Pengantin ala Geng Jalan Damai


Mula-mula anak-anak tanggung ini (rata-rata 16), bermain basket bersama, lalu mengadu ketangkasan bermain game komputer yang penuh fantasi pertarungan antara demon dengan slayer (pemburu kejahatan). Di sebuah apartemen lantai 9 di kawasan jalan Damai, mereka berdiskusi dunia kejahatan versus dunia kebaikan. Pemimpin diskusi adalah Kun Wataya,16, yang fasih betul berbicara dunia ghoib.  Rupanya bakat ini diturunkan dari sang nenek,68, yang sering dimintai pertolongan menjadi “medium” dengan dunia arwah.

Kun mengambil prakarsa untuk melakukan saresehan-medium  setiap “jumat” – dan acara mencapai puncak ketika sang Nenek membantunya untuk segera diisi arwah dunia lain. Lama kelamaan- Kun dianggap pemimpin berkharisma sakti sehingga ucapannya mulai didengarkan.  Sebagai penganut Tao <?> mereka malahan menamakan kamar Kun sebagai kuil yang diberi nama “Sheng LengFu” alias Kuil Naga Sakti.

Lazimnya dunia spiritual selalu saja membentuk opini bahwa jaman ini adalah jaman sebutlah Kalabendu, jaman kegelapan sehingga diperlukan para “hero” – untuk menyelamatkan dunia dan kebathilan dan kezoliman manusia. Lalu Juni tahun lalu (2008), Kun mengajak teman-temannya melakukan meditasi sampai badan halus mereka mampu menjadi pengusir setan jahat yang akan datang dalam ujud salah satunya perang dunia III dan menyelamatkan duni dari kehancuran yang dirancang secara sistematik.  Tidak banyak yang lulus dalam pendadaran ini. Maka jalan pintasnya adalah anggota geng diwajibkan melakukan terjun bebas dari atap gedung sampai tewas.

Pada hari yang ditentukan yaitu 22 Austus 2008, Geng bunuh diri yang dibentuk sejak 2006 ini mulai melakukan upacara membakar daging alias barbeque di kasawan Pasir Ris Singapura. Di tengah upacara yang tepatnya pesta, Andy seorang dari sembilan anggota mulai ketakutan. Ia sampai nggeloso di lantai lalu nggedruk-nggedruk kakinya menangis memohon agar niat gila ditunda. Sebagai Jawaban, Kun dan Chan temannya memanjat gedung yang sayangnya terkunci sehingga acara terjun bebas demi pencucian dosa, nyaris di kansel. Akhirnya diputuskan untuk melompat dari jendela lantai 9 tempat sang pemimpin tinggal.

Kun tewas ditempat sementara Hong masih merintih kesakitan. Carl salah seorang anggota menemani Hong dalam perjalanan ke rumah sakit. Wajahnya dingin menatap kawannya mengerang. Tidak satu patah katapun ia ucapkan untuk menentramkan temannya “untuk apa, dia sudah teriak-teriak kesakitan, toh tulang lehernya patah dan tidak ada harapan..”

Carl termasuk “teroris” di sekolahannya.  Selain banyak bolos, terhitung cuma barang 100 hari ia sekolah dalam setahun. Pelajaran disekolah yang ia terima cuma memperhatikan bulu hidung milik kepala sekolah yang keluar masuk saat mengajar.

Publik Singapura terang saja gempar, anak-anak melakukan bunuh  diri dan menyaksikan temannya sekarat seperti melihat bus datang dan pergi dari terminal.  Lalu permainan Video game dituding penyebabnya.

Dalam sidang yang dilakukan bulan September ini, pihak famili Bos Geng Wijaya yaitu keluarga Kun Witaya tidak hadir dalam persidangan. Sang Nenek yang membesarkan bocah sejak orang tuanya bercerai ini menjawab singkat: “Cucu saya sudah tiada setahun lalu mengapa harus diungkit kembali?..” – Ada dugaan, Kun memang mendalami ilmu Tao dengan cara berbeda, plus dirasuki kemarahan akibat kedua orang tua bercerai.

Advertisements