Bersihkan Aura Di Pemandian Gunung Pancar (bagian dua)


Begitu “reketek” rem tangan ditarik tanda kendaraan parkir dan aman untuk keluar saya memberi aba-aba bak seorang Pilot kepada penumpang dibelakang untuk keluar kendaraan tentunya setelah kunci otomatis pintu kami lepaskan.

Pasalnya Senior saya ini sudah mulai membahayakan karena mulai tipis kadar kesabarannya. Mau duduk dikiri atau dikanan, kendaraan belum berhenti benar sudah cabut sabuk pengaman dan tangan otomatis buka pintu zonder toleh kiri tengok kanan. Lha kalau ada motor atau mobil langsung menyerempet pintu kendaraan yang dibuka tiba-tiba. kami juga yang disalahkan.

Kepada penjaga parkir GunungPancar saya tanyakan dimana pemandian air panas. Jawabnya mau yang OEMOEM atau yang PRIVATE – Tidak perlu membuka atau belajar Pendulum, saya sudah langsung menjawab “Pak Ratman – dimana pondoknya.” Jangan heran Dokter Nury sudah kasih gambaran.

Oce… saya lihat beberapa bangunan dibawah sana. Maksud dibawah adalah sekitar 10 meter dari parkiran. Sementara OEMOEM masih harus berjalan menurun jalan licin dan bisa-bisa ratusan meter.

“Mari..mari, mau rendam bisa disini, mau terapi ada, mau ke toilet juga ada..” – suara seorang perempuan menyapa ramah.

GPS otak saya langsung menunjuk – inilah target operasi yang disebut-sebut dalam blog Dokter Nury.

Sayapun duduk di warungnya dan karena penganut mahzab “MAKANLAH SEBELUM BERENDAM SEBELUM KAMU Direndamkan orang lain ” – Maka langsung saya memesan Singkong Goreng APUUY ditemani wedang Bandrek.

Sementara belum menyentuh sederet menu ala masakan Sunda terpapar didepan saya.

Ketika saya menyebut sekali lagi Dr Nury, ibunda pemilik warung tertawa lebar sekali, oh ibu Nury itu istrinya.

Lalu pemilik warung merangkap pemandian air panas – sesosok perempuan berkulit cerah dan masih semlohei diusia senja ini dengan tenang melayani permintaan tamunya. Satu persatu dicatatnya dan dengan sabar menjelaskan segala sesuatu mengenai masakan yang akan dihidangkan.

Penampilannya nampaknya selalu terjaga, kombinasi waran baju atas putih bermotifkan kembang “beureum” ditambah gaun bawahan yang juga “bereum manyala” seperti menghidupkan suasana resto.

NASI MERAH – GORENG BALITA – TUMIS JAMUR

Saya lompati dahulu masalah berendam (bukan berenang lho disini TIDAK ADA KOLAM RENANG).

Habis berendam di pemandian alternatif dan semoga “al karomah” dan alfiat wal nikmat – maka perut mulai bervibrasi sampai jemari terasa bergeletar. Kami memesan nasi beras merah, sayur asem, tahu goreng, tumisan jamur, goreng wader “balita” , lalap berupa rebusan dengan sambal yang mantabs. Wah..wah, luar biasa sekali. Sudah begitu, tidak pakai lama .. masakan cepat terhidang.

Jangan tanya pepes disini – mereka tak menyediakannya. Sekalipun anda berfikiran sebagai makanan kebangsaan orang Sunda.

Lagi-lagi Senior dan Seniorita saya sedikit rewel – lagi. Mereka bilang makan saja dirumah, kan sudah masak. Saya tidak perduli (masak aku harus sabar terus).

Nasi merah yang digunduk seperti ukuran baskom RM Padang langsung saya cepol, tangan kiri kriuk-kriuk melahap bayi ikan mas, kadang ditingkahi cocolan rebusan daun singkong, godog labu siam. Tangan mencekam, mulut mengunyah. Mirip bermain klenengan. Eit jangan lupa masih ada asesories, Goreng Tahu Kuning yang panas.

Melihat saya dengan egois, krakus makan sendiri. Pancinganku mulai mengena, perlahan para pengambek parama arta – mulai mencicipi mas goreng balita, lalu ambil Mitu eh ambil lagi. Tempo mulai dipercepat dengan mencocolkan tahu plus sambal (ini rahasianya), dan tidak lama kemudian semua memesan makan siang.

Batin saya bersorak penuh glory “rasain eluh gue traktir makan siang..” – Gitu kok repot.

Warungnya sendiri cukup luas. Ada lincak (kursi) bambu, ada kursi malas bambu yang membuat kita serasa berada di dunia lain. Bisa mengakomodasi 20-an pengunjung. Kalau dipaksakan tentu bisa lebih banyak lagi.

Menjelang makan siang saya melihat setumpuk rantang plastik berisikan nasi putih, sambal dan setumpuk terayaki daging. Rupa-rupanya untuk para pekerja pemandian ini.

Ala maak jaman susah begini ada juragan masih mengirim makanan ransum daging terayaki sebegitu banyak.

“Hujan begini pak kalau kasihan kalau mereka dikasih lauk ikan, kudu daging.. ” Katanya sambil menyenduk sesendok besar daging kedalam rantang berikutnya. Mudah-mudahan Indonesia masih menyimpan stok orang macam beliau.

Balita= anak ikan mas (umur) bawah tiga bulan tak-ye (madura)

Mimbar Saputro
5 Des 2009

Advertisements