Duh, perjuangan bela-belain Piala Dunia


Rasanya badan dan terutama mata tidak kuat harus memelototi pertandingan-pertandingan olah raga semalaman. Mau kacang garing yang hanya di Indonesia digemari oleh Burung Elang, kacang Atom, serta penganan lainnya hanya membuat timbunan lemak menaik dan daya tahan mata menurun.

Sebagai solusi saat nonton melalui Laptop yang disambung dengan USB Tuner. Lumayan, bahkan di kantor juga kalau ada waktu senggang bisa menonton adegan ulangan sepak bola. Memang rasanya sudah seperti sayur “nget-ngetan” alias sayur dipanaskan kemarin sih. Tetapi lumayan ketimbang kehilangan tontonan sama sekali. Tanpa antenepun – siaran TV selama saya duduk di lantai 6 CCE, everything is Okay.

Cuma separuh napasku adalah tinggal di Grogol-Jakarta Barat, “centra bisnis” stasiun televisi macam RCTI, Indosiar, MetroTV tetapi nyata-nyatanya signal yang didapat sama kualitetnya kalau anda berada di Lembah Balim Papua sana. Untuk itu saya bela-belain pakai channel internet MIVO.TV – dan inipun bukan jaminan sebab begitu Piala Dunia digelar -jalur internet menjadi Super Duper Lemot. Belum lagi kalau mau nonton ditaman belakang, saya harus pakai celana panjang, pakai kaos kaki HangTen yang sampai sedikit dibawah dengkul agar nyamuk Grogol tidak mengganggu keasyikan. Paling bau pesing sebab saya ditemani dua ekor gukguk yang menandai teritorialnya dengan urin.

Dirumahpun saya berlangganan IndoVision dan untuk mobil pakai M2V – semua maksudnya agar tidak melewatkan even akbar. Sialnya kedua saluran ternyata tidak menayangkan acara tersebut. Duhhhh.

Kalau dulu ada ASTRO – dia bisa nggeleleng (kacak pinggang) mengklaim satu-satunya stasiun yang mampu siarkan piala dunia. Tapi sayang ASTRO sudah di HUBLOT- tulisan iklan jam Swis kalau ada pergantian pemain di Piala Dunia.

Advertisements