Panggil Aku Ibu Jutek!


Suatu siang, saya mendatangi sebuah kedai nasi yang lokasinya berada diantara kendaraan parkir di Cilandak Commercial Estate, Jakarta Selatan. Melihat banyaknya penikmat masakan ibu ini, biasanya masakannya aduhai.

Penjualnya seorang ibu berkulit cerah, nampaknya dari kawasan Utara Sulawesi.

Saya pesan nasi, sebagai lauk saya minta Capcay, sepotong paha ayam goreng. Tetapi mata rakus saya menatap disela lengannya ada semacam “kering tempe..” – warnanya kecoklatan, ada harum cabe goreng dan uhh saya minta sesendok kering tempe.

Tolong Tambahkan Kering Tempenya Bu!

Ibu yang punya anak gadis ayu (dan berkulit putih terang) ini berdecak sambil melengos. Ketus menukas permintaan saya sambil jepitan makanan ditunjukkan secepat kilat dari satu masakan kemasakan lain yang terlindung dinding kaca “Ini Mau Itu Mau Nanti tidak dimakan.”

Dari harusnya emosi, saya malahan geleng kepala. Pertama ingat kepada cara alm ibu kalau mengajar saya. Kedua saya ingat pepatah Cina “Jangan Buka Kedai Kalau Tidak Bisa Tersenyum…”

Sadarkah ibu ini bahwa sekalipun saya senyum dan makan seperti tidak pernah terjadi peristiwa mengejutkan sejatinya saya membagi cerita ini kepada teman sekantor di kawasan Cilandak. Dan daftar korban mulut ketus ini cukup lumayan. Salah satunya sebut saja Ifa. Ia yang pemakan sambal tentunya tidak bisa menelan mulus makanan tanpa sambal. Ia menerima teguran “Jangan Banyak-banyak Ambil Sambal…”

Kalau anda penasaran ingin merasakan “tarikan urat lehernya,” ibu ini tidak segan-segan memproklamirkan dirinya dan bangga “cari Saya Ibu Jutek..”

Advertisements