Saah ambil oleh-oleh


Salah satu nasehat di kantor saya kalau hendak bepergian adalah tidak pakai baju mencolok, tidak muncul di tempat yang terjadi keramaian massal, dan tidak menulis alamat yang terlalu jelas dan lengkap pada tas. Bahkan dianjurkan sebisanya hindari pakai taksi dadakan.

Tapi pada kenyataanya praktek ini sering menyulitkan saat bagasi kita hilang atau tertukar tempat. Apalagi nasehat ini biasanya dibuat detektif Barat.

Contoh saja Lita. Perempuan cantik, langsing, penganut mahzab tiada hari tanpa egal-egol senam. Perempuan muda berkulit cerah meriah ini berangkat ke Mekah dan Madinah sorangan wae berhubung sang suami baru saja pulang haji sehingga tidak bisa menyertainya. Padahal seumur-umur ini adalah kali pertama baginya keluar dari negara dengan berazaskan hukum isi baterai HP masuk bui.

Kami cuma bisa bilang untuk jangan belanja-belanji tanpa mengindahkan timbangan. Dan berhati-hati sebab di Tanah Sucipun pencopet tidak ambil perduli. Ia menurut. Sebuah dompet stagen melilit di pinggangnya.

Hanya pesan kami untuk hanya membawa sekedar rupiah tidak diindahkan. Bukan kurang cinta mata uang negeri, hanya lantaran jumlahnya sering banyak, besar dan tebal. Padahal ketika ditukar mata asing lain ngempos.

Saat perpisahan sulit menahan pelupuk mata yang berat dan perih melihatnya berpamitan lalu masuk kendaraan diiringi sedu sedan sanak keluarga yang ditinggalkan. Terseok saya dari kantor memacu kendaraan agar bisa bertemu sebelum berangkat yang rencananya bakda Magrib..

Mudah-mudahan perempuan beranak dua ini mampu menjadi haji yang Mabrur. Betapa tidak. Sebuah perjuangan berat, menabung rupiah demi rupiah (tahu kami, lha kalau menyetor sering menemaninya). Tak kurang satu kendaraan roda empat dibenamkan habis untuk pergi ke Padang Pasir.

Bulan Nopember lalu melengganglah ia tanpa masalah ke tanah Mekah (dan Madinah). SMS tak henti-hentinya berseru – doakan aku ya… Kadang melancarkan berita Aku sudah transit di Dubai.

OLEH-OLEH DIKARGOKAN TERLEBIH DULU

Menjelang akhir prosesi Haji ia mengirim SMS.

Aku kirim oleh-oleh dan sudah dikargokan secara kolektif. Jadi oleh-oleh akan mendahului kepulangannya ke tanah air. Sekarang siapa akan menjadi Oleh-oleh Kolektor di Tanah dengan penduduk doyan angkat junjung pemerintah seperti membangun dan merombak benteng-pasir.

Pasalnya dia tidak menyebut “minta bantuan” kami sehingga asumsinya urusan oleh-oleh kolektor diserahkan kepada keluarganya. Toh tinggal datang tunjukkan bukti diri dan barang kiriman dibawa melenggang pulang. Apalagi di rumahnya berjibun manusia dengan anak-anak mereka yang ikut menikmati rejeki di rumahnya.

Betul saja pas Minggu malam ada tilpun dari Biro Jasa mengatakan bahwa dua koli sudah tiba di gudang.

Suami Lita yang sedang enak-enak kondangan di-HP oleh keluarganya untuk segera mengambil kiriman malam ini juga, padahal pesta baru saja dimulai.

Sampai di sana satpam menanti di Gudang Biro Jasa yang overload oleh barang van Jamaah Saudi Arabia. Untunglah dengan keterbatasan tenaga barang berhasil diangkut pulang.

SALAH AMBIL

Sampai di rumah barang nyaris dibuka habis tetapi setelah dicek silang ada yang tidak match. SMS mengatakan dua koli dan barang dimata hanya satu koli. Lalu saat dilongok ada nama pemilik tertulis kecil yang asing di telinga mereka. Jelas salah ambil.

Setelah sempat tilpun sana sini, baru ketahuan koli yang diberikan adalah koli punya jamaah yang lain. Nasihat yang bisa diteguk, tulislah alamat kita kita sejelasnya sekalipun di luar negeri kita amat tidak dianjurkan membubuhkan nama dan alamat yang terlampau jelas. Kuatir disalahgunakan.

Malam ini Rabu 2/12/09 kalau tiada aral melintang ia akan kembali ke pelukan suami dan anak-anaknya. SMS-nya singkat, “tolong jangan getok tular kedatanganku ya. Capek nih. Mo istirahat dulu..” – Iya deh paham.

Advertisements