Cumi Lontar sisa Ramadhan 1431H (2010)


Mumpung ada waktu luang, saya bersilaturahmi mempererat sedikit simpul rasa sosial dengan tetangga sebelah. Kami mulai menyombongkan diri bahwa lebaran kemarin bobot barokah mudahan dapet deh bukan lapar dan dahaga saja seperti yang selalu diterorkan para ustad di TV dan Radio.  Sementara yang kasat mata bobot tubuh makin melaju.

Lalu saya cerita makanan setia masa sahur selama sebulan adalah cumi lontar. Saya tidak tahu asal nama jadi Lontar. Tetapi cumi kering diasinkan yang biasanya kualitas KW1- termasuk dengan telur cuminya memang mendapat perlakuan istimewa. Di jajaran pedagang ikan asin, cumi ini dijejer dengan rapih pada alas yang rapih dan masih ditutupi serbet yang baru sikuak kalau ada peminat. Sementara ikan asin lainnya dibiarkan ngablak dijarah lalat.

Dengan gerak animasi saya memeragakan saat mata mengantuk, batang otak seperti sedang dimasuki loader yang menarik balok kayu, keseimbangan ditelinga seperti mengira naik perahu jukung si tepian Sungai Musi sehingga jalan macam Putro Solo yang jadi Zombie.

Tetapi serentak melihat gorengan Cumi Lontar dengan nasi beras Thai Songhe http://www.cozycot.com/files/songhe-rice.jpg kebul-kepul dari magic jar makan saya mirip Banteng Ketaton yang sekaligus kelaparan. Dan hasilnya bobot tubuh melar…

Yang tidak diduga..percakapan saya semalam dianalisa oleh tetangga yang spontan pagi ini seorang suami ngeces minta dimasakin cumi -lontar… Istrinya menjawab “ntar saya cek pasar Grogol cabang Bekasi” – maksudnya rumah kami. Beruntung setengah lusin cumi kering dan asin masih ada di kulkas dan sebelum benda ini bergerak keluar pagar, saya abadikan teman kecil yang berjasa saat puasa ramadhan.

Cumi Lontar yang luar biasa nuimatnya dimakan pakai nasi panas
Advertisements