Bersihkan Aura Di Pemandian Gunung Pancar (bagian empat)


Di warung ibu S – Gunung Pancar, Jawa Barat leher saya seperti terbuat dari karet sebab berkali-kali saya melongok, melayangkan pandangan kesekitar warung dan sekaligus pemandian airpanas milik pak S sekedar mengajaknya ingin mengobrol dengan sang Tokoh merangkap Jagawana.

Apalagi dr Nury kerap menyebut nama Tukang Insinyur ini dalam FB-nya.

Menurut istrinya kebiasaan suaminya adalah naik turun gunung, mengawasi hutan dari kemungkinan longsor – serta tidak membiarkan sepotong bambupun dibabat bilamana hanya untuk tujuan keindahan.

Kadang ia menempelkan tangannya di pepohonan, atau tanah bak seorang dokter menempel stetoskop didada pasein, seakan hendak mendengarkan – keluhan atau pesan dari mereka bahwa ada tanah menjelang longsor atau pepohonan yang sudah tua dimakan usia.

Istilah dr. Nury – dengan menyelipkan sebilah golok di pinggang, pagi buta – tokoh ini sudah menjadi “orang hutan..”

Menjelang siang, sosok yang saya nantikanpun datang. Berambut perak dengan kulit legam lantaran akrab dengan matahari, rupanya bapak ini sedang di”pepet” oleh dua orang yang nampaknya ingin mengadakan “investasi. ”

Hilang sudah kesempatan mendekatinya. Terpaksa sambil membuka mulut menikmati singkong, saya panjangkan telinga agar bisa curi dengar percakapan mereka.

Selang beberapa lama sang suami yang juga jarinya selalu mengepulkan asap sigaret memanggil isterinya untuk bergabung dimeja perundingan “investasi”.

Sang istri yang sejak pagi “mruput” – alias pagi bener sudah bekerja sendirian, bolak balik ke kasir menghitung bon, mengecek uang kembalian, lalu kembali ke dapur mengecek pesanan pelanggan. Kelihatan jengkel ditahan.

Tugasnya yang lain adalah “menggiring” pendatang baru untuk mendatangi tempat pemandian dan sekaligus warungnya. Sebuah pekerjaan membutuhkan konsentrasi serta otak yang multi tasking. Cara menggiringnya persis kalau anda belanja di kawasan Glodok lalu masuk arena makan.

Begitu duduk disisi sang Investor dan mendengarkan penjelasan sang suami, mata belonya sedikit membelalak lalu dengan logat sunda yang kental “Saya -teh- bosan dengan kata proposal. Kasihan suami saya, dia mah percayaan wae sama kata-kata kerjasama. Kasian setiap kali buat proposal. Kenyataannya mana? Sekarang kalau mau kerjasama, ada pertanyaan, tanya saya langsung…”

“Kalau tidak percaya dengan kami, lihat saja di Internet.. Tempat ini sudah terkenal…” – imbuhnya lagi. Kelihatannya soal berbisnis perempuan cantik ini kalau mobil duduk di pojok kanan depan, alias pengemudi.

Eng..ing eng..- Saya juga akrab dengan kata-kata manis seperti ini. Kerjasama, investasi, berat sama ditanggung, ringan sama dijinjing. Dan ketika selingkuh investasi mulai dilakukan salah satu anggota tak pelak persahabatan, persaudaraan jadi bubar jalan.

Tetapi sang suami “keukeuh” malahan menghilang sebentar kebiliknya dan balik membawa beberapa lembar formulir yang diserahkan kepada sang calon investor. Ia sempat bergumam kepada tamu “mana kartu namanya dong?” – Oo rupanya investasi sampai terdengar ketelinga saya “setengah milyar lebih…” belum sepotong kartu nama muncul.

Dan nampaknya obrolan investasi berjalan makin gayeng apalagi ditingkahi goreng singkong APUUY dan segelas kopi. Sekalipun kerlingan tajam sang istri seperti menyiratkan gambaran. “Paling juga nanti nggak ada kelanjutannya…”

Lain kali kalau anda mau ajak kerjasama, hubungi suaminya saja ya.

Jakarta 5 Des 2009

Mimbar Saputro

Advertisements