Makan lezat tapi kemrungsung alias tidak relax


Katakanlah ini gejala seseorang menapak masa senja yakni melorot angka sabarnya.

Misalnya saja saat makan All You Can Eat. Sudah tahu bahwa kita boleh makan sampai kenyang, tetapi saya malahan tidak ambil makanan sama sekali. Pasalnya disepanjang hidup – kita terbiasa lapar sebatas pandangan mata. Seperti orang berbuka puasa.

Semua makanan mau dimasukkan panci, akhirnya saat perut membengkak, makan menjadi pelan, makin pelan dan tersisalah makanan yang bagi sebagian orang yang tak mampu bermimpipun tidak akan makan direstoran semacam ini.

Untuk menutupi malu lalu – keluarlah jurus ngeles – AKU AMBILIN KAMU KOK.

Akibatnya setiap makan sejenis beginian saya hanya ikut gabung makan ngerusuhi alias meriung apa yang sudah ada di panci mendidih. Dan berulangkali mengingatkan “habiskan makananmu.”

Terasa mengganggu memang, apalagi kalau penganan tersebut ditraktir oleh orang lain. Hanya bagi saya makan termasuk juga sarana tuntunan bukan sededar tuntutan mata.

Mudah-mudahan dikemudian hari kelak jejak aneh saya diingat anak dan cucuku untuk tidak memubadzirkan makanan.

Advertisements