Tak Selamanya Debt Collector itu kelabu


Ada plesetan mengatakan apa beda DEBT COLLECTOR (uang) dengan DEPTH COLLECTOR (mudlogger). Yang terakhir adalah pekerjaan kami di rig pengeboran yang kerjaannya memelototi laju pengeboran.

Setiap millimeter matabor masuk perut bumi, data kami rekam dalam database lalu dipresentasikan secara RTO (Real Time) – agar mudah dilihat dan diinterpretasikan.  Makin cepat tentu saja  kita akan segera mencapai target kandungan minyak dan gas bumi. Orang main senang. Mereka menyebutnya sebagai pengeboran berjalan secara optimum. Dari informasi laju pengeboran orang lalu mengira-ira – benda apa yang sedang ditembus oleh mata bor. Harap maklum pandangan kita tertutup lautan, bebatuan yang jaraknya ribuam meter di bawah sono.

Kalau pengeboran makin cepat dicari penyebabnya, bisa jadi tanahnya lunak. Tanah lunak biasanya batuan pasir. Batuan pasir biasanya potensi mengandung minyak atau gas. Kalau demikian harus berhati-hati agar kawasan emas hitam tidak rusak akibat ulah pengeboran semena-mena. Tetapi tempo-tempo, dikawasan lapisan berbatu kapur, pengeboran cepat karena masuk lobang yang memang biasa banyak terdapat pada batuan kapur. Mata borpun bisa terjepit kalau operator pengeboran tidak berhati-hati. Kalau terjadi eksalasi pengeboran yang melaju tanpa rem, padahal bebatuannya sama saja, maka ada kemungkinan mata bor memasuki kawasan temperamental. Mudah mengamuk. Rawan terjadi “blowout”.

Sebaliknya kalau pengeboran lambat apakah terjadi perubahan jenis batuan yang lebih keras. Atau mata bor yang perlu diganti.

DEPTH COLLECTOR TERTEMBUS DEBT COLLECTOR

Tetapi sebagaimana DEPTH COLLECTOR saya juga pernah kesandung dengan Debt Collector. Tidak tanggung-tanggung, preman Australia.

Tatkala menginjak kaki ke Australia di 2004-an, menilpun keluarga di tanah air adalah barang mewah.  Untuk keperluan itu kita harus beli SIM CARD, mendaftarkan “by phone” lalu tunggu 24 jam sebelum telephone bisa dipakai. Sayapun beli hal serupa, dan iuran perbulan adalah 50dollar.

Lama kelamaan, bermunculan tilpun murah dan saya lupa bahwa ada kewajiban membayar iuran setiap bulan. Maka tagihan-pun membengkak padahal tilun dan SimCard sudah entah dimana.

Peringatan-demi peringatan datang tiap bulan. Masih saya abaikan, mereka mendatangi kantor saya di Perth. Apalagi sejak 2008 saya sudah kembali mutasi ke Jakarta.

REKENING DITUTUP – HUTANG DIAMBIL ALIH DEBT COLLECTOR

Dari Jakarta saya mencoba  membayar via online. Celaka 12belas rekening “virtual” tidak bisa dibuka karena memang nomor saya sudah jadi fossil lima tahun lalu.

Lalu saya hubungi pihak ISP, pertanyaannya adalah hutang saya termasuk Internet atau Voice. Sekali lagi saya bingung. Saya mohon apakah bisa saya bayar sekarang (selama bertelpun ria). “Sorry mr Mimbar, we cannot do it for you..” – Istilahnya ada bagian lain yang lebih berhak.

Lalu saya bikin surat beneran (pakai amplop) menyatakan bahwa saya kepingin betul bayar hutang saya kalau tidak silap sekitar 270 dollar.

Sebulan kemudian datang jawaban bahwa hutang sudah dialihkan ke Robert and Dunn sebuah badan berfungsi sebagai Debt Collector.

“Twaaaanggg” seperti ada guruh ditelinga saya.  Kok gebleknya pikiran saya menerawang anggota Biker HD yang gondrong beranting, pakai jean kutung tato merebak disana sini, lalu sambil pegang baseball bat mereka bilang “Pay or sorry..” – kebanyakan nonton Walking Tall- kali ya.

Langsung saya belajar “jangan berlangganan apa-apa di Luar Negeri ketimbang jadi memolo (masalah).

Saya tidak bisa menemukan akses ke R&D sehingga sekali lagi menulis surat kepada mereka. Semua dokumentasi email dan bon hutang saya sertakan.

DIKORTING 200 DOLLAR

Kali ini jawabannya, saya boleh bayar melalui rekening yang khusus sudah dibuka. Dan bukanya kena hukuman hutang saya malahan dikorting 200 dollar. Maka saya cuima bayar 70dollar keriting..

Kuatir kena charge tetek bengek yang tidak menggairahkan, saya tambahkan saja 100 dollar gundul.

Ternyata dikembalikan sisanya. Lalu saya surati sekali lagi untuk mendonasikan sisa itu entah kemana.

Haaaah. Selesai juga urusan dengan Debt Collector ternyata tidak seseram yang saya imajinasikan.

Advertisements