Hari Arwah


Halaman depan blok (anak) kami di jalan Choa Chu Kang Avenue yang biasanya asri dan bersih kini nampak kotor penuh sampah bak orang habis pesta mercon. Bukan hanya kertas, banyak makanan digeletakkan di jalanan.

Jumat 18/9/2009 adalah hari terakhir bagi para pencinta warisan tradisional Tionghoa untuk menyalakan lilin, membakar dupa, membakar kertas dan persembahan berupa kue apam, apel, arak, tembakau sampai jeruk Mandarin.

Konon sekitar 2 meter dari saya mengetik naskah ini akan berseliweran para arwah leluhur mereka baik yang jahat maupun yang baik menikmati hidangan terakhir di dunia.

Kamar memang dirasuki asap kertas sembahyang, bau dupa.

Bahkan diingatkan untuk tidak menyepak atau sengaja atau tidak sesajen sampai lilin menyala, bekas lidi Hio lantaran selain dianggap melecehkan kepercayaan mereka, kadang timbul akibat yang tak diinginkan.

Untunglah, sekalipun masa sulit, para arwah tidak banyak maunya padahal biasanya persembahan ini ditaruh di altar dengan aneka ragam penganan.  Jendela kamar dibuka ngablak membuat asap dupa masuk kedalam kamar dan untungnya tidak ada arwah yang berangasan atau iseng. Seperti yang diharapkan, mendadak seharian hujan turun sehingga makanan banyak yang basah dan rusak.

Besok pagi – segala ubo rampe upacara menjamu arwah akan dibersihkan oleh petugas yang umumnya berkulit gelap dan berasal dari India. Berbekal semangkuk air, mereka akan mencabuti batang Hio yang masih tertancap di tanah. Bagi yang masih menyala, tanpa ampun kepala hio diblebekan kedalam air Cezzz.

Advertisements