Mendadak Ghana


Sederhana saja, sehari menjelang Jabulani digulirkan dan Vuvuzela ditiup saya melewati kamar MatSale pada berkumpul. Salah satu dari supervisor saya melambaikan tangan sebagai isyarat agar masuk ke kamarnya.

Here come the gentleman that I am looking for..,”: serunya dengan rambut jabrik diberi cincau putih agar tetap sikap sempurna. Dalam keadaan sehari-hari, setiap saya memasuki kamarnya, wajahnya penuh waspada sebab umumnya ada masalah dalam pekerjaan.

Dia nyerocos soal worldcup, celebrate – dan saya cuma menangkap isyarat “how much.. and how how…”– Pikir-pikir nggak beda dengan urusan RT. Pertama kata-kata meliuk-liuk, buntutnya Jleg– iuran RT, Kamra dan biaya sekian…

Lantas saya diajak kekamar penggede lain. Rupanya banyak MatSale lain sedang berkumpul. Intinya (ikutan ustad Zainuddin MZ), saya diajak arisan piala dunia. Intinya, saya menaruh uang 100 ribu, lalu tangan saya merogoh sebuah kantung, dan sret – saya dapat republik GHANA sebagai jagoan yang digadang-gadang.

Dan ini kali saya bermain taruhan dalam hidup saya.

Sejak itu keluarga di rumah melihat perubahan sikap saya. Dulu nonton piala dunia “sak-derma” – alias sekedar ikutan aliran air, sekarang menjadi Zerius. Dan cerita Wisnu, Karin, Agnes yang jahat terpaksa duduk di bangku cadangan untuk sementara.

Malam ini Rabu 23 Juni 2010 seyogyanya komputer dan global-connect untuk mengikuti Webminar (Seminar melalui Microsoft Communicator), dengan Host dari Celle (German). Tapi kendati saya sudah mengklik Accept – webminar, mendingan manteng di layar televisi.

Semua gara-gara . Ghana..

Advertisements