Demam gara-gara “sarang anu” diserang semut Tengu


Jumat 28 Mei, mumpung liburan Waisak saya habiskan waktu dirumah. Klar kirim pesan pendek kepada Suhu Tan untuk mengucapkan turut berbahagia atas datangnya perayaan Waisak saya pergi kebelakang rumah untuk mengontrol binatang peliharaan saya, dua kura-kura ukuran sedang dan seekor ikan gabus.

Tiga mahluk ini sejatinya cuma titipan teman yang “suka sekali pelihara binatang” lalu cepat sekali “bosan..“. Saya yang ketempuhan. Dulu ketempuhan pelihara  ayam Pelung, Cemani gara-gara isu merebaknya virus burung.

Titipan anjing sekarang saya tolak sebab kondisi lingkungan tidak mengijinkan.

Lagian anjing nggak boleh diitinggal tanpa diawasi pemiliknya. Dulu pernah punya anjing, kami titipkan tetangga lantaran ke luar kota. Sayangnya tetangga tidak suka anjing. Akibatnya mereka memberi makan tanpa perasaan sayang. Sang satowan mengamuk,  merobeki kursi, perkakas dapur, menguliti pintu.

Lalu dicoba punya pembantu. Syarat yang diajukan calon pembantu memang manis. Kami harus punya mesin cuci, boleh ada anjing tapi tak mau ada  bocah kecil, tilpun tidak dikunci. Dan kalau ke mal dia minta diajak.

Hopo tumon bleh.

Empat ekor perkutut Bangkok yang manggung siang malam saya tolak kehadirannya. Tanganku nggak dingin soal burung. Mending bayar seseorang untuk meneruskan peliharaan almarhum mertua.

Bicara soal ikan Gabus Thailand. Ikan Gabus sudah dua tahun bersama saya, namun kelakuannya tidak berubah. Begitu saya mendekati kolam, ia seperti mengajak bermain gobak sodor. Tidak terkecuali hari Jumat pagi.

Pergelangan tangan saya yang berada beberapa cm diatas air berhasil ia gigit dengan gigi kecil tetapi tajam.Habis menggigit ia merenges memperlihatkan giginya ke udara, lalu dari mulutnya diletupkan suara seperti bersendawa. Sial bener.

Alhasil tangan berdarah-darah. Dan bahagia. Dengan olesan cairan Tea-Tree – luka mengering, bekas baret hilang.

Yang tidak diduga, malamnya saya demam. Demam mulai Jumat Malam, Sabtu Malam. Lalu sekitar selangkangan dan kantong semar mulai membengkak.

Wah hebat nih racunnya ikan gabus. Seharian saya hanya lesu meriang dan tiduran.

Penderitaan sedikit mereda setelah minum Panadol dan di pijat refleksi.

Minggu pagi saat pipis ada yang tidak beres. Bentuk macam kereta supercepat Jepang seperti mengalami perubahan radikal. Semprotan pipis  bisa pecah dua seperti lidah ular ciptaan Hassasin dalam film Prince of Persia.

Begitu saya amati “maaf” mirip potongan Gulai Tunjang (kikil) Masakan Padang, alias koyor-koyor dan bengkak-bengkak ukuran Jumbo namun tak beraturan. Mulailah pencarian dilakukan disekitar TKP (maaf- sekali lagi) .

Tapi sia-sia. Dugaan saya, bukan ikan Gabus penyebabnya tetapi gigitan serangga tengu (bukan tengu werewolf Jepang).

Biasanya serangga mini ini meninggalkan sungutnya dan selanjutnya racun ditembakkan ke bagian yang memang super sensitif. Kalau dipaksakan jalan rasanya seperti kulit macam baru “di-cres” di khitan pakai sayatan sembilu.

Maksud saya antara Korban dan Kain kalau saling bergesekan menimbulkan sensasi sakit gigi lalu tergigit batu dalam nasi.

Dulu saya terheran melihat benda serenik begitu bisa menimbulkan meriang. Padahal kalau mahluk ini diciptakan segede lalar hijau, barangkali saya ndak perlu TASPEN atau Jamsostek lagi.

Lalu saya minta mbak Nanik mencarikan obat.Nggak tega menyebut alat keramat, saya coba pakai bahasa berputar-putar.

Sebut saja obat keracunan-mbak. Nggak tega alat vital sudah dua warna diceritakan diodol kemana-mana.

Pulang dari apotik dia bawa pil hitam seperti arang. Pasti dikira keracunan makanan nih oleh apotik. Karena nggak nyambung, Norit dikembalikan, lalu ada yang usul minum saja Susu Cap Beruang.

Padahal yang saya cari pel sejenis Avil. Akhirnya – saya tulis pesan pada secarik kertas “anti histamin-anti alergi” – baru sang apoteker ngeh.

Hari Senin 31 Mei 2010 penderitaan saya sedikit berkurang. Maksud saya kantong menyan sedikit mengecil. Sakitnya sih tetep.

Advertisements