Diskriminasi Kartu Kredit


Kartu Kredit juga ada jalur khusus

Semalam antar keluarga belanja di ritel terbesar, terkenal di Jakarta Timur. Begitu besarnya tumbuh kembang mal ini sampai sampai terjadi protes lantaran monopolinya  dirasakan sudah kebangetan menggilas pedagang kecil tradisional.

Seperti biasa tugas saya adalah penarik trolley. Persis anjing pelacak. Giliran bayar, persis bergaya Oei Tiong Ham – Raja Gula dari Semarang.

Bosan melihat para ibu yang ancur-ancuran membandingkan harga semurah mungkin, memilih jeruk Shantang seperti mau cari bibit perkutut unggul diam-diam saya menghilang dari pandangan mereka. Biasanya ke pernik peralatan mobil.

Tapi jangan salah. Biarpun asik pada BLANJA BLANJI kalau sadar saya hilang barang sebentar akan dibel.

Kemana aja.. jangan pergi jauh-jauh…hampir selesai nih” – Tapi saya bisiki – bahwa kata –selesai- itu bisa berarti sejam dan dua jam kedepan.

Biasanya saya menghampiri mereka setengah berlari lalu mengetengahkan humor dengan menjewer kuping dan angkat kaki, persis kalau di strap guru. Dan tahu bakalan masih lama lagi.

Betul saja,  setengah jam nyaris dihabiskan dikonter ikan. Nampaknya acara penutupan belanja bulanan adalah membeli ikan bandeng, dan sekalian di multilasi ditempat.

Giliran pembayaran ternyata antrean cukup panjang. Pertama saya baru nyadar masuk di antrean yang khusus “belanja pakai keranjang”.

Terpaksa sambil mundur teratur kami mencari antrean baru yang pakai trolley. Saya lihat banyak pelanggan salah masuk. Tetapi mereka nampaknya terlatih mengakali “aturan baku” – sehingga cukup ambil beberapa keranjang untuk memindahkan isi trolley. Soal tidak masuk akal satu orang bawa 4 keranjang. Itulah yang dinamakan akal-akalan. Mereka tidak perlu pindah antrean.

Ada dua keluarga didepan saya nampaknya bermasalah dengan pembayaran kartu kredit. Mesin selalu menolak menggoalkan pembayaran sampai pelanggan Nampak bingung.

Eladhalah giliran saya datang – ternyata milik sayapun ditolak. Lho kartu ini sudah naik pangkat Brigjen Kartu Kredit sebab diberi symbol bintang emas satu.

Teruji dipakai pakai di Amerika, Inggris, Phillipine, Malaysia, Pakistan, Muangthai, Arab Saudi sampai Australia sekarang ditolak di Buaran – Jakarta Timur yang sedang sibuk dibuatkan Banjir Kanal.

Tidak kehilangan akal saya pakai kartu kredit pasangan saya yang lebih banyak jumlahnya dari saya.

Tobil anak kadal.. Masih bermasalah juga.

Sebentar-sebentar pramuniaga lelaki yang memang kerjanya sebat dan trampil bergumam “jaringan bank XXX ini sering Hang…” – Saya takut menyebut identitas lengkap maklum jaman sedang menuju era Semangga Berbuah Penjara.  Atau kalau tiru-tiru kata ibu Sri Mulyani yang cantik – adalah Character Assasination.

TAKE  IT OR LEAVE IT

Ada dua opsi bisa saya lakukan. Bayar pakai Cash, atau meninggalkan seabreg belanjaan. Pasalnya kalau memang tidak bisa pakai kartu kredit “biasa” mengapa harus repot. Jangan-jangan watak ewuh pakewuh alias malu diexploitasi disini.

Nyatanya saya masih ikut perasaan kadung malu. Apalagi diam-diam pasangan saya mengeluarkan kartu kredit yang memang dipromosikan besar-besaran dimal.

Begitu kartu kredit “Budi Belajar Membaca” dikeluarkan serentak wajah pramuniaga – sesumringah nyonya Michele Thomson – Dia bergumam “kalau pakai yang ini – mesin geseknya khusus pak” dan kali ini pelayanan seperti di pusat belanja Singapura. Cepat dan esrek-esrek kertas persetujuan tercetak dalam printer mini thermal.

Lain kali saya terpaksa menghindari mall yang rada berbau promosi dan diskriminasi beginian. Bisa bikin ketiak seperti di iklan, naik mobil balap warna kopi susu lupa oles Deodoran.

Advertisements