Etika Naik Lift


Masih pagi benar ketika saya mak-jleg dilobby kantor. Bagian kebersihan masih terlihat “menguas” lantai dengan pel. Saya harus mlipir mencari lantai yang sudah kering. Ingat masa kecil kalau disuruh ibu ngepel lalu adik-adik yang memang banyak berlarian kian kemari menginjak pekerjaan saya. Disitu saya biasanya naik pitam.

Seorang anak muda, segera menyalip masuk kedalam lift, lalu jleg – pintu lift buru-buru tertutup sehingga saya dan lainnya menunggu giliran. Herannya kenapa sih tidak menekan tombol atau menahan pintu untuk memberikan kesempatan kepada orang lain menggunakan lift yang sama.

Sekalian hemat Energy karena lift sekali angkut bisa membawa banyak orang.

Lalu seperti kata mas Glady – kedoyanan kita menghalangi lift. Sudah tahu bakalan turun di lantai 7, mereka manteng saja di depan pintu lift. Kadang menggembol backpack dipunggungnya. Jadi pemakai dari lantai 2,3,4,5,6 terpaksa berulangkali bilang “misih, misih” – tetapi hati “misuh”

Tetapi saya pernah punya pimpinan “perempuan” yang kalau naik lift selalu tingkahnya aneh-aneh. Pada dasarnya beliau phobia ketinggian. Begitu “mak jleg” kakinya masuk lift, biasanya wajahnya dihadapkan ke dinding. Dan itulah yang ia lakukan sampai kita beri isyarat bahwa lift sudah sampai.

Advertisements