Ketika mengantar bapak pulang ke Lampung


*** Bapak saat bersiap akan Umroh- April 2008 ***

“Yang ikhlas ya….,” kata lelaki ini sambil tersenyum. Beberapa tetes bubur yang disuapkan oleh ibu nampak mengalir di pipinya. Sore ini ayah seperti biasa minta minyak cap kapak, panadol dan obat pelancar nafasnya. Belakangan Ia mengalami kesulitan mengontrol air seni sehingga kemana-mana harus pakai pampers. Berat badannya menurun. Nafsu makanpun seperti berkurang.

Gang tempat Bapak melepas tugasnya.

“Ngomong apa sih bapak, jangan buat mainan kata-kata itu,” kata ibu. Setelah ibu meninggal 9 tahun lalu, maka perempuan ini yang menjadi pengganti ibu. Kami memanggilnya OMA.

Tapi ada keanehan, pandangan mata lelaki kelahiran Teluk Betung Lampung yang 17 Agustus kelak genap berusia 79tahun seperti kosong, dagunya lunglai.

Dikira suaminya pingsan sehingga ia menepuk pipi keriput ayah. Namun tidak ada reaksi. Panik dan takut, Oma berteriak dan memanggil tetangga. Untunglah ibu Rahman yang memang biasa memimpin pengajian – lantas berdatangan.

Dari pengalamannya ia tahu, ayah dari 10anak ini sudah tunai tugasnya didunia. Rohnya melesat menyusul dua anak kandungnya yang nota bene adik kandung saya, selain istri pertamanya (ibunda) yang meninggalkan kami 9 tahun lalu.

Dari pengalamannya pula ia langsung mengajak bicara jasad ini untuk menutup matanya dan mengikat dagu agar tidak menganga. Kabar pertama datang dari adik terkecil yang separuh histeris menyampaikan berita bahwa “bapak kita meninggal Mas..” lalu suaranya terputus dan sedu sedan yang terdengar.

Berita sungkawapun pulai disebar luaskan…
Adik-adik tersebar di mana-mana. Ada yang di Aceh, sedang menghadiri hajatan khitanan Iban salah satu keponakan saya, ada yang di Yogyakarta, Lampung – pendeknya tersebar. Saya anak tertua harus segera mendatangi rumah duka.

Masalahnya, kami tidak ada yang tahu TKP tempat almarhum berada. Ada 3 jam saya mencari alamat. Beberapa warga sempat kami tanyai dan semua menjawab dan dengan tulus memberitahu alamat.

Sayangnya jawaban yang diterima saling sengkarut. Satu bilang utara yang lain diselatan.

Tepat disatu tempat saya melihat ada bendera kuning. Separuh berlari saya mendatangi tenda tersebut

Gang kontrakan bapak, baru dua minggu tinggal disana.

untuk akhirnya kecele sebab bukan ayah yang saya maksud melainkan pihak lain.

Sebuah lokasi berbendera kuning ternyata ditutup oleh portal besi. Kata-kata ampuh bahwa ini adalah masalah orang meninggal dunia, tidak membuat penjaga malam bergeming. Sambil mengangkat rokoknya ia berkata. “Bapak harus memutar dulu..” – Sementara saya sudah tak sabar. Lupa usia portal saya lompati dan bersama Satrio anak saya, kami lagi-lagi setengah berlari mencari dimana bendera kuning berada.

Kali ini usaha pencarian berhasil..

Di ruang tamu sebuah rumah teramat sederhana, membujur berselimut kain batik seorang bekas Komandan Batalyon Brigade Mobil, Dan Res dan entah sederet panjang sertifikat penghargaan dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel Polisi.

Saya segera menghambur ke sisi jenazah. Tak sempat saya perhatikan sesosok tubuh kurus berbalut pakaian hitam bersimpuh seperti kehilangan daya. Dia lah ibu sambungan saya.

Perlahan cadar penutup penutup ayah dibuka, penggemar lagu “Bung Dimana” yang biasa dibawakan Diah Iskandar ini nampak seperti tertidur andai saja perban penahan dagunya tidak terpasang.

Saya mencoba mengontrol emosi saya, mencoba mengerti bahwa meninggal dunia adalah proses yang harus dilakoni mahluk bernyawa. Pikiran mistis saya berkecamuk – Inikah isyarat yang diterima puteri sulung saya Lia, yang beberapa hari sebelum hari “H” bermimpi didatangi almarhum Ibu saya. Saya biasanya hanya berkomentar bahwa isyarat mendahului kejadian bukan untuk mengubah jalan sejarah hidup seseorang melainkan – agar siap dan tabah menerima hari “H”

Aku elus wajah yang sekarang auranya sudah merasuk dalam tubuh saya. Jujur saja semenjak pernikahan kedua, hubungan antara beliau dengan saya dan adik memang sedikit masam. Kami berdua memang memiliki gengsi ssama-sama ngotot.

Tapi beliaulah yang mengajarkan saya bagaimana menulis sebuah karangan, bagaimana menghadapi massa, berbicara didepan mikrofon, bernyanyi sekalipun suara beliau begitu bagus sementara saya parau dan fals. Cara beliau memandang setiap persoalan hidup dengan “hati nurani,” Seperti masih membekas. Masih indah rasanya menjelang tidur malam beliau bercerita tentang kehidupan, kejujuran, lalu menidurkan saya sambil memetik Biola, membawakan lagu semacam “Laila Manja atau Bung Dimana..”

Kalau kami berbuat salah dan mengaku, biasanya beliau melarang ibu memukul saya: Alasannya anak kalau sudah mengaku berbuat salah masih juga dihukum, maka yang terjadi adalah mendidik anak menjadi tidak jujur.

Mim,begitu beliau memanggil saya. Janganlah karena mengejar hablum minallah (hubungan vertikal) kamu malahan merenggangkan hubungan hablum minnas (hubungan horizontal) terutama dengan tetangga. Kata itu masih berkumandang, sampai sekarang.

Lalu ayah memilih meninggalkan rumah pribadinya di Teluk Betung dan rela berdempetan hidup seadanya dengan pasangan barunya. Bukankah hidup adalah sebuah pilihan. Ayah juga seperti mengingatkan bahwa mencintai seseorang harus berani mengambil resiko yang terkadang berseberangan dengan pendapat umum.

Advertisements