Prince of Persia


Filem bernada dasar Kerajaan – selalu isinya intrik-intrik antar keluarga.  tak jauh berkisar dari iri hati dan perebutan tahta atau perempuan. Namun seperti lagu yang “nada dasarnya” cinta, entoh masih enak dicerna apalagi ditangan sutradara yang biasa membesut filem Harry Potter.

Alkisah kerajaan Persia sedang dalam masa keemasannya. Rajanya baik hati (entah suka menabung atau tidak).

Di contohkan pada saat melakukan Sidak kepasar, dilihatnya ada anak Gelandangan menyabung nyawa demi sebutir aple coklat bersemu merah. Gara-gara sebutir buah yang dibuat simbol perusahaan computer dan password anak keturunan seorang nabi dalam cerita rekaan Dan Brown maka pengawal raja nyaris memenggal kepala bocah. Singkat kata – bocah diselamatkan raja malahan dihibahkan “sebutir apel”.

Anak tak berdarah biru inilah malahan dijadikan pangeran Persia.

Namanya Negara sudah besar, adi daya, Makmur selalu ada sudut Intel negeri yang melaporkan bahwa ada negeri keramat bak “Negeri Seribu SatuMalam” – yang diam diam membuat senjata pemusnah massal dan menjual senjata kepada musuh Persia.

Negara tersebut Alamut sang negeri seribu satu malam suatu saat menjadi ancaman Persia.

Pasukanpun disiapkan lantas agar mirip kejadian ala Sadham Hussein versus Koalisi terjadi perang frontal. Garda Revolusi ALamut nyata-nyata Keok sebab mereka memang tidak siap untuk berperang. Dan senjata yang dicari ternyata sia-sia. Alias isapan jempol.

Raja Persia gusar atas serangan yang memalukan dan tak sebanding.

Sang perdana Menteri yang menjadi otak dibelakang penyerangan Persia terhadap Alamut diam diam menyesal mengapa dikala muda ia pernah menyelamatkan raja dari terkaman Harimau. Kalau mesin waktu bisa diputar, Perdana Mentri kepingin raja biar saja dimangsa oleh Harimau agar ia bisa menggantikan posisinya. Inilah asal muasal tragedi lantaran dielakang aksi penyerangan sebetulnya perdana menteri mencari pisau bertangkai gelas yang mampu menjadi mesin waktu.

Saya menonton ini sebab masih ingat anak saya Satrio saat masih anak-anak mulai diperkenalkan game berbasis PC-DOS – dengan layar hitam putih. Tidak disangka bahwa suatu saat game ini dilayar lebarkan. Dan inilah Tiket gratis terakhir yang saya miliki…

Ada pesan moral seperti “kendati engkau raja, kendati tunduk pada peraturan dewan kerajaan, namun adakalanya raja juga harus mengikuti hati nurani.”

Mumpung masih suasana Waisak, saya mengutip kata Dalai Lhama “Jika anda harus memilih mengikutui Aku (agama) dengan Hati Nurani Kemanusiaan, maka dahulukan kemanusiaan. Bukan Aku..”

Advertisements