Makanan Paling Nikmat dari Palembang ternyata Bakmi


Saya ingat masa masih SMP di Bukit Besa(k) Palembang periode 1963-an. Jamannya Konfrontasi dengan Malaysia. Thema para politisi kita waktu itu – Inggris dan Amerika akan membuat negara Boneka (Jajahan). nanti bangsa Malaysia dan Singapura dan Brunei bakalan dibuat sengsara oleh penjajah Inggris dan Amerika. Lha saya percaya saja dengankata-kata revolusioner para politisi.

Bapak saat itu belum kebagian untuk menjalani operasi militer di Kalimantan Utara. Sehingga semacam standby di Ksatrian Brigade Mobil di Bukit Besar. Jadi dapat rumah dinas couple. Didepan kami terletak SMS negeri II dan Fakultas Kedokteran Sriwijaya. Begitu tugas habis atau pindah, orang sukarela (walau sedih) menyerahkan inventaris untuk penggantinya. Ndak perlu pakai bentang poster – mempertahankan rumah dinas dengan alasan sudah pernah berjasa kepada negeri (kan militer juga digaji, diberi tunjangan).

Tetangga sebelah, pangkatnya 11-12 dengan bapak. Bedanya mereka Tajir.Bagi bocah seperti saya melihat keluarga ini macam saya sekarang melihat Donald Trump. Saban malam minggu, anak sekeluarga (nyaris semua) makan-makan di Restoran. Pulangnya membawa Bakmi yang saat itu dibungkus dengan daun pisang, kertas merang dan dililit dengan tali asin yang terbuat dari gedebok pisang.

Saya tidak tahu dimana lokasi penjual bakmi tersebut. Bau bakmi kalau baru dibuka sering melayang masuk kehidung saya yang tinggal disebelah. Pemandangan mengiris bagi saya waktu itu saat mereka makan bakmi lalu masih separuh mungkini, langsung byur dibuang ke lubang limbah dikebun yang ditanami singkong Mukibat. Saya cuma bisa menelan ludah dan sampai sekarang pantang menyisakan makanan apalagi membuangnya.

Juli 2010 saya bertemu dengan salah satu puterinya di Lampung. Mbak Sri sebut saja namanya rupanya mengambil pensiun almarhum suaminya yang juga anggota Brimob. Cuma saya lupa – menanyakan lokasi bakmi yang sudah 47tahun.. Mestinya nggak nyambung lagi apalagi waktu itu saya baru didepan jasad Bapak.

Yang masih menempel sampai sekarang adalah saya meniru perilaku keluarga elit ini sehari-hari seperti langganan Koran dan majalah Intisari. Benda yang dikeluarga saya waktu itu bukan termasuk daftar belanja.

Bakmi itu masih menjadi obsesi bagi saya. Hanya majalah Intisari kendati tidak berlangganan tetap masih merupakan bacaan saya.

Catatan ini dibuat- setelah mengamati kemarahan kepada Malaysia, lalu ingat saat Presiden Soekarno mengumumkan Konfrontasi terhadap Malaysia, dan imbasnya saya sulit mendapat sandang pangan cukup

Advertisements