

Saya bilang – Papa (begitu dia menyebut saya), tidak pernah perduli dengan diskonto. Beli mahal asal (barang) tidak bermasalah. Tapi anak dengan keyakinannya  “Beda (harga) kalau di Distributor – ngejeplak banget Beh(sekarang babeh).” Maksudnya di toko langgananya dijamin murah ketimbang toko yang lain. Toko ini dimiliki seorang berkulit terang, tipikal pedagang elektronik, ditemani (seperti) isterinya.

Mula-mula Engkoh sang penjual menawarkan satu set alat permainan.  Seperti pertandingan bola, dengan ciamik sang istrinya yang berkulit gelap (waduh ras issue nih) meng-intercept– umpan suami. Perempuan ini  cekatan menggocek pertanyaan seputar Tawar Menawar. Mulailah mengalir bujukan… “Peminatnya banyak… Ini barang belum di jeksi (suntik)… seken saja banyak yang cari…. Kalo bosen bawa mari (ke sini) kita berani bayar bagus punya(k).”

Tanpa menawar, perangkat nirkabel jadi dibayar-lunas, apalagi maharnya selusin “game” boleh pilih sak-kemeng-nya (sesukanya sampai tangan kita ngilu). Cuma saya lupa apa anak saya telah QOBUL – menyumbangkan sebagian tabungannya… Namanya anak-anak.

Ternyata setelah digeluti, baru nyadar bahwa permainan tanpa kabel bukan berarti tanpa batu batere

Perlahan tapi nekat, setiap akhir pekan kami belanja selusin batere ukuran pen yang sering disebut AA, biar awet dan JoZZ harus Alkalin lagi. Lama-lama perangkat ini mulai tidak menarik minat mereka.  Apalagi permainan ini membutuhkan interaksi peserta. Padahal kebanyakan pecandu game komputer lebih rela “Ngesot” di jok kursi berjam-jam. Kebosanan pun melanda…

Mumpung masih belum seumur jagung, barang dijual ke toko aselinya. Sang nyonya yang tiga bulan lalu cekatan menjual hari itu ganti peran mirip grup demo Bendera di depan KPK. Mulutnya macam dijahit benang hitam.

Sang engkoh cuma melirik alat itu lantas bergumam “segel sudah dibuka” – setelah didebat, bahwa kita beli di toko ini dengan segala macam bukti dan attachementnya,  buntutnya dia bilang “ndak ada peminat.. syusah jual…” – Lalu ia menawar dengan menyebut angka yang setara dengan sepasang JoyStick kelas Taiwan.

Hari itu juga Satrio (samaran), memutuskan tidak akan pernah beli game atau asesoris ke toko tersebut. Seperangkat Game inipun lalu masuk kantong kresek dan nasibnya cuma duduk mangkrak diatas lemari pakaian-yang di rumah saya berfungsi sebagai storage tambahan. Lantas, game ini dibawa ke negeri seberang oleh kakaknya Satrio juga penggila permainan interaktif. Cerita seharusnya happy ending. Nyatanya perangkat game, nongkrong di rumah saya.

Rupa-rupanya saat bermain game di Singapura, ada tawaran untuk mengupdate-memperbaharui perangkat lunak dengan versi yang lebih baru, lebih bagus, lebih cepat dan segala kelebihan lainnya…. Apalagi semua cuma satu klik internet lagian gratis-tis.

Sayangnya, perusahaan di negeri SONO mendeteksi bahwa perangkat kami yang kata penjualnya aseli adalah perangkat suntikan alias bajakan. Kontan, zonder ba..bi..bu semua akses diblokir. Game dibawa lagi ke Jakarta. Tukang “oprek” pada lempar handuk putih. Hancur Minah…

Sekali beli bajakan, menyesal di tepian….