Seafood Benhil pilih mana Santiga atau Santika (Baru)


Masakan seafood di kawasan Bendungan Hilir ini sudah kondang entah sejak jaman kapan. Belum sekalipun dicoba – apalagi masakan Kepitingnya – sampai peristiwa Cumi Lontar. Tetangga yang pernah kami sumbang 6 buah cumi lontar yang dipilih dari mahluk berbadan dua ini melaporkan bahwa 5 cumi diembat sang suami sementara istrinya kebagian satu.

Rupanya keluarga ini ingin membalas cumi kami dengan mengajak icip-icip masakan Kepiting di Benhil. Suami saya biasa ajak nasabah (bank) makan disana, maklum kantornya dikawasan Benhil – sebuah legitimimasi bahwa apa yang diucapkan mending ditanggapi dengan full Hakul Yaqin saja.

Bakda Magrib saya dijemput oleh keluarga yang Suaminya kekar lantaran pemain Volly (tinggi) dan badminton. Masuk tol Jatiwarna sekalipun jalanan tidak terlalu padat mobil dipacu dengan cepat. Gaya mengemudinya mengingatkan gaya adik ipar saya. Seperti gabungan layangan berat dengan Heriyanto kalau dimedan F1. Kadang menyuruk kekanan, kadang kekiri dengan cekatan. Cuma bahu jalan yang belum dirambah – Polisi nggak mau lepas kalau tidak 100 ribu, kadang 150 ribu gumamnya.

Tapi diam-diam saya mencatat dalam buku besar “ILMU TITEN” – ilmu Gebyah Uyah-serampangan main generalisasi bahwa karakter pengemudi demikian biasanya memang tipe Leader dan risk taker.

Kami parkir diseberang warung Tenda yang mengambil satu saaf komplek pertokoan.Tukang parkir nampak duduk sembunyi sehingga cuma nampak topi dan seragam birunya. Signal saya mengatakan – dia lawan jenis saya. Cuma sekedar melatih “perasaan” – eh betul, ketika Nyah (bukan bung) Parkir menghampiri ia memang seperti yang saya perkirakan.

Promotor berbisik bahwa kita tidak makan di tenda ini sekalipun namanya jelas “S” pakai predikat BARU. Tenda bisa merambah kemana-mana karena salah satu kongsinya rada-rada reman tanah kawasan ini yang ikut ambil bagian. Banyak pemakan seafood sudah siap melahap masakan juru masak, sebagian mahluk-mahluk laut masih dibolak dibalik tertambus bara api agar tidak hangus.

Kami memasuki gang yang rusuk kiri dipenuhi warung tegal, rusuk kanan dipenuhi toko – termasuk sebuah bangunan yang menyala dengan terang dengan tulisan “S” namun huruf “K” berganti “G” – pasti ada ceritanya. Lantaran alamat masuk gang tak heran mereka menyebut sebagai Sebrang BCA – Samping Bank DKI..

Suasana masih sepi-sepi saja. Layar TV masih menayangkan Mischa yang mendadak berbuat baik kepada keluarga Fitri dan Farel…

“Mau Kuek Mangali?” tawar pemiliknya dengan muka ramah komersial – “Ini yang paling enak dibakar” – tambahnya lagi.

Kami mengiyakan – tepatnya promotor saya yang mengiyakan.

Juru tulis mendekat sambil berbisik… “Engkoh, yang Kuek Manggali kapan sudah habis dari sore tadi!”

Mata Engkoh saat tersenyum minta maaf makin sipit saja. Dengan atau tanpa Kuek Manggali kepiting tetap dipesan.

Masakan kepiting memang yahuud. Kepitingnya gemuk, dagingnya kenyal manis. Penggemar kepiting sudah member cap “nuikmat tiada tara”. Tetapi kalau lain kali kemari saya akan member kode untuk tidak menambahkan garam terlampau royal. Sebagai layaknya orang tua, kalau lagi makan begini pasti yang diingat anak-anakku yang doyan makanan Kepiting.

Mata saya tebarkan. Beberapa klipping dari majalah yang memuat cerita kuliner resto ini nampak dipajang dengan inti “kami yang aseli”. Rupanya mereka yang semula bersatu saat memulai karier dalam suka dan duka , sekarang pecah kongsi lalu bubar jalan buka masing-masing lapak.

Setelah habis sepiring kepiting, sepiring udang, sepiring ikan Kuek bukan Mangali, dan cah Kangkung saya baru sadar luput mengabadikannya..

Advertisements