Antar Grogol dan Bekasi kok ada JetLag


Antar Kota antar Propinsi juga ada “Jet Lag”

Lantaran masih dibawah 40hari sejak ditinggal Eyangnya Lia, Satrio, Pricilla, Gilang dan Bagus, maka secara bergantian para anak, cucu dan menantu tidur di rumah duka Grogol. Akibatnya makan, tidur mulai sembarangan namun tidak beraturan.

Lantas istri saya belakangan mulai merasa gerah, selalu keringatan, dan ketika di bawa ke Dokter, fungsi hatinya berekskalasi 10kali daripada orang normal. Sambil meringis prihatin Dokter keluarga kami bilang, sebaiknya mamanya Lia di Opname. Tapi sisakit menolak lantaran belum dingin dari ingatannya sang ayah tercinta masuk rumah sakit masih bisa bernyanyi dan berdiri, sepuluh hari masuk peti mati. Alasannya “cukup bedres saja,” tambahnya selama belum muntah semua berada dalam keadaan aman dan terkendali. Tadinya saya pikir gejala Meno. Maklum usia sudah 52tahun.

Lalu pak Lanjar, jam 12 tengah malam harus dipapah anak-anaknya untuk dibawa ke dokter. Supir setia ini tidak pernah mengeluh kecuali kelihatan lunglai. Diam-diam ia merasa tertekan dan kesehatannya terganggu.

Giliran saya, yang semula merasa sehat-sehat saja. Naik “pit” sampai ke jalan Pejagalan, Jalan Bandengan, Jalan Kemurnian, Kemenangan. Mestinya fit wal afit. Tetapi saat Medical Checkup tahunan, dokter di ISOS bilang bapak sakit ya, temperature ditelinga naik, ada benjolan di sekitar kerongkongan dan tenggorokan merah. Harusnya bapak mengeluh pusing. Dalam hati saya menjawab, kalau masih pusing saja saya tidak ambil pusing.

Dari tiga kasus lalu saya berteori. Menjadi peserta Turne – Turu nang kana Turu Nang Kene, tidak serta merta sekedar pindah merem. Sepertinya ada bagian biologi yang kurang berkenan sehingga kendati mata merem dan mengorok seperti Doberman hendak direbut tulang sapi jatahnya , entoh badan masih merasa di tempat lain. Tidak bisa tidak, ibu Mertua terpaksa harus disapih. Saya permisi dengan mementahkan argument beliau bahwa kalau tidur di rumahnya dokter banyak, keponakan banyak, adik-adik banyak. Kadang saya menyesal bilamana beliau masih mencoba bernegosiasi, suara saya mulai meninggi. “Menantu yang kadang kurang aturan…”

Sekarang waktunya kembali ke Bekasi. Dua kura-kura saya seperti acuh melihat kedatanganku. Ikan kecil yang menjadi pakannya, pada mati terapung. Suatu peristiwa yang luar biasa. Sepertinya kura-kurapun menderita sakit. Sebuah apel ditaruh dimeja keesokan harinya digerogoti mahluk cerdas bernama tikus. Beberapa hari tidak didiami, tikus mulai berani masuk.

Advertisements

Dari Selongsong Rokok Gentong


Koran ibu kota hari Sabtu 27/3/2010 menampilkan seuntai pesan singkat dalam bahasa Sunda Punten sakarang tos nape dimana? Sakarang diatosan di kurayni sakarang diatosan

Boleh jadi sang pengirim pesan singkat hendak menyatakan “Maaf sudah sampai di nyampe dimana, di karang ditunggu di KURANJI, sekarang ditunggu..”– Rupanya sang wartawan bermaksud meliput kehidupan warga Baduy, dan seorang pemuda Baduy bersedia menjadi Pemandu mereka. Titik rendevouz adalah Kuranji.

Tetapi saya masih belum ngeh akan maksud penulis C Anto Saptowalyono dan Cornelus Helmi mengcopy paste- pesan singkat dari seorang keluarga Baduy Luar- Banten.

Dasar bukan orang Sunda kendati kelahiran Pandeglang tahun 1953, saya cuma ngeh bahwa kata nape seharusnya Nyampe, dan diatosan seharusnya diantosan = ditunggu, lalu kata daerah Kurayni seharus Kuranji

Ada kesalahan tata letak kalimat yang tidak pas disini. Apakah akan membahas maslaah disleksia?

Baru saya “DONG” – bahwa orang kampung Cipaler, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten – bukannya secara adat dilarang sekolah, diharamkan baca tulis, lantas mengapa Lilik (30) mampu menulis melalui tilpun genggam yang ternyata sudah mendekam disementara rumah warga Badui.

Kalau anak-anak normal, belajar membaca dengan mengeja “ini ibu budi, ini bapak budi,” maka warga Badui belajar membaca dari potongan selongsong rokok. Lilik, misalnya, belajar dimulai dari melihat bungkus rokok Gentong. Lalu dia mulai menggunakan kemampuan fotografi otaknya untuk memotret bentuk hurup dan sulih suaranya.

G “gambarnya begini”, e “gambarnya begitu, dan “n” dan seterusnya. Lalu ia membaca iklan rokok lain, dan mulai melakukan studi perbandingan sehingga ditemukan cara dahsyat belajar membaca tanpa guru.

Teknologi tilpun genggam, ternyata dimanfaatkan secara positif bahkan ketika orang berdebat Haram Merokok, Mubah Merokok, Makruh Merokok, mereka malahan belajar menempa diri.

Keinginan membaca pada Lilik van Badui ini tumbuh saat ia usia 13 tahun. Tidak tanggung-tanggung dunia aksara terbuka setelah ia menekuni sembari sembunyi belajar selama 3 tahun. Ia bahkan bisa berjualan ke dunia luar, membaca nota bon pembelian yang ditulis oleh Babah Liem di Rangkas Bitung.

Pak Wiro, tukang sampah kelurahan kami, 60, mampu membaca uang. Tetapi berapa gerobak sampah yang ia layani hari itu, biasanya cuma cari potongan genteng dan “bret” dia menarik garis demi garis, seperti yang dilihatnya kalau ada cara hitung pemilu.