Masuk Masjid – Alat Komunikasi Musti OFF- Akan Tetapi…


Jumatan yang baru lalu para ibu dan non ibu dari kantor ajak salat di Komplek Departemen Pertanian. Maksudnya yang pria menjalankan jamaah, sementara para ibu2 dan non ibu berjamaah ke pasar tumpah ruah “jumatan” didalam komplek departemen. Suasana memang mirip bazar. Restoran yang kondang disini adalah Ikan patinnya. Saya sih apa saja enak dan enak sekali.

Masjid jami(k) cukup besar dan dingin karena tiupan fans dimana-mana. Satu hal kita harus mengikuti prosedur standard dimana-mana yaitu alat komunikasi dimatikan. Saya memang tidak mendengar dering tilpun, vibrasi atau teman yang asik ber SMS saat mendengarkan khutbah.

Huebat.. sebuah demo displin yang saya lihat sukar dilakukan secara bersamaan. Pak khatib sendiri sekalipun materi khotbahnya mengajak kita menekan keinginan berperang. Jadi suporter olah raga, berperang dengan suporter lain atau sesama suporter. Petugas cuma jalankan tugas dikeroyok sampai tewas oleh tangan yang bepakaian simbol agama. Orang tinggal dikawasan Chiben – digusur semena-mena. Cuma lantaran cara bacanya datar maka perlahansaya menguap.

Begitu ajakan salat dikumandangkan maka semua hadirin berdiri. Suasana hening khusuk mendengarkan lantunan doa sang Imam di Mimbar – tetapi eng ing eng … mulai terdengar suara alat komunikasi lain yang stereo. Mulai dengan suara dehem dikanan, dehem dikiri, ngikil didepan pokoknya sekitar saya. Banyak juga suara batuk kering – alias tenggorokan gatal tetapi batuk tak kunjung tiba.  Rupanya alat komunikasi alam nggak bisa diajak berdamai..

Musim pancaroba begini memang banyak yang masuk angin. Terkena serangan jalur pernafasan. Tetapi yang paling menyerang adalah gara-gara bergadang memelototi si Jebulane – maksud saya Jabulani.

Advertisements