Jangan Loba


Suami mak Kasih sejak jumat sampai minggu ini cukup repot. Dia dapat job tambahan – membantu menjagal dan membagi daging kurban. dari sana-sini kendati cuma dapat sekerat dua kerat, namun setelah dikumpul – mereka bisa seminggu makan daging terus menerus.

Lalu ada tetangga yang menyembelih daging tambahan dan rasan-rasan bagaimana kalau saya dibagi daging kurban juga.

Eh suami mak Kasih langsung “mewakili saya” – pak Mimbar tidak makan daging begituan, tidak makan nasi, mending dibagikan kepada orang lain saja. Saya yakinkok pak Mimbar tidak marah.

Sampai dirumah, peristiwa “atas nama bangsa Mimbar” – diceritakan kepada mak Kasih sang istri dari 4 anak yang hidup dibawah garis kemiskinan. Lalu istri berujar “coba terima saja, nanti kan biasanya Pak Mimbar juga memberikan dagingnya kepada kita, lumayan…”

Diluar dugaan, sang suami meninggi suaranya “jangan serakah, kamu sudah dapat bagian…”

Pak Kasih ini kalau jam lima pagi sudah menenteng sepeda bututnya berjualan makanan di sd-sd sekitar Bekasi. Kalau modalnya 100 ribu, dan semua dagangan habis, ia dapat 130 ribu perhari. Tetapi dagang makanan habis adalah peristiwa langka, dan hanya bisa diperoleh kalau hari-hari besar. Dulu pernah menjual tempe mendoan, cendol tetapi preman-preman Bekasi yang menakutkan selalu memalaknya. Dia tidak berani melawan dan memilih tidak berjualan.

Jam 12 malam saya masih melihatnya berjalan gelembat-gelembot menuntun sepeda sambil menggulung celana panjangnya. Musim hujan begini jalanan tanah merah didepan rumah membuat sepeda bisa kepater. Tetapi jiwa besar lelaki yang selalu berlengan panjang ini tidak terkikis oleh keadaan ekonomi rumah tangga.

Hanya kok selalu ya.. Daging yang konon disiapkan untuk kaum dhuafa lantaran datangnya sekali ngegerojog sekaligus – banyak juga yang saya dengar terbuang percuma.

Advertisements