Luka digigit anjing perlu di jahit atau malahan di explore – bingung-bingung kumemikirkan


Minggu siang sudah dirancang untuk makan malam diluar – memperingati Ulang Tahun anak bungsu saya Satrio. Beberapa foto lama saya tengok kembali. Saya lihat saat ia umur beberapa bulan bercanda bersama mbakyunya. Foto berwarna tersebut bertarikh 1987. Cepat nian waktu berlari. Melihat ukuran badan saya masih “lumayan” – rambut masih hitam sekalipun tidak menutupi ada gejala erosi hebat.

Sambil menunggu malam, saya menikmati leyeh-leyeh – kok mendadak didapur terjadi keributan anjing menggonggong lalu suara gedebag-gedebuk.

Horny Bitch Will Bite

Tidak lama Satrio keluar sambil memencet tangan kirinya yang meneteskan darah..

“Tanganku digigit si Cinta (nama anjing betina) kesayangannya..” – ini mengherankan sebab selama ini Cinta selalu menggemaskan dan tidak pernah menampakkan sikap agresif kecuali kepada kaos kaki bau saya.

Di bawah kucuran air wastafel ia bergumam bahwa sejinak apapun binatang, Anjing tetaplah binatang buas. Suatu waktu kalau moodnya sedang tidak baik, ia bisa saja mencelakai pemiliknya. Lalu ada tips kalau digit anjing seperti menekan bagian yang luka agar darah dan buih liur anjing bisa dikeluarkan.

Selanjutnya – luka dibersihkan dengan sabun, sebelum diberi desinfektan seperti Betadin dan minyak TeaTree.

MENDATANGI RUMAH SAKIT PLAT KUNING

Tanpa buang tempo, Satrio saya bawa ke rumah sakit swasta di jalan Daan Mogot. Langsung kami ke ruang Instalasi Gawat Darurat guna dilakukan penanganan seperlunya. Di ruang rawat terpancang Figura berisikan Kebiasaan orang yang efektip. Enam ranjang pasien nampak kosong.

Ada lima menit suster jaga tilpun sana-sini untuk minta Sabun yang biasa dipakai 9 dari sepuluh bintang filem untuk mencuci luka anak saya.

Kesimpulan dokter, luka cukup dalam dan diperlukan Hecting -satu kata baru bagi saya yang hanya mengenal kalimat “stitching” untuk dijahit. Saya harus menandatangani surat pernyataan kesediaan pasien di jahit. Biaya untuk pelayanan ini sekitar 700 ribu keriting.

Tetapi ada masalah baru. Vaksin Rabies tidak boleh dijual oleh RS Swasta. Kecuali di Puskesmas atau RS Pelat Merah. Opsi pertama jelas dimakzulkan berkenaan dengan hari minggu.

Digusah-gusah Satpam RS Plat Merah

Maka setelah mendapat surat rujukan dari dokter swasta, pasien saya bawa ke RS Umum untuk di vaksin. Sekali lagi saya masuk langsung ke ruang Gawat Darurat. Kami berhasil menyampaikan rujukan kepada petugas. Tapi nggak ngaruh. Mereka masih bertanya mengapa, kena apa, dimana, kapan terjadinya. Bahkan saat mencoba berkonsultasipun saya diusir satpam untuk tunggu giliran.

Prosedur kerja disini adalah surat rujukan dibaca petugas registrasi. Lalu ke sebuah Loket membayar harga dua ampul vaksin rabies. Lantas kami harus naik ke lantai atas menyerahkan formulir pendaftaran dan obatnya kepada petugas di ruang gawat darurat.

Namanya rumah sakit umum pemandangannya sama. Ranjang penuh alias pasiennya banyak tetapi paramedik sedikit. Lalu kami dipingpong mulai dari daftar, beli obat, tebus obat semua harus rajin bertanya, rajin ngotot, kalau perlu akal-akalan. Perlu ketahanan dan kesabaran luar biasa. Jangan berharap mendapatkan keramahan – kecuali seorang ibu di ruang penjualan Vaksin.

Sebaliknya para Dokter pria saling ramah dengan para jururawat. Ada dokter melayani pasien patah kaki sambil bercanda HP-nya hilang lalu seperti mau menghibur pasien lantas beretorika sedikit kemayu “Ada Nggak Ya HP seharga 50ribu biar kagak ada maling yang naksir…”

Giliran anak saya tiba. Perban yang baru beberapa menit dipasang langsung dibuka, bahkan team menyatakan keheranan mengapa luka digigit anjing pakai di jahit.

Ai siapa suruh jahit, pan luka beginian jangan dijahit…” kata dokter yang kehilangan HP. Sepertinya dia akan membuka jahitan yang baru saja dikerjakan di RS lain setengah jam lalu. Tentu beliau punya alasan kuat.

Satrio langsung ngotot tidak mau diperiksa ulang – dia bilang, “Saya kemari ingin disuntik Vaksin Rabies habis perkara.” Terjadi sedikit adu urat. Kami disodorkan formulir menolak pemeriksaan yang segera kami isi. Tak perduli para medik bermuka kecut melihat penolakan kami.

Akhirnya dua injeksi rabies dilakukan. Saya masih harus bayar lagi di loket yang berbeda.

Waktu menunjukkan jam 18:00an. Total biaya di Gawat Darurat (beneran) ini 350 ribu keriting. Dan penyuntikan masih ada dua sesi lagi…

Saya masih mikir cara alternatif mendapatkan vaksin Rabies untuk kelanjutan pengobatan anak saya. Rasanya memasuki ruang gawat darurat RS Pemerintah pada hari Libur dimana tenaga medis kewalahan menghadapi banjirnya pasien benar benar pengalaman Gawat beneran.

Mendadak tanpa suara permisi didepan saya nyelonong gerobak stainless steel masuk ruang Gawat Darurat. Rupanya pembagian makan malam berupa nasi bungkus.

Hancur sudah “mind set” saya bahwa dirumah sakit itu makannya pakai rantang aluminum bentuk ginjal, lalu ada lauk secara terpisah. Lha kok yang saya lihat berupa mirip daun kertas pakai lilin dan dikaretin.

Pulang ke rumah Satrio sempat memberikan pernyataan begini. Kalau dirumah sakit swasta, begitu masuk ruangan, ketemu tim dokter sepertinya kita sudah pasrah bongkokan (habis) kepada team medik. Tapi memasuki rumah sakit negeri, kenapa kita harus main curiga, harus kritis atas penangan tim. Salah dimana ini?

Selamat Ulang Tahun Satrio. Hadiah ultahmu satu injeksi di RS Swasta, dua Injeksi di RS Pemerintah.

Advertisements